Kondisi mendekati hari kiamat kelak, karena banyaknya fitnah, peperangan, pembunuhan dan timbangan berkurang. Maksud dari timbangan berkurang adalah perbandingan antara wanita dan pria tidak seimbang.
Jika banyak cobaan dan peperangan yang dilakukan manusia, timbangan itu tentunya berkurang. Banyak laki laki terbunuh sehingga yang tersisa banyak wanita karena laki laki memang ditugaskan untuk berperang. Dengan demikian yang terbunuh kebanyakan adalah kaum laki laki, bukan wanita.Para wanita tidak ikut serta dalam banyak peperangan sehingga para wanita itu mendatangi laki laki yang masih tersisa. Tidak ada seorangpun saat itu yang dapat mencegahnya dengan agama dan budi pekerti. Dikatakan bahwa pada saat itu, satu laki laki berbanding empat puluh hingga lima puluh wanita. Setiap kali para wanita itu menjumpai laki laki , mereka akan mengatakan, “Nikahilah aku, nikahilah aku !”
صحيح البخاري ١٣٢٥: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَطُوفُ الرَّجُلُ فِيهِ بِالصَّدَقَةِ مِنْ الذَّهَبِ ثُمَّ لَا يَجِدُ أَحَدًا يَأْخُذُهَا مِنْهُ وَيُرَى الرَّجُلُ الْوَاحِدُ يَتْبَعُهُ أَرْبَعُونَ امْرَأَةً يَلُذْنَ بِهِ مِنْ قِلَّةِ الرِّجَالِ وَكَثْرَةِ النِّسَاءِ
Shahih Bukhari : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pasti akan datang pada manusia suatu zaman yang ketika seseorang berkeliling membawa shadaqah emas, lalu ia tidak mendapati seseorang yang mau menerimanya lagi. Lalu akan terlihat satu orang laki-laki akan diikuti oleh empat puluh orang wanita, yang mereka mencari kepuasan dengannya karena sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya wanita.”
atau dalam hadits lainnya, dari Anas Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Di antara tanda tanda kiamat adalah berkurangnya ilmu, munculnya kebodohan, tersebarnya perzinahan, banyak wanita, dan sedikitnya laki laki sehingga lima puluh wanita mempunyai satu laki laki” (HR Bukhari)
Pengetahuan tetap ada pada Allah SWT – Mungkin kondisi ini tidak akan terjadi dalam satu waktu atau satu zaman, tetapi bersambung hingga mendekati tanda tanda besar menjelang kiamat . Tanda tandanya adalah banyak perzinaan, yang juga merupakan tanda tanda kiamat. Sedangkan, perzinaan itu tidak akan terjadi kecuali jumlah wanita lebih banyak dibanding lelaki. Akhirnya , setiap laki laki memiliki empat puluh – lima puluh wanita sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut.
Sumber : Asyrath As Sa’ah Al Alamat Ash Shugra wa Al Wustha, Mahir Ash Shufiy
Read More..
Wednesday, July 24, 2013
Kiai Hasyim Mengharamkan Ibadah Haji
Ketika terjadi agresi Belanda sekitar tahun1946-1947 umat Islam risau karena perjalanan haji terhenti, yang diakibatkan oleh perang, sehingga tidak menjamin keamanan para jamaah. Melihat situasi itu Gubernur Van der Plaas segera mengambil tindakan untuk menolong umat Islam. Belanda mengumumkan bagi yang hendak melaksanakan ibadah haji disediakan fasilitas selengkapnya dan dijamin keamanannya.
Tentu saja tawaran itu menggoda umat Islam yang kebetulan selama beberapa tahun dalam gelora revolusi itu perjalanan ibadah haji terganggu, saat ini Belanda menjamin fasilitas untuk mereka, maka banyak yang mendaftar untuk menunaikan ibadah haji.
Di tengah kegairahan umat Islam untuk berhaji itu tiba-tiba Rois Akbar NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa melakukan ibadah haji saat ini hukumnya haram. Ibadah haji memang sebuah kewajiban bila syarat rukunnya terlengkapi. Sementara saat ini Indonesia dalam keadaan perang, kapal sebagai sarana transportasi haji belum dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karena itu bila pergi haji naik kapal milik orang kafir (Belanda) maka hukumnya haram dan hajinya tidak sah.
Fatwa itu membuat umat Islam tertegun, tetapi bagaimanapun dengan hujjah-nya yang kuat dan sesuai nalar, maka seberat apapun fatwa itu mesti ditaati, sehingga banyak yang membatalkan perjalanan hajinya. Tentu saja hal itu dan membuaat Belanda geram, bukan karena usaha pelayarannya tidak laku, tetapi lebih penting lagi usahanya untuk mempengaruhi hati umat Islam agar tidak memihak pada republik pimpinan Soekarno-Hatta dengan memberikan simpati pada Belanda.
Di situlah kepekaan seorang ulama pewaris nabi, bagaimana ia tahu bahwa tujuan Van der Plaas membantu umat Islam dalam menjalankan rukun Islam itu bukan untuk menolong, tetapi sebuah tipu muslihat untuk mengalihkan kesetiaan pada bangsa sendiri. Haji politis semacam itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Sebagai seorang imam yang berpengaruh, maka fatwanya yang kontroversial itu tetap diikuti. []
(Mun’im DZ)
Read More..
Tentu saja tawaran itu menggoda umat Islam yang kebetulan selama beberapa tahun dalam gelora revolusi itu perjalanan ibadah haji terganggu, saat ini Belanda menjamin fasilitas untuk mereka, maka banyak yang mendaftar untuk menunaikan ibadah haji.
Di tengah kegairahan umat Islam untuk berhaji itu tiba-tiba Rois Akbar NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa melakukan ibadah haji saat ini hukumnya haram. Ibadah haji memang sebuah kewajiban bila syarat rukunnya terlengkapi. Sementara saat ini Indonesia dalam keadaan perang, kapal sebagai sarana transportasi haji belum dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karena itu bila pergi haji naik kapal milik orang kafir (Belanda) maka hukumnya haram dan hajinya tidak sah.
Fatwa itu membuat umat Islam tertegun, tetapi bagaimanapun dengan hujjah-nya yang kuat dan sesuai nalar, maka seberat apapun fatwa itu mesti ditaati, sehingga banyak yang membatalkan perjalanan hajinya. Tentu saja hal itu dan membuaat Belanda geram, bukan karena usaha pelayarannya tidak laku, tetapi lebih penting lagi usahanya untuk mempengaruhi hati umat Islam agar tidak memihak pada republik pimpinan Soekarno-Hatta dengan memberikan simpati pada Belanda.
Di situlah kepekaan seorang ulama pewaris nabi, bagaimana ia tahu bahwa tujuan Van der Plaas membantu umat Islam dalam menjalankan rukun Islam itu bukan untuk menolong, tetapi sebuah tipu muslihat untuk mengalihkan kesetiaan pada bangsa sendiri. Haji politis semacam itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Sebagai seorang imam yang berpengaruh, maka fatwanya yang kontroversial itu tetap diikuti. []
(Mun’im DZ)
Read More..
Wasiat Nabi : Jangan Marah
(Syarh Hadits Ke-16 Arbain anNawawiyyah)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”.(HR. al-Bukhari)
PENJELASAN HADITS
Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan meminta diberi wasiat. Nabi mewasiatkan kepadanya untuk jangan marah. Hal itu diulangi beberapa kali, menunjukkan pentingnya wasiat tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa menahan amarah memiliki kedudukan, manfaat, dan keutamaan yang tinggi. Sebagian ulama’ menyatakan bahwa wasiat Nabi disesuaikan dengan keadaan orang yang meminta wasiat. Orang yang meminta wasiat tersebut adalah seorang pemarah, maka Nabi memberikan wasiat kepadanya agar jangan marah.
“Janganlah engkau marah”, kata sebagian para Ulama’ mengandung 2 makna:
1. Latihlah dirimu untuk senantiasa bersikap sabar dan pemaaf, jangan jadi orang yang mudah marah.
2. Jika timbul perasaan marah dalam dirimu, kendalikan diri, tahan ucapan dan perbuatan agar jangan sampai terjadi hal-hal yang engkau sesali nantinya. Tahan diri agar jangan sampai berkata atau berbuat hal-hal yang tidak diridhai Allah. (disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di)
MARAH SUMBER KEBURUKAN
Dalam hadits riwayat Ahmad, laki-laki yang meminta wasiat kepada Nabi itu berkata: “(kemudian aku memikirkan wasiat Nabi tersebut), ternyata kemarahan adalah mencakup keburukan seluruhnya”.
