Saturday, September 3, 2011

Prasangka


Apa kebaikan yang ada dalam sebuah prasangka buruk?
Allah melarang kita berprasangka kepada sesama. Bahkan, prasangka buruk itu disebut sebagai bagian dari dosa. Jadi, masih diikutikah syak wasangka itu?

Terkadang hidup memang tidak bisa ditebak. Kadang sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya, ternyata terjadi di kemudian hari. Kadang sesuatu yang kita duga itu sedang terjadi, ternyata sebenarnya tidak. Kekhawatiran yang berlebihan.

Karena itu apapun yang terjadi, di luar daya penglihatan dan pendengaran kita, biarlah Allah Yang Mengetahui. Apapun yang terjadi, ikat teguh keyakinan di hati. Tidak akan Allah memberikan yang terburuk.

Namun di sisi lainnya juga mungkin harus kita ingat, bahwa "Aku seperti persangkaan hamba-Ku". Allah seperti persangkaan hamba-Nya. Jika, kita menyangka bahwa kenyataan buruklah yang sedang terjadi di belakang sana, mungkin itu yang memang akan terjadi. Karena kita sudah terlanjur percaya demikian. Karena kita sudah terlanjur mempercayai keburukan itu yang terjadi.

Seperti atom-atom yang melayang-layang di udara. Mereka akan tertarik dengan atom-atom yang kita lepaskan dari diri kita. Berkumpul membentuk satu kesatuan dan mewujudkan apa yang kita sangkakan. Atom prasangka buruk yang kita lepaskan, misalnya, terlepas ke jagat raya dengan sepenuh keyakinan. Maka atom-atom yang buruk yang ada di jagat raya pun ikut berkumpul dan gotong royong membantu prasangka buruk itu terjadi. Semuanya berawal dari diri kita sendiri. Dari dalam hati. "Sesungguhnya ada segumpal daging di diri manusia, yang, jika segumpal daging itu baik, maka baiklah keseluruhannya, dan jika segumpal daging itu tidak baik, maka tidak baiklah keseluruhannya."

Prasangka buruk. Juga sumbernya dari dalam hati. Bisikan, yang, bukan dari Allah tapi dibisikkan dengan penuh tipu daya dan prasangka oleh Syaitan. Sudah jelas, ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa prasangka buruk itu sebagian dari dosa.

Jadi, apapun yang sebenarnya terjadi, maka Allah-lah Yang Maha Mengetahui dan Mengatur yang terbaik. Kewajiban kita hanya menjalani, memeluk erat kebaikan, dan tidak melepaskan harapan dalam hidup. Bersemangat dalam meraih keinginan yang baik. Tidak putus asa./Meyla Farid

Read More..

Dia yang Melindungiku dan Menyakiti


“Dia telah pergi, dia… sosok yang kucintai, dia yang melindungiku dan menamparku…menyakiti hatiku, orang pertama yang menamparku.”

Sebuah tulisan di Twitter membuat hati ikut terenyuh membacanya.

Rani, sahabat lama kami dari SMP 213, bertekad membina rumah tangga dari usia muda, dan harapannya terkabul dari kami berenam, Rani yang kemudian menikah dahulu, dengan lelaki bukan pujaannya, karena, “Pujaanku diambil kucing tetangga sebelah,” maksudnya pujaannya sudah menikah dengan tetangga sebelah rumahnya, demikian tulisnya di SMS, dahulu waktu Rani mau menikah kira-kira 10 tahun lalu, hanya ada handphone belum ada Facebook, BlackBerry, atau Twitter seperti sekarang.Sehingga tidak ada komentar ramai-ramai seperti yang biasa dilakukan baik melalui Facebook, BlackBerry atau Twitter.

Setelah 10 tahun kemudian, kami dikejutkan lagi dengan berita kematian Suami Rani, akibat sakit Kanker Pancreas, dan kemudian di status social site-nya yang terakhir membuat hati ini miris, dan segera kami minta, Rani mencabut statusnya, “Gak enak tho, Ran, sebab Suamimu kan baru seminggu meninggal, jangan sampai orang berfikir yang bukan-bukan mengenai rumah tanggamu, bila ada apa-apa yang tidak nyaman, baiknya disimpan sendiri saja, jangan sampai yang lain tahu soal itu atau meduga yang tidak tidak,” Aisyah salah satu kawan kami yang sekarang sudah menjadi Ustadzah dan anak anaknya pun rata-rata sudah selesai menghafal al-Qur'an, menyitir hadits-hadits tentang Suami-istri serta ayat Qur’an di dalam surat al-Baqarah ayat 187, sudah dijelaskan bahwa, “…mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka…” Selain itu Aisyah memberi pesan singkat, “barangsiapa menutup aib seseorang maka Allah akan menutup aibnya…”