Jika seseorang marah dan tidak berusaha untuk mengendalikannya, ia akan berbicara atau berbuat di luar kesadaran sehingga nanti akan ia sesali. Betapa banyak kalimat talak diucapkan suami karena marah, dan setelah kemarahannya mereda ia sangat menyesal. Ada juga orangtua yang sangat marah kepada anaknya sehingga memukul dan menganiayanya, akibatnya anaknya menjadi cacat. Betapa banyak kemarahan menyebabkan hubungan persaudaraan menjadi putus, harta benda dirusak dan dihancurkan. Semua itu menunjukkan bahwa kemarahan yang tidak dikendalikan akan menyebabkan keburukan-keburukan.
KEUTAMAAN MENAHAN AMARAH
Menahan amarah adalah sebab memperoleh ampunan Allah dan surga-Nya:
Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan (hartanya) di waktu lapang atau susah, dan orang-orang yang menahan amarah, dan bersikap pemaaf kepada manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (Q.S Ali Imran:133-134)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga (H.R at-Thobarony dan dishahihkan oleh al-Mundziri)
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, Allah akan panggil ia di hadapan para makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari (terbaik) yang ia inginkan (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Sahabat Nabi Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata: Tidak ada luapan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah selain daripada luapan kemarahan yang ditahan oleh seseorang hamba demi menggapai wajah Allah (riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)
APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA MARAH
Jika seseorang mulai tersulut emosinya untuk marah, hal yang harus dilakukan untuk menahan atau meredakan
kemarahan adalah:
1. Diam, tidak berkata apa-apa Jika engkau marah, diamlah (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albany).
2. Mengingat-ingat keutamaan yang sangat besar karena menahan amarah.
3. Mengucapkan ta’awwudz: A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim.
Nabi pernah melihat dua orang bertikai dan saling mencela, sehingga timbul kemarahan dari salah satunya. Kemudian Nabi menyatakan: Aku sungguh tahu suatu kalimat yang bisa menghilangkan (perasaan marahnya):A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim (H.R al-Bukhari dan Muslim)
4. Merubah posisi : dari berdiri menjadi duduk, dari duduk menjadi berbaring.
Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri hendaknya ia duduk. Jika dengan itu kemarahan menjadi hilang (itulah yang diharapkan). Jika masih belum hilang, hendaknya berbaring (H.R Abu Dawud)
Faidah : hadits yang menyatakan bahwa jika seseorang marah hendaknya berwudhu’ dilemahkan oleh sebagian Ulama’ di antaranya Syaikh al-Albany dalam Silsilah al-Ahaadits ad-Dhaifah no 582.
MARAH DALAM HAL SYARIAT ALLAH DILANGGAR
Bukanlah artinya seseorang tidak boleh marah sama sekali. Marah ketika ada penyelisihan terhadap syariat Allah adalah suatu hal yang diharapkan.
Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membalas perlakuan buruk terhadap diri pribadi beliau, namun jika ada penyelisihan terhadap syariat Allah, beliau bersikap marah dan bertindak dengan tegas. Kemarahan beliau adalah karena Allah.
Ummul Mu’minin ‘Aisyah –radliyallaahu ‘anha- menyampaikan kepada kita:
“ Tidaklah Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam diberi pilihan di antara 2 hal kecuali beliau ambil yang paling mudah di antara keduanya selama tidak ada (unsur) dosa. Jika ada(unsur) dosa, beliau adalah manusia yang paling jauh darinya. Tidaklah Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam membalas (ketika disakiti) untuk dirinya sendiri, namun jika hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, beliau membalas untuk Allah ‘Azza wa Jalla “(H.R AlBukhari-Muslim)
Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah marah ketika melihat ada gambar makhluk bernyawa di rumahnya, kemudian beliau bersabda:
Sesungguhnya para Malaikat (penyebar rahmat) tidaklah masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar (makhluk bernyawa), dan barangsiapa yang menggambar (makhluk bernyawa) akan diadzab pada hari kiamat dan dikatakan kepadanya: Hidupkan makhluk yang kalian ciptakan (H.R al-Bukhari no 2985).
Read More..
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”.(HR. al-Bukhari)
PENJELASAN HADITS
Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan meminta diberi wasiat. Nabi mewasiatkan kepadanya untuk jangan marah. Hal itu diulangi beberapa kali, menunjukkan pentingnya wasiat tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa menahan amarah memiliki kedudukan, manfaat, dan keutamaan yang tinggi. Sebagian ulama’ menyatakan bahwa wasiat Nabi disesuaikan dengan keadaan orang yang meminta wasiat. Orang yang meminta wasiat tersebut adalah seorang pemarah, maka Nabi memberikan wasiat kepadanya agar jangan marah.
“Janganlah engkau marah”, kata sebagian para Ulama’ mengandung 2 makna:
1. Latihlah dirimu untuk senantiasa bersikap sabar dan pemaaf, jangan jadi orang yang mudah marah.
2. Jika timbul perasaan marah dalam dirimu, kendalikan diri, tahan ucapan dan perbuatan agar jangan sampai terjadi hal-hal yang engkau sesali nantinya. Tahan diri agar jangan sampai berkata atau berbuat hal-hal yang tidak diridhai Allah. (disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di)
MARAH SUMBER KEBURUKAN
Dalam hadits riwayat Ahmad, laki-laki yang meminta wasiat kepada Nabi itu berkata: “(kemudian aku memikirkan wasiat Nabi tersebut), ternyata kemarahan adalah mencakup keburukan seluruhnya”.
Jika seseorang marah dan tidak berusaha untuk mengendalikannya, ia akan berbicara atau berbuat di luar kesadaran sehingga nanti akan ia sesali. Betapa banyak kalimat talak diucapkan suami karena marah, dan setelah kemarahannya mereda ia sangat menyesal. Ada juga orangtua yang sangat marah kepada anaknya sehingga memukul dan menganiayanya, akibatnya anaknya menjadi cacat. Betapa banyak kemarahan menyebabkan hubungan persaudaraan menjadi putus, harta benda dirusak dan dihancurkan. Semua itu menunjukkan bahwa kemarahan yang tidak dikendalikan akan menyebabkan keburukan-keburukan.
KEUTAMAAN MENAHAN AMARAH
Menahan amarah adalah sebab memperoleh ampunan Allah dan surga-Nya:
Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan (hartanya) di waktu lapang atau susah, dan orang-orang yang menahan amarah, dan bersikap pemaaf kepada manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (Q.S Ali Imran:133-134)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga (H.R at-Thobarony dan dishahihkan oleh al-Mundziri)
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, Allah akan panggil ia di hadapan para makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari (terbaik) yang ia inginkan (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Sahabat Nabi Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata: Tidak ada luapan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah selain daripada luapan kemarahan yang ditahan oleh seseorang hamba demi menggapai wajah Allah (riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)
APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA MARAH
Jika seseorang mulai tersulut emosinya untuk marah, hal yang harus dilakukan untuk menahan atau meredakan
kemarahan adalah:
1. Diam, tidak berkata apa-apa Jika engkau marah, diamlah (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albany).
2. Mengingat-ingat keutamaan yang sangat besar karena menahan amarah.
3. Mengucapkan ta’awwudz: A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim.
Nabi pernah melihat dua orang bertikai dan saling mencela, sehingga timbul kemarahan dari salah satunya. Kemudian Nabi menyatakan: Aku sungguh tahu suatu kalimat yang bisa menghilangkan (perasaan marahnya):A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim (H.R al-Bukhari dan Muslim)
4. Merubah posisi : dari berdiri menjadi duduk, dari duduk menjadi berbaring.
Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri hendaknya ia duduk. Jika dengan itu kemarahan menjadi hilang (itulah yang diharapkan). Jika masih belum hilang, hendaknya berbaring (H.R Abu Dawud)
Faidah : hadits yang menyatakan bahwa jika seseorang marah hendaknya berwudhu’ dilemahkan oleh sebagian Ulama’ di antaranya Syaikh al-Albany dalam Silsilah al-Ahaadits ad-Dhaifah no 582.
MARAH DALAM HAL SYARIAT ALLAH DILANGGAR
Bukanlah artinya seseorang tidak boleh marah sama sekali. Marah ketika ada penyelisihan terhadap syariat Allah adalah suatu hal yang diharapkan.
Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membalas perlakuan buruk terhadap diri pribadi beliau, namun jika ada penyelisihan terhadap syariat Allah, beliau bersikap marah dan bertindak dengan tegas. Kemarahan beliau adalah karena Allah.
Ummul Mu’minin ‘Aisyah –radliyallaahu ‘anha- menyampaikan kepada kita:
“ Tidaklah Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam diberi pilihan di antara 2 hal kecuali beliau ambil yang paling mudah di antara keduanya selama tidak ada (unsur) dosa. Jika ada(unsur) dosa, beliau adalah manusia yang paling jauh darinya. Tidaklah Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam membalas (ketika disakiti) untuk dirinya sendiri, namun jika hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, beliau membalas untuk Allah ‘Azza wa Jalla “(H.R AlBukhari-Muslim)
Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah marah ketika melihat ada gambar makhluk bernyawa di rumahnya, kemudian beliau bersabda:
Sesungguhnya para Malaikat (penyebar rahmat) tidaklah masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar (makhluk bernyawa), dan barangsiapa yang menggambar (makhluk bernyawa) akan diadzab pada hari kiamat dan dikatakan kepadanya: Hidupkan makhluk yang kalian ciptakan (H.R al-Bukhari no 2985).
Read More..
SESATNYA SYI'AH
10 poin yang diutarakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) tentang ciri-ciri kesesatan Syiah, (MUI Jawa Timur sudah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah Sesat).
Pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam. Dalam buku “40 Masalah Syiah”, sebuah buku yang ditulis oleh Renita AZ, istri Jalaludin Rahmat, menyatakan dengan jelas bahwa rukun iman org syiah itu berbeda dengan ahlu sunnah, rukun Iman orang syiah adalah tauhid, al-adl, al-ma’ad, imamah, dan nubuwwah. Begitu juga dengan rukun Islamnya. Dalam bukunya, Renita juga mengatakan rukun Islam orang syiah itu jumlahnya ada 13. Jika dirujuk langsung ke buku ulama syiah seperti dalam kitab Biharul Anwar jilid 11 pada halaman ke 542 karangan ulama syiah yaitu Al-Majlisi. Disitu disebutkan ada sebuah hadits yang bersumber dari Abu Said Al-Khudzri :”Manusia diperintahkan untuk melakukan 5 hal, tetapi justru manusia melakukan 4 hal, Mereka bertanya: Apa itu ya Abu Said? Shalat, zakat, haji dan puasa. Mereka bertanya lagi, “Satu hal yang ditinggalkan itu apa?” Yaitu hendaknya mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin. Maka, jika manusia meninggalkan hal ini, mereka telah kafir.” Konsep ini yang disebut oleh kelompok syiah dengan al-wilayah yaitu mencintai Ali bin Abi Thalib, membenci orang-orang yg dibenci Ali, mencintai orang-orang yang dicintai oleh para imam, dan mencintai apa yang dicintai dan membenci apa yang dibenci oleh kalangan syiah.
Maka, bagi kelompok syiah siapapun yang tidak mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin sesudah Rasulullah Saw. divonis kafir. Ustadz Anung menambahkan, “Jadi wajar kalo di Suriah, meskipun ada perbedaan antara syiah nusairiyah dengan syiah imamiyah/itsna asariyah tetapi pada prinsipnya sama, yaitu menjadikan orang-orang yang diluar syiah itu kafir,” ujar pakar bidang aqidah dan aliran sesat ini.
Kedua, meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil Al-Quran dan Sunnah. Kelompok syiah meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengumpulkan Al-Quran kecuali para imam. Dalam kitab Ushulul Kaafi disebutkan, “Laa yajma’ul quraan illa imaam”. Tidak ada yang mampu mengumpulkan kecuali imam-imam syiah. Mereka juga mengatakan para imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib. Aqidah mereka mengatakan kalau imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib, jika dia tidak tahu dia bukan imam. Aqidah ini tidak bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah, sehingga mereka temasuk dalam ciri kelompok sesat. Termasuk keyakinan kelompok syiah nusyairiyah yang mengatakan bahwa seluruh sahabat itu kafir dan Umar Bin Khattab ra. dikatakan sebagai “Ablasul Abaalis”, yaitu gembongnya iblis. Orang-orang Nusyairiyah itu berkeyakinan tidak ada haji, tidak ada shalat, tidak ada puasa, mereka menghalalkan khamr, menghalalkan zina, mereka mengharamkan ziyarah ke maqam Nabi Saw. hanya karena di kompleks makam Nabi Saw. ada makam Abubakar dan Umar radiyallahu ‘anhumaa.
Ketiga, meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran, mereka kelompok syiah mengatakan bahwa Al-Quran itu “Laa yazaalu yanzilu fii lailatul qadar”, Al-Quran (masih) senantiasa turun pada malam lailatul qadar. Sedangkan Ahlu sunnah wal jama’ah mengatakan Al-Quran itu sudah sempurna sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Swt. Dalam QS Al-Maidah ayat 5. “Alquran sudah sempurna, Islam sudah sempurna,” jelas Ustadz Anung. Beliau melanjutkan dalam kitab ‘Bihaarul Anwar’ disebutkan bahwa Quran syiah itu adalah ‘mushaf fatimah’ yang jumlahnya 17.000 ayat dalam kitab itu dinyatakan, “jumlahnya 3 kali lipat dari mushaf kalian. Bahasanya tidak serupa dengan mushaf kalian.”
Yang keempat, mengingkari otentisitas dan kebenaran Al-Quran. Kalangan syiah meyakini Al-Quran sudah tidak otentik, mereka menghujat pengumpulan yang dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan ra. dan mengkritk bahwa Al-Quran yang ada pada saat ini sudah tidak asli. Ustadz Anung melanjutkan hal itu diakui oleh kelompok syiah seperti yang terdapat dalam buku yang ditulis oleh Omar Hashem yang berjudul ‘Syiah Dihujat, Syiah Dicari’.
Yang kelima, menafsirkan Al-Quran tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir, dalam jilid ke 13 kitab “Bihaarul Anwar” yang dikarang oleh Al-Majlisi, ketika menafsirkan ayat,
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Lafadz .. yang berarti manusia, disitu ditafsirkan oleh orang syiah yaitu, Abu Bakar.
Lafadz “Ihdina shiratal mustaqim” ditafsirkan shiratal mustaqiim (jalan yang lurus) itu adalah Ali bin Abi Thalib, sehingga yang tidak mengikuti Ali bin abi thalib adalah golongan yang sesat dan bengkok.
Lafadz “Wa yaquulul kafiru yaa laiytani kuntu turooba” diganti oleh orang syiah menjadi “kuntu turoobiya”, hal ini mengacu kepada syiah adalah golongan Abu Turob. Abu turob ini adalah salah satu panggilan Nabi Saw. kepada Ali bin Abi Thalib karena pada suatu ketika Ali ra. pernah tidur di tanah kemudian Nabi saw membangunkannya dengan sebutan “Qum ya Aba Turob.” (Bangunlah wahai Abu Turob).
Keenam, mengingkari kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam, syiah menolak riwayat yang datang dari Aisyah dan Abu hurairah. Mereka menuduh Ummul mukminin Aisyah ra. sebagai pendusta dan hasad. Bahkan, Ustadz Anung menegaskan dalam buku ‘Antologi Islam’ yang ditulis oleh kalangan syiah, dikatakan bahwa Aisyah turut membunuh khalifah Utsman bin Affan. Dalam buku yang ditulis oleh Hasan bin Farhan Al-maliky yang di Indonesia diterjemahkan dengan judul “Pilih Islam Atau Mazhab?” buku itu menyatakan bahwa Muawiyah ra. bukan tergolong sahabat nabi. Ustadz Anung mengingatkan, “Jangan terjebak dengan kata malikinya padahal dia syiah,” ujar ustadz lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir ini.“la adalah tokoh pencaci para sahabat seperti Abubakar, Umar dan Utsman, dan tokoh ini sering dijadikan rujukan oleh para tokoh syiah termasuk Husein Alatas,” tegas beliau.
Ketujuh, melecehkan dan mendustakan Nabi saw. Dalam hal ini kelompok syiah gemar sekali menyerang, menghina dan melecehkan istri Nabi Saw padahal menghina Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr ra. sama dengan menghina Nabi Saw, Aisyah dikatakan sebagai pendosa, pezina, dsb. Ketika mereka menghina istri nabi, sahabat nabi secara tidak langsung berarti menghina Nabi Saw.
Kedelapan, mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. Sulaiman Nasir Al-Ulwan mengutip pernyataan salah seorang tokoh syiah rafidhah yaitu, Ni’matullah Aljazairi yang mengatakan, ”Barang siapa yang punya tuhan dan tuhannya mengakui Abu bakar sebagai khalifah sesudah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Maka, tuhannya bukan tuhan kita. Dan barangsiapa yang memiliki nabi tetapi nabinya mengakui bahwa Abu bakar adalah khalifah sesudah Nabi Muhammad Saw. wafat, maka nabinya itu bukan nabi kita. “Konsep ketuhanan dan kenabian syiah beda dengan ahlu sunnah,” lanjut ustadz Anung.
Kesembilan, mengurangi dan atau menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan oleh syariat. Hal ini jelas dilakukan oleh kelompok syiah secara terang-benderang. Syiah nusairiyah di Suriah tidak shalat, zakatnya lain, hajinya beda, mereka halalkan zina, riba, dst. Syiah Imamiyah (rafidhah) meyakini adanya nikah mut’ah. Ustadz Anung menceritakan ketika diadakan debat di Radio Dakta Bekasi dengan kelompok Ikatan jamaah Ahlul bait Indonesia (IJABI) secara terus terang mereka mengakui bahwa nikah mutah itu halal.