Tidak ada yang salah maupun benar, mungkin hanya khilaf, namun dalam berumah tangga, sebaiknya hari-hari kita isi dengan tekad saling menyenangkan bagi pasangan kita, masing-masing. Istri memberi yang terbaik bagi Suaminya, pun Suami memberikan yang terbaik bagi Istrinya, sehingga ketika salah satu diantara pasangan Suami-istri itu ada yang sudah tiada, maka yang tersisa adalah kenangan yang terindah saja.

Memang betul, Suami Rani adalah sosok Suami yang melindungi Istri, dan mungkin ketika sedang khilaf atau tidak tahan menahan emosi atas sebuah pertengkaran, tak sadar tangannya melayang menampar wajah Istrinya, dan memang bagi sebagian kecil Suami, menampar adalah solusi tercepat untuk menyelesaikan masalah, apalagi perempuan biasanya mulutnya tidak berhenti nyerocos, ngomel dan ngedumel yang seringkali hal tersebut bikin puyeng Suami.

Apalagi bila sang Suami baru pulang dari kerja, yang mana jalanan juga macet ditilang polisi pula, di Kantor juga kerjaan dianggap tidak beres-beres oleh bosnya, gajian juga masih lama dan banyak masalah berat lainnya, bila disambut dengan omelan sang Istri, maka kekesalan dan kepenatan serta sumpeknya beban membuat sang Suami, khilaf dan menampar Istrinya.

Dalam hal ini, baik Istri maupun Suami, sebaiknya sama-sama menahan diri, ciptakanlah hari-hari dengan akhlak dan kenangan yang indah, sehingga yang diingat Suami kita terhadap kita hanya yang manis-manis saja, pun yang diingat oleh Istri kita pada sang Suami adalah yang manis-manis juga, jangan sampai ada lagi bunyi status di Twitter yang tidak nyaman buat siapapun yang membacanya. Kenangan yang manis dan buruk bercampur menjadi satu, menorehkan luka ditengah cinta seorang Istri yang Suaminya telah tiada.


Read More..

Terbelenggu Pikiran Buruk


Terbelenggu dunia memang melelahkan. Tetapi, terbelenggu pikiran buruk sendiri juga melelahkan sekaligus menyesakkan. Sungguh menyiksa. Seperti hidup memakan kotoran sendiri. Pantaslah tubuh dan hati tak sehat. Begitu lemah dan tak banyak bergerak.

Ketika berfikir buruk tentang diri sendiri, maka hanya pesimis dan rendah diri yang terjadi. Merasa tak ada kesempatan dan jalan di setiap masalah. Putus asa.

"Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir". (Q.S. Yusuf : 87).

Aku tersentak dengan ayat Allah ini. Membuatku berusaha membuang segala putus asa dari kemurahan dan kebaikan Allah.

Sesaat Kemudian aku berfikir buruk tentang yang lain. Tentang orang lain. Bahwa mereka bersikap sengaja menyakitiku. Merendahkan aku. Atau berfikir mereka membanciku. Marah padaku dengan sifatku.

Duhai, banyak lah pikiran buruk itu bermunculan. Seperti rumput di musim hujan. Hampir tak terkendali tumbuhnya. Membuat pikiranku yang sempit ini sesak oleh pemikiran yang buruk dan berlebihan.

Lalu pikiran buruk terhadap rencana dan kehendak Allah padaku. Merasa begitu berat dengan keadaan yang terjadi padaku. Merasa rencana Allah bukan terbaik untukku. Padahal aku tahu, Allah sesuai prasangaka hambaNya.

Aku pun mencoba berprasangka baik kepada Allah. bahwa semua masalah ini membawa hikmah. Namun, pikiran yang terlanjur kotor ini tak mampu menolak pikiran buruk yang baru.

Bahwa aku tak disayang Allah, sehingga aku mendapat masalah ini dan itu. Aku tak pantas disayang karena terlalu hina dan lemah iman. Aku kembali berputus asa dari rahmat Allah...

Bahkan, aku melakukan perbuatan setan dengan pikiranku. Yaitu membanding-bandingkan. Antara diriku dan orang lain. Membandingkan tubuh, rezeki dan kemampuan diri dengan orang lain.

Kenapa mereka lebih baik dariku. Mengapa aku yang kekurangan. Dan pertanyaan tak terima yang lain. Sungguh sangat menyiksa diri, hati dan pikiran. Tak ada manfaat. Malah mendatangkan rendah diri dan kufur nikmat.

Belum lagi ketika aku bersama orang yang lebih rendah ibadahnya. Aku akan berfikir aku lebih baik dari dia. Aku sholat, sedang dia tidak. Aku puasa dan dia sama sekali tidak. Aku tak berghibah sedang dia berghibah. Aku bisa membaca Al-Quran dan dia tidak. Dan masih banyak lagi perbandingan yang membuat aku merasa lebih dari orang lain.

Pikiran buruk itu telah menjadi pohon rimbun di pikiranku. Sulit tercabut. Kalau pun aku sadar, aku hanya menebang ranting-rantingnya saja. Tak sanggup menebang batang yang besar. Apalagi hingga ke akarnya. Jika pun sanggup. Aku sendiri pula yang menebar bibit pikiran buruk pada tanah fikirku. Sehingga tersemai kembali pikiran negatif ku tentang diriku, orang lain dan Allah.

Tanpa kusadari, pikiran buruk itu berbuah penyakit hati. Ya, berbagai macam penyakit hati. Keluh kesah, putus asa, kufur nikmat, iri, sombong, dan ujub. Aku bahkan tak merasakannya. Tak tahu telah parah penyakit hatiku. Setiap hari, aku memetik buah itu. Menikmatinya. Seakan tak berdosa dengan kelakuan diri.

Padahal sungguh Allah maha halus terhadap apa yang kita pikirkan dan kita rasakan, "Sesungguhnya Allah Maha halus Maha teliti". (Luqman : 16).

Meskipun hanya selintas saja. Hanya sekejap saja. Ketika aku berfikir aku lebih menjaga hijab dari saudara wanitaku, ujubku kambuh. Ketika aku berfikir wanita itu sungguh sempurna tubuhnya, tanpa sadar aku telah iri.

Ketika aku merasa lebih baik begini tanpa merubah keadaan diri yang buruk, aku sedang putus asa. Juga pikiran-pikiran lain yang membuahkan sombong, egois dan keluh kesah.

Maka aku harus bunuh pohon besar pikiran buruk yang ada di diriku. Sebelum pikiran buruk menghancurkan aku tanpa ampun. Membuatku menyesal kelak di hari perhitungan. Aku harus memotong ranting-rantingnya setiap hari, sampai ia gersang. Mematahkan setiap ada yang mulai tumbuh kembali.

Membuang ranting-ranting pikiran buruk sejauh-jauhnya. Kemudian meracuni pohon pikiran buruk dengan keyakinan kepada Allah, ikhlas, syukur, ilmu dan ibadah. Tentulah dibarengi dengan doa. Memohon pertolongan Allah. Percaya bahwa pertolongan Allah akan datang kepadaku.

"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat". (Al-Baqarah : 214).

Semoga waktu ini, Ramadhan nan mulia, aku bisa menebang habis pohon pikiran buruk. Mencabut hingga ke akar-akarnya.

Kemudian secepatnya menanam pikiran positif dan semangat ibadah serta beramal di tanah pikiran. Agar aku terbebas dari pikiran buruk. Tak lagi terbelenggu pikiran buruk ku.

Yogyakarta 14 Agustus 2011/Najmi Haniva

Read More..

Dajjal Akan Muncul Dalam Kurun Waktu 25 Tahun Lagi


Syekh Imran Hossein: Dajjal Akan Muncul Dalam Kurun Waktu 25 Tahun Lagi
Sabtu malam, 11 Juni 2011, Forum Umat Islam Bogor menggelar acara Mabit dengan tema “The Future of Islam” di Masjid Raya Bogor. Tampil sebagai salah satu pembicara adalah Syekh Imran Hossein, pakar akhir zaman kelahiran Trinidad dan Tobago yang tengah melakukan kunjungan ke Indonesia.

Siapa tidak kenal beliau? Para pengkaji Akhir zaman maupun konspirasi sudah tidak asing kepada tokoh yang terkenal di seantero dunia lewat serangkaian analisanya mengenai fitnah akhir zaman.