Dan yang terakhir yang kesepuluh, ciri-ciri dari aliran sesat menurut Majelis Ulama Indonesia adalah mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya. Dan ini telah dilakukan oleh orang syiah dengan doktrin nashibi-nya sebagaimana penjelasan diatas.
Read More..
Pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam. Dalam buku “40 Masalah Syiah”, sebuah buku yang ditulis oleh Renita AZ, istri Jalaludin Rahmat, menyatakan dengan jelas bahwa rukun iman org syiah itu berbeda dengan ahlu sunnah, rukun Iman orang syiah adalah tauhid, al-adl, al-ma’ad, imamah, dan nubuwwah. Begitu juga dengan rukun Islamnya. Dalam bukunya, Renita juga mengatakan rukun Islam orang syiah itu jumlahnya ada 13. Jika dirujuk langsung ke buku ulama syiah seperti dalam kitab Biharul Anwar jilid 11 pada halaman ke 542 karangan ulama syiah yaitu Al-Majlisi. Disitu disebutkan ada sebuah hadits yang bersumber dari Abu Said Al-Khudzri :”Manusia diperintahkan untuk melakukan 5 hal, tetapi justru manusia melakukan 4 hal, Mereka bertanya: Apa itu ya Abu Said? Shalat, zakat, haji dan puasa. Mereka bertanya lagi, “Satu hal yang ditinggalkan itu apa?” Yaitu hendaknya mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin. Maka, jika manusia meninggalkan hal ini, mereka telah kafir.” Konsep ini yang disebut oleh kelompok syiah dengan al-wilayah yaitu mencintai Ali bin Abi Thalib, membenci orang-orang yg dibenci Ali, mencintai orang-orang yang dicintai oleh para imam, dan mencintai apa yang dicintai dan membenci apa yang dibenci oleh kalangan syiah.
Maka, bagi kelompok syiah siapapun yang tidak mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin sesudah Rasulullah Saw. divonis kafir. Ustadz Anung menambahkan, “Jadi wajar kalo di Suriah, meskipun ada perbedaan antara syiah nusairiyah dengan syiah imamiyah/itsna asariyah tetapi pada prinsipnya sama, yaitu menjadikan orang-orang yang diluar syiah itu kafir,” ujar pakar bidang aqidah dan aliran sesat ini.
Kedua, meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil Al-Quran dan Sunnah. Kelompok syiah meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengumpulkan Al-Quran kecuali para imam. Dalam kitab Ushulul Kaafi disebutkan, “Laa yajma’ul quraan illa imaam”. Tidak ada yang mampu mengumpulkan kecuali imam-imam syiah. Mereka juga mengatakan para imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib. Aqidah mereka mengatakan kalau imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib, jika dia tidak tahu dia bukan imam. Aqidah ini tidak bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah, sehingga mereka temasuk dalam ciri kelompok sesat. Termasuk keyakinan kelompok syiah nusyairiyah yang mengatakan bahwa seluruh sahabat itu kafir dan Umar Bin Khattab ra. dikatakan sebagai “Ablasul Abaalis”, yaitu gembongnya iblis. Orang-orang Nusyairiyah itu berkeyakinan tidak ada haji, tidak ada shalat, tidak ada puasa, mereka menghalalkan khamr, menghalalkan zina, mereka mengharamkan ziyarah ke maqam Nabi Saw. hanya karena di kompleks makam Nabi Saw. ada makam Abubakar dan Umar radiyallahu ‘anhumaa.
Ketiga, meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran, mereka kelompok syiah mengatakan bahwa Al-Quran itu “Laa yazaalu yanzilu fii lailatul qadar”, Al-Quran (masih) senantiasa turun pada malam lailatul qadar. Sedangkan Ahlu sunnah wal jama’ah mengatakan Al-Quran itu sudah sempurna sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Swt. Dalam QS Al-Maidah ayat 5. “Alquran sudah sempurna, Islam sudah sempurna,” jelas Ustadz Anung. Beliau melanjutkan dalam kitab ‘Bihaarul Anwar’ disebutkan bahwa Quran syiah itu adalah ‘mushaf fatimah’ yang jumlahnya 17.000 ayat dalam kitab itu dinyatakan, “jumlahnya 3 kali lipat dari mushaf kalian. Bahasanya tidak serupa dengan mushaf kalian.”
Yang keempat, mengingkari otentisitas dan kebenaran Al-Quran. Kalangan syiah meyakini Al-Quran sudah tidak otentik, mereka menghujat pengumpulan yang dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan ra. dan mengkritk bahwa Al-Quran yang ada pada saat ini sudah tidak asli. Ustadz Anung melanjutkan hal itu diakui oleh kelompok syiah seperti yang terdapat dalam buku yang ditulis oleh Omar Hashem yang berjudul ‘Syiah Dihujat, Syiah Dicari’.
Yang kelima, menafsirkan Al-Quran tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir, dalam jilid ke 13 kitab “Bihaarul Anwar” yang dikarang oleh Al-Majlisi, ketika menafsirkan ayat,
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Lafadz .. yang berarti manusia, disitu ditafsirkan oleh orang syiah yaitu, Abu Bakar.
Lafadz “Ihdina shiratal mustaqim” ditafsirkan shiratal mustaqiim (jalan yang lurus) itu adalah Ali bin Abi Thalib, sehingga yang tidak mengikuti Ali bin abi thalib adalah golongan yang sesat dan bengkok.
Lafadz “Wa yaquulul kafiru yaa laiytani kuntu turooba” diganti oleh orang syiah menjadi “kuntu turoobiya”, hal ini mengacu kepada syiah adalah golongan Abu Turob. Abu turob ini adalah salah satu panggilan Nabi Saw. kepada Ali bin Abi Thalib karena pada suatu ketika Ali ra. pernah tidur di tanah kemudian Nabi saw membangunkannya dengan sebutan “Qum ya Aba Turob.” (Bangunlah wahai Abu Turob).
Keenam, mengingkari kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam, syiah menolak riwayat yang datang dari Aisyah dan Abu hurairah. Mereka menuduh Ummul mukminin Aisyah ra. sebagai pendusta dan hasad. Bahkan, Ustadz Anung menegaskan dalam buku ‘Antologi Islam’ yang ditulis oleh kalangan syiah, dikatakan bahwa Aisyah turut membunuh khalifah Utsman bin Affan. Dalam buku yang ditulis oleh Hasan bin Farhan Al-maliky yang di Indonesia diterjemahkan dengan judul “Pilih Islam Atau Mazhab?” buku itu menyatakan bahwa Muawiyah ra. bukan tergolong sahabat nabi. Ustadz Anung mengingatkan, “Jangan terjebak dengan kata malikinya padahal dia syiah,” ujar ustadz lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir ini.“la adalah tokoh pencaci para sahabat seperti Abubakar, Umar dan Utsman, dan tokoh ini sering dijadikan rujukan oleh para tokoh syiah termasuk Husein Alatas,” tegas beliau.
Ketujuh, melecehkan dan mendustakan Nabi saw. Dalam hal ini kelompok syiah gemar sekali menyerang, menghina dan melecehkan istri Nabi Saw padahal menghina Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr ra. sama dengan menghina Nabi Saw, Aisyah dikatakan sebagai pendosa, pezina, dsb. Ketika mereka menghina istri nabi, sahabat nabi secara tidak langsung berarti menghina Nabi Saw.
Kedelapan, mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. Sulaiman Nasir Al-Ulwan mengutip pernyataan salah seorang tokoh syiah rafidhah yaitu, Ni’matullah Aljazairi yang mengatakan, ”Barang siapa yang punya tuhan dan tuhannya mengakui Abu bakar sebagai khalifah sesudah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Maka, tuhannya bukan tuhan kita. Dan barangsiapa yang memiliki nabi tetapi nabinya mengakui bahwa Abu bakar adalah khalifah sesudah Nabi Muhammad Saw. wafat, maka nabinya itu bukan nabi kita. “Konsep ketuhanan dan kenabian syiah beda dengan ahlu sunnah,” lanjut ustadz Anung.
Kesembilan, mengurangi dan atau menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan oleh syariat. Hal ini jelas dilakukan oleh kelompok syiah secara terang-benderang. Syiah nusairiyah di Suriah tidak shalat, zakatnya lain, hajinya beda, mereka halalkan zina, riba, dst. Syiah Imamiyah (rafidhah) meyakini adanya nikah mut’ah. Ustadz Anung menceritakan ketika diadakan debat di Radio Dakta Bekasi dengan kelompok Ikatan jamaah Ahlul bait Indonesia (IJABI) secara terus terang mereka mengakui bahwa nikah mutah itu halal.