Malam itu, Syekh Imran tampil dengan memakai penutup kepala memanjang khas syekh-syekh dari India. Pada acara yang dihadiri ratusan warga Bogor tersebut, Ulama kelahiran 68 tahun yang lalu ini menyatakan sistem dunia saat ini sudah dikuasai Israel.

“Israel sebetulnya sudah menguasai dunia sekarang, karena Israel menguasai Amerika Serikat. Tapi saat ini Israel menguasai dunia melalui belakang layar, besok tidak akan ada lagi layar.” Katanya dalam bahasa Inggris.

Jika situasi ini dibiarkan, Syekh Imran memprediksi bahwa kemunculan Dajjal sudah tidak akan lama lagi. Dajjal akan tampil seutuhnya dan umat Islam harus mempersiapkan diri.

“Ketika Israel menguasi dunia besok, seorang laki-laki akan tampil di Jerusalem dan mendeklarasikan dirinya adalah Al-Massih Sang Penyelamat. Saya memperhitungkan ini akan terjadi dalam kurun waktu kurang dari 25 tahun.”
Paparan Syekh Imran tentu mengagetkan para jama’ah yang hadir. Namun Ulama yang pernah menimba ilmu di Al Azhar Kairo ini meyakini bahwa kehadiran Dajjal sudah dinubuwahkan oleh Rasulullah SAW.

“Nabi saw telah menerangkan dia kepada kita. Dia adalah seorang Yahudi, muda, kuat dan rambutnya keriting. Dia adalah Al-Massih Ad-Dajjal.”

Kehadiran Dajjal, lanjut Syekh Imran, akan paralel dan simetris dengan diwujudkannya Tatanan dunia baru atau New World Order lewat jalan penguasaan sistem Politik Zionis Israel yang tengah dilancarkan Israel ke seluruh umat manusia sampai detik ini.
“Dalam rangka menguasai dunia, Israel harus membangun kediktatoran politik universal kepada seluruh manusia.” Sambung pria yang memutuskan keluar dari Pemerintahan Trinidad dan Tobago pada tahun 1985 dan memilih hidup di jalan dakwah ini. (pz)


Read More..

Petunjuk Nabi Dalam Menjaga Kesehatan


Terapi itu seluruhnya ada dua macam: Tindakan preventif dan perlindungan kesehatan tubuh. Baru (yang ketiga) bila tubuh menerima campuran zat berbahaya, dibutuhkan proses pengusiran zat tersebut dengan cara yang tepat. Bahkan poros dan seluruh ilmu medis terletak pada tiga formula ini.

Tindakan preventif atau pencegahan itu sendiri ada dua jenis:

Pencegahan dan hal-hal yang dapat menimbulkan sakit, atau dari hal-hal yang memperparah penyakit yang sudah ada sehingga setidaknya penyakitnya tidak bertambah. Cara pertama disebut pencegahan penyakit bagi orang sehat. Yang kedua, tindakan preventif bagi orang sakit. Kalau orang sakit mampu melakukan tindakan preventif, maka penyakitnya bisa dicegah agar tidak semakin parah sehingga Ia bisa meningkatkan stamina untuk mengusir penyakit tersebut.

Dasar amalan dan tindakan preventif itu adalah firman Allah :

"Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dan tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih)." (Al-Maidah: 6)

Di sini orang sakit dicegah menggunakan air, karena air pada kasus penyakit tertentu bisa membahayakan kesehatan tubuhnya.

Dalam Sunan Ibnu Majah dan yang lainnya disebutkan dan Ummul Mundzir binti Qais Al-Anshariyah, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, "Rasulullah pernah menemuiku
bersama Ali. Saat itu Ali baru sembuh dari sakit, sementara kami memiliki buah kurma yang masih bergantung di tandannya. Lalu Rasulullah berdiri memetik dan memakan kurma tersebut. Ali juga ikut berdiri untuk memakannya, namun Rasulullah mencegahnya, "Engkau baru sembuh dari sakit." Akhirnya Ali mengurungkan niatnya. Segera kubuatkan bubur gandum dan rebusan sayur. Aku menghidangkannya kepada Ali. Nabi bersabda, "Kalau ini silakan disantap. Niscaya lebih berguna untukmu." Dalam lafal lain disebutkan, "Kalau ini silakan disantap, karena lebih cocok untukmu."

Sementara dalam Sunan Ibnu Majah diriwayatkan dan Shuhaib bahwa Ia menceritakan: Aku pernah menemui Nabi, dan di hadapan beliau terhidang roti dan kurma. Beliau berkata, "Ke sini mendekat, lalu makanlah." Aku pun mengambil kurma dan memakannya. Beliau bertanya, "Engkau makan kurma? Bukankah engkau sakit mata?" Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, aku sengaja mengunyah menggunakan sisi mulutku yang lain (yang tidak sejajar dengan mataku yang sakit)." Rasulullah pun tersenyum.

Dalam sebuab hadits yang terpelihara/dihapal, diriwayatkan bahwa Rasulullab bersabda:

"Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memelihara dirinya dan bahaya dunia sebagaimana salah seorang kalian memelihara orang yang sakit dan bahaya makanan dan minuman."

Dalam lafal lain disebutkan:

"Sesungguhnya Allah melindungi hamba-Nya yang beriman dari bahaya dunia."

Adapun hadits yang beredar dan mulut ke mulut di kalangan banyak orang,"Pencegahan adalah inti pengobatan, dan lambung adalah sarang penyakit, biasakanlah tubuh melakukan setiap hal yang biasa dilakukannya." Ucapan sebenarnya hanyalah kata-kata Al-Harts bin Kaladah, seorang tabib Bangsa Arab. Tidak benar penisbatan hadits itu berasal dari Rasulullah. Demikian ditegaskan oleh banyak Imam ahli hadits.

Diriwayatkan juga bahwa Nabi pernah bersabda:

"Sesungguhnya lambung itu ibarat kolam dalam tubuh. Se!uruh pembuluh darah ibarat aliran air yang bermuara kepadanya. Kalau lambung sehat, maka seluruh pembuluh darah akan sehat. Kalau lambung sakit, maka seluruh pembuluh darah juga sakit."

Al-Harts pernah juga menandaskan, "Inti pengobatan adalah pencegahan." Pencegahan atau tindakan preventif menurut para pakar medis bila dilakukan terhadap orang yang sehat sama pentingnya dengan proses menghilangkan zat berbahaya dari orang sakit atau orang yang baru sembuh dari sakit. Tindakan preventif terbaik adalah yang dilakukan terhadap orang yang baru sembuh dari sakit. Karena kondisi alamiah tubuhnya belum pulih, staminanya masih lemah, sementara tubuh secara alami menanti suntikan energi dan seluruh organ tubuh juga siap menampungnya. Adanya gangguan zat berbahaya itu akan dapat menyebabkan kambuhnya penyakit, dan itu akan lebih parah daripada ketika pertama kali penyakit itu muncul.

Harus diketahui bahwa ketika Nabi melarang Ali untuk memakan buah kurma yang masih tergantung di tandannya saat ia baru sembuh dari sakit, itu cara adaptasi terbaik. Karena kurma yang masih berada di tangkai adalah buah kurma yang biasanya sengaja digantung di rumah untuk dimakan, tak ubahnya anggur-anggur yang masih tergantung di tangkainya. Buah-buahan secara umum berbahaya bagi orang yang baru sembuh dari sakit, karena mudah terkontaminasi sementara tubuh si sakit belum mampu mencegah bahayanya. Stamina tubuh belum memungkinkan untuk itu. Tubuh masih sibuk mengusir sisa-sisa penyakit dan mengenyahkannya dari dalam tubuh. Sementara kurma basah memiliki sifat khusus semacam 'zat pemberat' bagi lambung yang menyebabkan lambung menjadi sibuk mengantisipasi dan mengatasinya sehingga tidak sempat melakukan pembersihan terhadap sisa penyakit dan berbagai efek buruknya. Sisa penyakit itu akan tetap tinggal (residue) dalam tubuh, bahkan bisa bertambah. Saat dihidangkan bubur gandum dan sayur rebus di hadapannya, Nabi memerintahkannya untuk menyantap hidangan tersebut.
Karena kedua jenis makanan itu adalah yang terbaik bagi orang yang baru sembuh dari sakit. Karena kuah dan gandum itu mengandung gizi dan unsur dingin, pelembut dan pengemulsi, di samping juga bisa meningkatkan stamina, sehingga cocok untuk orang yang baru sembuh dari sakit. Terutama sekali bila dimasak dengan rebusan sayur. Santapan yang cocok untuk orang yang berlambung lemah sehingga tidak menimbulkan serat yang berbahaya atau ampas yang dikhawatirkan.