Dan yang terakhir yang kesepuluh, ciri-ciri dari aliran sesat menurut Majelis Ulama Indonesia adalah mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya. Dan ini telah dilakukan oleh orang syiah dengan doktrin nashibi-nya sebagaimana penjelasan diatas.
Read More..
Sunday, June 16, 2013
Yang Bikin Bahagia Dunia Akhirat
Dalam doa-doa yang kita panjatkan, selalu terselip harapan agar kita bisa hidup bahagia di dunia dan diakhirat ya. Tetapi, hampir
setengah dari usia kita ini dihabiskan dalam pekerjaan yang menyita waktu dan perhatian sedemikian banyaknya. Hampir separuh dari waktu ‘bangun’ kita digunakan untuk berkutat dengan urusan dunia. Selebihnya lagi untuk tidur, bermain dan beristirahat. Hanya sedikit untuk beribadah. Bagaimana bisa menyeimbangkan kebahagiaan didunia dan akhirat jika kita lebih condong pada pekerjaan, bukan? Kenyataannya, pekerjaan ini telah mengurung kita dalam kesibukan yang tiada tara. Tidak berdaya kita untuk meninggalkannya, karena hidup kita ditopang sepenuhnya oleh hasil yang kita peroleh dari pekerjaan ini. Mungkin akan lain
ceritanya jika kita punya profesi yang bisa membuat bahagia didunia dan diakhirat. Supaya otomatis bisa kita dapatkan keduanya. Tapi, adakah profesi yang seperti itu dalam kehidupan nyata?
Salah satu klien saya adalah sebuah perusahaan yang mulai dibangun dari nol oleh pendirinya. Dalam beberapa puluh tahun berikutnya perusahaan itu tumbuh secara signifikan menjadi sebuah bisnis raksasa yang bukan hanya produknya dikenal dimana-mana. Melainkan juga dilirik oleh para investor didalam maupun luar negeri. Diantara sekian banyak hal yang menarik adalah; masih ada karyawan yang bekerja disana sejak perusahaan itu didirikan beberapa puluh tahu yang lalu. Buat saya ini menarik, karena sejak beliau bekerja dikala masih muda dulu hingga diusianya seperti sekarang ini lha kok orang ini tampak sangat menikmati pekerjaannya.
Beliau sebenarnya punya kesempatan untuk pindah ke perusahaan lain sehingga bisa mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. Soalnya,
banyak perusahaan baru di bidang yang sama mengikuti jejak keberhasilan perusahaan itu. Tentu keahliannya sangat dihargai oleh perusahaan-perusahaan baru itu. Tapi dia tidak tergoda untuk bermigrasi. Ini, agak bertolak belakang dengan kaum professional pada umumnya. Saya, cukup banyak melihat mereka yang bekerja dengan berat hati. Boro-boro bergembira ria selama menjalani hari-hari kerjanya itu. Untuk sekedar bangun lebih pagi pun masih banyak yang merasa berat. Membayangkan hari itu akan mengerjakan banyak tugas. Mengingat hari itu akan bertemu dengan boss yang tidak disukainya. Melamunkan betapa penghasilannya selama ini hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja. Hanya sedikit yang benar-benar menikmati pekerjaannya. Kebanyakan bekerja
hanya setengah hati saja.
Hampir bisa dipastikan bahwa ketika seseorang bekerja setengah hati – dengan alasan apapun – maka dia tidak akan tertarik
untuk mendayagunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Karena setengah hati itu, kerjanya juga ya setengah hati dong. Karenanya, usahanya pun paling banyak cuman setengah dari usaha yang sebenarnya bisa dilakukan. Karena usahanya pun cuman setengahnya, maka hasilnya pasti tidak maksimal. Maka sudah jelas sekali jika kapasitas dirinya yang agung dan membumbung itu tidak didemonstrasikannya. Walhasil, management. Atasan. Kolega. Maupun pelangggan dan orang-orang disekitarnya sama sekali tidak melihat dirinya sebagai seorang pribadi yang memiliki potensi diri yang tinggi. Maka mereka pun kurang menghargainya.
Kepercayaan yang didapatkannya pun hanya sedikit saja.
Karena kurang dipercaya ini, maka mereka pun penghasilannya sedikit. Lalu mereka merasa kecewa. Merasa bahwa keberadaannya
di kantor itu sudah disia-siakan. Sehingga semakin malaslah dia untuk melakukan hal terbaik di kantornya. Semakin malas itu, semakin jelek pula kinerjanya. Dan semakin buruk pula penilaian atasan kepadanya. Semakin jauh dia dari peluang dan kesempatan untuk memperbaiki nasibnya. Dan semakin lama, inflasi semakin membumbung tinggi. Tidak lagi bisa diimbangi dengan kenaikan gaji normal setahun sekali. Sehingga tahun demi tahun berlalu menuju kepada kesuraman yang tiada terperikan. Mereka, menjadi semakin pesimis melihat kehidupannya dimasa depan. “Hadduh, kalau begini caranya; bagaimana mungkin kehidupan gue bisa semakin membaik?!” Lalu mereka menjadi panik. Bisa Anda bayangkan akhir kisah orang ini?
Lain sekali dengan sahabat saya yang diceritakan tadi itu. Tampaknya, beliau sudah siap menghadapi masa pensiun yang hanya tinggal beberapa tahun lagi itu. Wajahnya, sama sekali tidak menampakkan kekhawatiran. Santai saja tuch. Oh, mungkin karena kedudukannya sudah sangat tinggi? Tidak juga. Biasa-biasa saja kok. Mungkin gajinya sudah selangit? Juga tidak. Malahan para professional baru yang direkrut belakangan mendapatkan penawaran gaji yang lebih tinggi dari dirinya yang sudah bersama perusahaan itu sejak mulai beroperasi. “Jadi, apa yang menjadikan beliau sedemikian tegar menjalani karir profesionalnya?” Begitu saya bertanya-tanya. Sampai akhirnya saya menemukan bahwa, ada 3 hal yang dilakukan oleh beliau. Anda ingin mengetahuinya juga? Baiklah. Kita simak satu per satu.
Pertama, beliau memulainya dengan pertanyaan ini; kenapa saya bekerja disini?Kitalah yang memilih untuk bekerja disini bukan? Tidak ada orang yang memaksa kita melakukannya. Kalau pun dulu ada yang menyuruh atau merekomendasikan, tetap saja kita sendiri yang membuat keputusan bekerja di sini atau tidak. Jadi sahabatku, bekerja disini ini adalah keputusan yang kita buat sendiri kan? Oleh karenanya, kita mesti belajar mengambil tanggungjawab atas keputusan ini. Jangan sampai kita sudah memilih untuk bekerja disini, tapi kita hanya setengah hati saja dalam menjalaninya.
Selain menunjukkan jika kita tidak bertanggungjawab atas pilihan kita sendiri, kita juga tidak akan berhasil meraih apa yang kita
impikan. Minimal, kita tidak akan menjadi karyawan yang berprestasi tinggi di tempat kerja. Padahal, prestasi merupakan gambaran dari dedikasi. Dan dedikasi itu adalah mesin yang mendorong kita untuk melakukan yang terbaik melalui pendayagunaan secara optimal atas potensi diri yang kita miliki.
Kedua, beliau menjalani hari-hari kerjanya dengan ketekunan dan kesabaran. Alon-alon asal klakon, begitu teman saya bilang. Pelan-pelan dijalani saja dengan tekun. Insya Allah akan ada hasilnya. Dan memang benar lho. Ketika kita menjalani semua ini dengan tekun maka tanpa terasa, waktu berlalu sudah sedemikian jauh. Anda misalnya. Sudah berapa tahun bekerja? Tidak terasa kan, sudah sekian lama. Tentu akan ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan. Namun, jika ketekunan itu ditemani dengan
kesabaran, kita tetap bisa menjalaninya dengan senang hati. Perjalanan waktu pun membuat kita kebal dengan kesulitan dan hal-hal menjengkelkan. Kenyataannya, semua ketidaknyamanan itu bisa ditaklukkan dengan kesabaran. “Yang penting bekerja sebaik mungkin,” demikian pendapat sahabat kita ini. “Jika kita bekerja dengan baik, maka perusahaan akan melihat kita juga kok,” katanya lagi.
Ketiga, beliau senantiasa mengingat Tuhannya. Kepada siapa kita menggantungkan harapan? Kepada top management? Well, kenyataannya
top management tidak selalu bisa memenuhi apa yang kita harapkan. Kepada atasan? Kita tahu bahwa otoritas atasan itu sangat terbatas. Banyak hal yang tidak bisa dilakukannya untuk kita. Kalau pun bisa, belum tentu mereka mau melakukannya. Maka menggantungkan harapan kepada sesama mahluk itu sering menyebabkan kita kecewa. Persis seperti kekecewaan demi kekecewaan yang selama ini kita rasakan. Bukan salah mereka, melainkan kitanya saja yang keliru memilih tempat berharap. Karena kerja keras
kita itu ternyata tidak selalu secara otomatis membawa kita kepada keberuntungan. Seperti diisyaratkan dalam firman Tuhan dalam surah 62 (Al-Jumu’ah) ayat 10 ini: “Apabila sembahyangmu sudah ditunaikan. Maka bertebaranlah kamu dimuka bumi ini untuk mencari karunia Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak, agar kamu beruntung….”
Sahabatku. Kerja keras itu sangat penting nilainya. Namun untuk mendapatkan keberuntungan dari hasil kerja keras itu, kita harus memulainya dengan sembahyang meski mungkin hanya sekedar doa. Lalu ketika bekerja keras itu, kita pun mengiringinya dengan selalu
mengingat Allah. Adakah kita berani melakukan pekerjaan asal-asalan jika sebelum melakukannya kita menghadap Tuhan terlebih dahulu? Adakah selama bekerja itu kita akan berperilaku sesuka hati saja jika kita mengerjakannya sambil berdzikir mengingat Ilahi? Tidak mungkin ya. Karena dengan sembahyang itu kita bertekad untuk memulai pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Dan dengan
dzikir itu kita menjamin setiap pekerjaan dilakukan dengan tanggungjawab dan dedikasi sepenuh hati.
Maka wajar, jika diakhir pekerjaan itu; kita mempersembahkan hasil yang terbaik. Dan wajar pula, jika pada akhirnya kita; mendapatkan reward yang menyenangkan. Baik berupa bonus atau penghargaan dari perusahaan. Atau mungkin berupa kepercayaan untuk
memegang amanah yang lebih besar. Maupun imbalan tabungan pahala dari sisi Tuhan. Sehingga dengan pekerjaan dan profesi yang kita jalani ini. Kita bisa berbahagia didunia. Dan berbahagia pula diakhirat kelak. Jadi sahabatku, bukan jenis profesinya. Melainkan bagaimana kita menjalani dan mencurahkan dedikasi pada profesi itu. Sehingga apapun profesi Anda, maka Anda berpeluang besar untuk bahagia didunia dan akhirat. Insya Allah.
Salam hormat, Mari Berbagi Semangat!
Read More..
setengah dari usia kita ini dihabiskan dalam pekerjaan yang menyita waktu dan perhatian sedemikian banyaknya. Hampir separuh dari waktu ‘bangun’ kita digunakan untuk berkutat dengan urusan dunia. Selebihnya lagi untuk tidur, bermain dan beristirahat. Hanya sedikit untuk beribadah. Bagaimana bisa menyeimbangkan kebahagiaan didunia dan akhirat jika kita lebih condong pada pekerjaan, bukan? Kenyataannya, pekerjaan ini telah mengurung kita dalam kesibukan yang tiada tara. Tidak berdaya kita untuk meninggalkannya, karena hidup kita ditopang sepenuhnya oleh hasil yang kita peroleh dari pekerjaan ini. Mungkin akan lain
ceritanya jika kita punya profesi yang bisa membuat bahagia didunia dan diakhirat. Supaya otomatis bisa kita dapatkan keduanya. Tapi, adakah profesi yang seperti itu dalam kehidupan nyata?
Salah satu klien saya adalah sebuah perusahaan yang mulai dibangun dari nol oleh pendirinya. Dalam beberapa puluh tahun berikutnya perusahaan itu tumbuh secara signifikan menjadi sebuah bisnis raksasa yang bukan hanya produknya dikenal dimana-mana. Melainkan juga dilirik oleh para investor didalam maupun luar negeri. Diantara sekian banyak hal yang menarik adalah; masih ada karyawan yang bekerja disana sejak perusahaan itu didirikan beberapa puluh tahu yang lalu. Buat saya ini menarik, karena sejak beliau bekerja dikala masih muda dulu hingga diusianya seperti sekarang ini lha kok orang ini tampak sangat menikmati pekerjaannya.
Beliau sebenarnya punya kesempatan untuk pindah ke perusahaan lain sehingga bisa mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. Soalnya,
banyak perusahaan baru di bidang yang sama mengikuti jejak keberhasilan perusahaan itu. Tentu keahliannya sangat dihargai oleh perusahaan-perusahaan baru itu. Tapi dia tidak tergoda untuk bermigrasi. Ini, agak bertolak belakang dengan kaum professional pada umumnya. Saya, cukup banyak melihat mereka yang bekerja dengan berat hati. Boro-boro bergembira ria selama menjalani hari-hari kerjanya itu. Untuk sekedar bangun lebih pagi pun masih banyak yang merasa berat. Membayangkan hari itu akan mengerjakan banyak tugas. Mengingat hari itu akan bertemu dengan boss yang tidak disukainya. Melamunkan betapa penghasilannya selama ini hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja. Hanya sedikit yang benar-benar menikmati pekerjaannya. Kebanyakan bekerja
hanya setengah hati saja.
Hampir bisa dipastikan bahwa ketika seseorang bekerja setengah hati – dengan alasan apapun – maka dia tidak akan tertarik
untuk mendayagunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Karena setengah hati itu, kerjanya juga ya setengah hati dong. Karenanya, usahanya pun paling banyak cuman setengah dari usaha yang sebenarnya bisa dilakukan. Karena usahanya pun cuman setengahnya, maka hasilnya pasti tidak maksimal. Maka sudah jelas sekali jika kapasitas dirinya yang agung dan membumbung itu tidak didemonstrasikannya. Walhasil, management. Atasan. Kolega. Maupun pelangggan dan orang-orang disekitarnya sama sekali tidak melihat dirinya sebagai seorang pribadi yang memiliki potensi diri yang tinggi. Maka mereka pun kurang menghargainya.
Kepercayaan yang didapatkannya pun hanya sedikit saja.
Karena kurang dipercaya ini, maka mereka pun penghasilannya sedikit. Lalu mereka merasa kecewa. Merasa bahwa keberadaannya
di kantor itu sudah disia-siakan. Sehingga semakin malaslah dia untuk melakukan hal terbaik di kantornya. Semakin malas itu, semakin jelek pula kinerjanya. Dan semakin buruk pula penilaian atasan kepadanya. Semakin jauh dia dari peluang dan kesempatan untuk memperbaiki nasibnya. Dan semakin lama, inflasi semakin membumbung tinggi. Tidak lagi bisa diimbangi dengan kenaikan gaji normal setahun sekali. Sehingga tahun demi tahun berlalu menuju kepada kesuraman yang tiada terperikan. Mereka, menjadi semakin pesimis melihat kehidupannya dimasa depan. “Hadduh, kalau begini caranya; bagaimana mungkin kehidupan gue bisa semakin membaik?!” Lalu mereka menjadi panik. Bisa Anda bayangkan akhir kisah orang ini?
Lain sekali dengan sahabat saya yang diceritakan tadi itu. Tampaknya, beliau sudah siap menghadapi masa pensiun yang hanya tinggal beberapa tahun lagi itu. Wajahnya, sama sekali tidak menampakkan kekhawatiran. Santai saja tuch. Oh, mungkin karena kedudukannya sudah sangat tinggi? Tidak juga. Biasa-biasa saja kok. Mungkin gajinya sudah selangit? Juga tidak. Malahan para professional baru yang direkrut belakangan mendapatkan penawaran gaji yang lebih tinggi dari dirinya yang sudah bersama perusahaan itu sejak mulai beroperasi. “Jadi, apa yang menjadikan beliau sedemikian tegar menjalani karir profesionalnya?” Begitu saya bertanya-tanya. Sampai akhirnya saya menemukan bahwa, ada 3 hal yang dilakukan oleh beliau. Anda ingin mengetahuinya juga? Baiklah. Kita simak satu per satu.
Pertama, beliau memulainya dengan pertanyaan ini; kenapa saya bekerja disini?Kitalah yang memilih untuk bekerja disini bukan? Tidak ada orang yang memaksa kita melakukannya. Kalau pun dulu ada yang menyuruh atau merekomendasikan, tetap saja kita sendiri yang membuat keputusan bekerja di sini atau tidak. Jadi sahabatku, bekerja disini ini adalah keputusan yang kita buat sendiri kan? Oleh karenanya, kita mesti belajar mengambil tanggungjawab atas keputusan ini. Jangan sampai kita sudah memilih untuk bekerja disini, tapi kita hanya setengah hati saja dalam menjalaninya.
Selain menunjukkan jika kita tidak bertanggungjawab atas pilihan kita sendiri, kita juga tidak akan berhasil meraih apa yang kita
impikan. Minimal, kita tidak akan menjadi karyawan yang berprestasi tinggi di tempat kerja. Padahal, prestasi merupakan gambaran dari dedikasi. Dan dedikasi itu adalah mesin yang mendorong kita untuk melakukan yang terbaik melalui pendayagunaan secara optimal atas potensi diri yang kita miliki.
Kedua, beliau menjalani hari-hari kerjanya dengan ketekunan dan kesabaran. Alon-alon asal klakon, begitu teman saya bilang. Pelan-pelan dijalani saja dengan tekun. Insya Allah akan ada hasilnya. Dan memang benar lho. Ketika kita menjalani semua ini dengan tekun maka tanpa terasa, waktu berlalu sudah sedemikian jauh. Anda misalnya. Sudah berapa tahun bekerja? Tidak terasa kan, sudah sekian lama. Tentu akan ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan. Namun, jika ketekunan itu ditemani dengan
kesabaran, kita tetap bisa menjalaninya dengan senang hati. Perjalanan waktu pun membuat kita kebal dengan kesulitan dan hal-hal menjengkelkan. Kenyataannya, semua ketidaknyamanan itu bisa ditaklukkan dengan kesabaran. “Yang penting bekerja sebaik mungkin,” demikian pendapat sahabat kita ini. “Jika kita bekerja dengan baik, maka perusahaan akan melihat kita juga kok,” katanya lagi.
Ketiga, beliau senantiasa mengingat Tuhannya. Kepada siapa kita menggantungkan harapan? Kepada top management? Well, kenyataannya
top management tidak selalu bisa memenuhi apa yang kita harapkan. Kepada atasan? Kita tahu bahwa otoritas atasan itu sangat terbatas. Banyak hal yang tidak bisa dilakukannya untuk kita. Kalau pun bisa, belum tentu mereka mau melakukannya. Maka menggantungkan harapan kepada sesama mahluk itu sering menyebabkan kita kecewa. Persis seperti kekecewaan demi kekecewaan yang selama ini kita rasakan. Bukan salah mereka, melainkan kitanya saja yang keliru memilih tempat berharap. Karena kerja keras
kita itu ternyata tidak selalu secara otomatis membawa kita kepada keberuntungan. Seperti diisyaratkan dalam firman Tuhan dalam surah 62 (Al-Jumu’ah) ayat 10 ini: “Apabila sembahyangmu sudah ditunaikan. Maka bertebaranlah kamu dimuka bumi ini untuk mencari karunia Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak, agar kamu beruntung….”
Sahabatku. Kerja keras itu sangat penting nilainya. Namun untuk mendapatkan keberuntungan dari hasil kerja keras itu, kita harus memulainya dengan sembahyang meski mungkin hanya sekedar doa. Lalu ketika bekerja keras itu, kita pun mengiringinya dengan selalu
mengingat Allah. Adakah kita berani melakukan pekerjaan asal-asalan jika sebelum melakukannya kita menghadap Tuhan terlebih dahulu? Adakah selama bekerja itu kita akan berperilaku sesuka hati saja jika kita mengerjakannya sambil berdzikir mengingat Ilahi? Tidak mungkin ya. Karena dengan sembahyang itu kita bertekad untuk memulai pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Dan dengan
dzikir itu kita menjamin setiap pekerjaan dilakukan dengan tanggungjawab dan dedikasi sepenuh hati.
Maka wajar, jika diakhir pekerjaan itu; kita mempersembahkan hasil yang terbaik. Dan wajar pula, jika pada akhirnya kita; mendapatkan reward yang menyenangkan. Baik berupa bonus atau penghargaan dari perusahaan. Atau mungkin berupa kepercayaan untuk
memegang amanah yang lebih besar. Maupun imbalan tabungan pahala dari sisi Tuhan. Sehingga dengan pekerjaan dan profesi yang kita jalani ini. Kita bisa berbahagia didunia. Dan berbahagia pula diakhirat kelak. Jadi sahabatku, bukan jenis profesinya. Melainkan bagaimana kita menjalani dan mencurahkan dedikasi pada profesi itu. Sehingga apapun profesi Anda, maka Anda berpeluang besar untuk bahagia didunia dan akhirat. Insya Allah.
Salam hormat, Mari Berbagi Semangat!
Read More..
Khutbah Mengharukan, Usamah Seorang yang Ditelantarkan oleh Umat
Video yang diunggah di You Tube pada tanggal 5Juli 2011 ini memperlihatkan Khutbah Syaikh Muhammad Ali Al-Jazuli hafizhahullah yang berjudul Rajulun Khadzalathul Ummah (Seorang yang dikhianati Ummat).
Dalam video yang berdurasi 04:40 menit, Syaikh Muhammad menyampaikan khutbah yang mengharukan tetang Seorang Usamah yang dikhianati oleh Ummatnya. Berikut adalah petikan terjemahan:
"Usamah adalah seorang yang telah kita bunuh...Usamah adalah seorang yang telah dikhianati oleh pemerintah rezim dengan alasan anti-terorisme. Usamah adalah seorang yang telah ditelantarkan jama'ah Islam yang menuduh amalanya adalah ekstrim. Usamah adalah seorang yang telah dikhianati oleh wanita-wanita telanjang sedangkan ia berperang dan membela kehormatan mereka. Usah juga adalah orang yang dikhianati oleh mereka yang pergi memuji beliau sdangkn ia tidak memikul satu kilo untuk operasi istisyhadiyyah.
Mereka itu adalah orang-orang yang memuji Usamah di situs-situs internet akan tetapi ia tidak mempersembahkan amal seperti amal Usamah. MEREKA JUGA MENELANTARKAN DAN MEMBUNUHNYA.
Setiap kita punya andil dalam tertumpahnya darah Usamah. Apa yang kita lakukan untuk menolongnya. Dan apa yang telah kita lakukan untuk menolong muslimin bersamanya. Sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits shahih dalam musnad Imam Ahmad Saya tidak mengiranya kecuali pada diri Usamah.
"Sesungguhnya di belakng sungai ini (Afghanistan) seorang yang dipanggil Harits bin Harrats. Di depannya seorang yang dipanggil Manshur. Wajib yang medengar kabar ini menolongnya. Ia membentangkan kerajaan untuk keluarga Muhammad."
Adapun Harits maka dia adalah salah satu nama singa. Sedangkan kita tahu Usamah adalah salah satu nama singa.Adapun Harrats, maka di dalam bahasa Arab artinya Zarra' (para petani). Sedangkan Ladin dalam bahasa orang-orang Hadhramaut adalah Zarra'.
Sedangkan manshur, pertempuran pertama kali di Afghanistan melawan Amerika komandanya adalah MANSHUR NASHRALLAH.
Wajib bagi yang mendengar kabar ini menolongnya. Sebagaiman dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Saya tidak mengira dalam hal ini kecuali Usamah.
Tapi kita malah menelantarkannya wahai ikhwah. Kita mengkhianatinya lalu kita bersorak memuji operasinya. Kita bersorak Allahu Akbar Allahu Akbar!!
Ayah kita telah meninggal sekarang, apa yang kita lakukan?? Ayah kita telah meninggal.Apa yang kita lakukan??
Kemarin kita bisa bilang Usamah menyerang, Usmah memerangi, Usamah bertempur, Usamah mengancam. Siapa lagi yang akan mengancam (orang-orang kafir harbi) sekarang?? kita adalah bayi yang kehilangan induknya.
Kita tidak bisa berkata setelah kepergiannya, telah terjadi ini dan itu maka tunggulah pernyataan Usamah.."
Read More..
Dalam video yang berdurasi 04:40 menit, Syaikh Muhammad menyampaikan khutbah yang mengharukan tetang Seorang Usamah yang dikhianati oleh Ummatnya. Berikut adalah petikan terjemahan:
"Usamah adalah seorang yang telah kita bunuh...Usamah adalah seorang yang telah dikhianati oleh pemerintah rezim dengan alasan anti-terorisme. Usamah adalah seorang yang telah ditelantarkan jama'ah Islam yang menuduh amalanya adalah ekstrim. Usamah adalah seorang yang telah dikhianati oleh wanita-wanita telanjang sedangkan ia berperang dan membela kehormatan mereka. Usah juga adalah orang yang dikhianati oleh mereka yang pergi memuji beliau sdangkn ia tidak memikul satu kilo untuk operasi istisyhadiyyah.
Mereka itu adalah orang-orang yang memuji Usamah di situs-situs internet akan tetapi ia tidak mempersembahkan amal seperti amal Usamah. MEREKA JUGA MENELANTARKAN DAN MEMBUNUHNYA.
Setiap kita punya andil dalam tertumpahnya darah Usamah. Apa yang kita lakukan untuk menolongnya. Dan apa yang telah kita lakukan untuk menolong muslimin bersamanya. Sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits shahih dalam musnad Imam Ahmad Saya tidak mengiranya kecuali pada diri Usamah.
"Sesungguhnya di belakng sungai ini (Afghanistan) seorang yang dipanggil Harits bin Harrats. Di depannya seorang yang dipanggil Manshur. Wajib yang medengar kabar ini menolongnya. Ia membentangkan kerajaan untuk keluarga Muhammad."
Adapun Harits maka dia adalah salah satu nama singa. Sedangkan kita tahu Usamah adalah salah satu nama singa.Adapun Harrats, maka di dalam bahasa Arab artinya Zarra' (para petani). Sedangkan Ladin dalam bahasa orang-orang Hadhramaut adalah Zarra'.
Sedangkan manshur, pertempuran pertama kali di Afghanistan melawan Amerika komandanya adalah MANSHUR NASHRALLAH.
Wajib bagi yang mendengar kabar ini menolongnya. Sebagaiman dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Saya tidak mengira dalam hal ini kecuali Usamah.
Tapi kita malah menelantarkannya wahai ikhwah. Kita mengkhianatinya lalu kita bersorak memuji operasinya. Kita bersorak Allahu Akbar Allahu Akbar!!
Ayah kita telah meninggal sekarang, apa yang kita lakukan?? Ayah kita telah meninggal.Apa yang kita lakukan??
Kemarin kita bisa bilang Usamah menyerang, Usmah memerangi, Usamah bertempur, Usamah mengancam. Siapa lagi yang akan mengancam (orang-orang kafir harbi) sekarang?? kita adalah bayi yang kehilangan induknya.
Kita tidak bisa berkata setelah kepergiannya, telah terjadi ini dan itu maka tunggulah pernyataan Usamah.."
Read More..
Isa As In Action
Rasulullah SAW. Menggambarkan ciri ciri Isa As adalah sangat bagus, indah dan berwibawa . Wajahnya putih kemerah merahan.Jika menundukkan kepala, seperti air yang menetes, jika mendongakkan wajah, laksana mutiara.
Diriwayatkan oleh An Nuwas bin Sam’an , rasulullah SAW , bersabda , : “Allah menurunkan Isa as di atas menara putih, sebelah timur Damaskus antara dua malaikat yang berpakaian hijau dan memakai minyak za’faran seraya meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Jika dia menundukkan kepala, seperti air yang menetes dan jika mendongakkan kepala, laksana mutiara” (HR Muslim)
Diriwayatkan oleh Aqil bin Khalid ra, bahwa Rasulullah SAW menjelaskan saat saat turunnya Isa as, “ Kulitnya putih, rambutnya keriting, dan dadanya bidang” dalam riwayat lain dijelaskan,” Kulitnya lebih indah daripada kulit laki laki yang pernah kamu lihat. Rambutnya lebat dan bersih.” (HR Bukhari)
Tugas pertama yang harus dilakukan Isa as adalah membunuh Dajjal. Dajjal adalah masalah yang sangat besar, mengerikan, dan berbahaya. Oleh karena itu, tugas membunuh Dajjal adalah awal tugasnya, harus dilakukan secepatnya, tanpa ditunda tunda.
Kemudian, Isa as menghancurkan semua salib yang ada di dunia, untuk membatalkan klaim orang nasrani dan mengungkapkan kebenaran Ilahi bahwa sebenarnya dia tidak disalib sebagaimana mereka sangka. Kemudian nabi Isa as akan membunuh semua babi yang sangat diharamkan Allah Swt. Setelah itu Isa as akan menghapuskan Jizyah (pajak) bagi siapapun. Dalam Islam pajak hanya diberlakukan bagi agama bukan Islam dengan tujuan untuk melindungi umat beragama lain itu yang tinggal di negeri Muslim.
Hal itu ditunjukkan dengan turunnya nabi isa as ke dunia untuk mematahkan setiap gerakan yang berupaya menghancurkan agama Islam.
Isa as tidak mentolerin siapa pun untuk hidup di dunia ini jika bukan seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT dan RasulNya. Tugas Isa as yang diamanatkan oleh Allah SWT adalah menghabisi setiap orang yang tidak beriman kepadaNya sehingga yang Berjaya hanyalah agama yang benar , yaitu Islam.
صحيح البخاري ٣١٩٢: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ
{ وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا }
Dikisahkan dalam Shahih Bukhari : Telah bercerita kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ya’qub binIbrahim telah bercerita kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab bahwa Sa’id bin Al Musayyab mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam besabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, diprediksikan segera turun kepada kalian ‘Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah dan harta benda akan banyak tersebar sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerima (shadaqah) hingga pada masa itu satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan isinya”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; “Bacalah firman Allah jika kamu mau;
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا
“Tidak ada seorang pun di antara ahli kitab yang tidak beriman kepadanya (Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari kiamat, dia (Isa) akan menjadi saksi mereka.” (An-Nisa`: 159)
Dalam riwayat lain di shahih Muslim, Abu Hurairah berkata , Rasulullah SAW bersabda, “ Demi Allah, isa putra Maryam benar benar akan turun menjadi penguasa yang adil, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah (pajak). Unta betina yang masih muda benar benar dilepaskan dan tidak dikembangbiakan orang lagi. Isa benar benar akan menghilangkan permusuhan, kebencian dan kedengkian. Manusia benar benar diimbau untuk mengambil harta, tetapi tidak ada yang mau menerima harta.” (HR Muslim)
Sumber : Asyrath As Sa’ah Al Alamat Al Khubra – Mahir Ash Shufiy-
Read More..
Diriwayatkan oleh An Nuwas bin Sam’an , rasulullah SAW , bersabda , : “Allah menurunkan Isa as di atas menara putih, sebelah timur Damaskus antara dua malaikat yang berpakaian hijau dan memakai minyak za’faran seraya meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Jika dia menundukkan kepala, seperti air yang menetes dan jika mendongakkan kepala, laksana mutiara” (HR Muslim)
Diriwayatkan oleh Aqil bin Khalid ra, bahwa Rasulullah SAW menjelaskan saat saat turunnya Isa as, “ Kulitnya putih, rambutnya keriting, dan dadanya bidang” dalam riwayat lain dijelaskan,” Kulitnya lebih indah daripada kulit laki laki yang pernah kamu lihat. Rambutnya lebat dan bersih.” (HR Bukhari)
Tugas pertama yang harus dilakukan Isa as adalah membunuh Dajjal. Dajjal adalah masalah yang sangat besar, mengerikan, dan berbahaya. Oleh karena itu, tugas membunuh Dajjal adalah awal tugasnya, harus dilakukan secepatnya, tanpa ditunda tunda.
Kemudian, Isa as menghancurkan semua salib yang ada di dunia, untuk membatalkan klaim orang nasrani dan mengungkapkan kebenaran Ilahi bahwa sebenarnya dia tidak disalib sebagaimana mereka sangka. Kemudian nabi Isa as akan membunuh semua babi yang sangat diharamkan Allah Swt. Setelah itu Isa as akan menghapuskan Jizyah (pajak) bagi siapapun. Dalam Islam pajak hanya diberlakukan bagi agama bukan Islam dengan tujuan untuk melindungi umat beragama lain itu yang tinggal di negeri Muslim.
Hal itu ditunjukkan dengan turunnya nabi isa as ke dunia untuk mematahkan setiap gerakan yang berupaya menghancurkan agama Islam.
Isa as tidak mentolerin siapa pun untuk hidup di dunia ini jika bukan seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT dan RasulNya. Tugas Isa as yang diamanatkan oleh Allah SWT adalah menghabisi setiap orang yang tidak beriman kepadaNya sehingga yang Berjaya hanyalah agama yang benar , yaitu Islam.
صحيح البخاري ٣١٩٢: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ
{ وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا }
Dikisahkan dalam Shahih Bukhari : Telah bercerita kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ya’qub binIbrahim telah bercerita kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab bahwa Sa’id bin Al Musayyab mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam besabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, diprediksikan segera turun kepada kalian ‘Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah dan harta benda akan banyak tersebar sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerima (shadaqah) hingga pada masa itu satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan isinya”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; “Bacalah firman Allah jika kamu mau;
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا
“Tidak ada seorang pun di antara ahli kitab yang tidak beriman kepadanya (Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari kiamat, dia (Isa) akan menjadi saksi mereka.” (An-Nisa`: 159)
Dalam riwayat lain di shahih Muslim, Abu Hurairah berkata , Rasulullah SAW bersabda, “ Demi Allah, isa putra Maryam benar benar akan turun menjadi penguasa yang adil, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah (pajak). Unta betina yang masih muda benar benar dilepaskan dan tidak dikembangbiakan orang lagi. Isa benar benar akan menghilangkan permusuhan, kebencian dan kedengkian. Manusia benar benar diimbau untuk mengambil harta, tetapi tidak ada yang mau menerima harta.” (HR Muslim)
Sumber : Asyrath As Sa’ah Al Alamat Al Khubra – Mahir Ash Shufiy-
Read More..
Subscribe to:
Posts (Atom)