Zaid bin Muslim menegaskan, "Umar pernah memberikari pencegahan kepada orang sakit, karena saking susahnya menahan diri dari makanan, terpaksa orang itu menghisap biji-bijian." Kesimpulannya, pencegahan itu adalah obat terbaik terhadap penyakit, bisa mencegah timbulnya penyakit atau setidaknya mencegah agar penyakit itu tidak semakin parah dan menyebar.

Di antara hal yang seyogianya diketahui bahwa banyak hal yang dilarang untuk orang sakit, orang yang baru sembuh dan sakit bahkan juga orang sehat, akan tetapi bila diri seseorang betul-betul menginginkannya, seleranya amat menuntut mendapatkannya, sebaiknya dikonsumsi saja sedikit dalam takaran yang mampu dicema dengan baik. Hal itu tidak akan berbahaya, bahkan akan berguna. Karena kondisi tubuh dan lambung akan saling terikat oleh rasa suka dan selera, keduanya akan secana kooperatif menghalau hal-hal yang dikhawatinkan bahayanya. Bisa jadi akan lebih bergurna daripada mengonsumsi obat sekalipun yang tidak disukai oleh pasien.

Oleh sebab itu Rasulullah tidak menyalahkan Shuhaib-yang saat itu sedang sakit mata-untuk menyantap sedikit kurma. Beliau menyadari bahwa sekadar itu saja tidak akan membahayakannya.

Demikian juga diriwayatkan dan Ali bahwa ia pernah menemui Rasulullah saat ia sedang sakit mata. Di hadapan beliau terhidang kurma yang sedang beliau santap.
Beliau berkata, "Ali, kamu suka ini?" Beliau melemparkan sebutin kurma kepada Ali. Kemudian beliau melemparnya lagi, demikian seterusnya hingga tujuh butir, setelah itu beliau bersabda, "Itu saja untukmu, Ali".

Hal senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya dan hadits Ikrimah, dan lbnu Abbas bahwa Nabi pernah menjenguk orang sakit dan bertanya kepadanya, "Apa yang engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Aku suka roti gandum." Dalam lafal lain, "Aku suka makan kue ka'a." Rasulullah lalu memerintahkan kepada orang yang memiliki roti untuk memberikannya kepada saudaranya itu, kemudian beliau bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian sakit dan ingin menyantap suatu jenis makanan, hendaknya diberikan kepadanya."

Hadits ini mengandung rahasia medis yang amat lembut. Karena, kalau si pasien menyantap makanan yang diinginkannya secara normal dan alami, namun makanan itu
mengandung bahaya tertentu bagi dirinya, makanan itu akan tetap berguna baginya atau setidaknya akan lebih sedikit bahayanya ketimbang makanan yang tidak disukainya, meskipun pada hakikatnya mengandung manfaat bagi tubuhnya. Kecenderungan seleranya yang sesuai dengan makanan itu dan tuntutan tubuhnya secara alamiah yang sesuai dengan makanan tersebut, akan bisa menepis bahaya. Sebaliknya kecenderungan selera yang tidak sesuai terhadap suatu makanan meskipun makanan tersebut bergizi seringkali menimbulkan bahaya. Kesimpulannya, makanan yang lezat dan sesuai selera serta dapat diterima oleh diri seseorang, lalu dicerna dengan cara terbaik, terutama sekali ketika muncul selera terhadap makanan itu dengan keinginan yang murni dan kekuatan tubuh yang sehat. Wallahu a'lam.

Read More..

Wednesday, August 3, 2011

Wanita Aman Nembak Duluan


"Apabila datang laki-laki (untuk meminang) yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka Nikahkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas." (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Keluarga A menolak lamaran si Fulan yang diketahui baik agamanya, padahal anaknya masih gadis yang sangat menyukai Fulan. Si gadis dipaksa menerima lamaran lelaki lain, maka Di kemudian hari timbul kerusakan, Si gadis menderita dan si Fulan menderita. Karena mereka masing masing menikah dengan orang lain yang tidak disukainya.

Sebutlah Fulanah, yang terhindar dari lamaran lelaki yang tidak disukainya, dengan cara nembak duluan lelaki yang disukainya. Fulanah yang cerdas mencoba mencontoh cara Khadijah RA yang tertarik pada keindahan agama lelaki yag disukainya.

Kisah Khadijah RA ialah ketika Setelah Muhammad pulang berdagang dari Syria, Muhammad makin beranjak dewasa, makin terkenal sebagai orang yang dapat dipercaya Al Amin.

Berita mengenai Al Amin tersebut dibawa oleh salah satu bibi nabi bernama Atikah yang menyampaikannya kepada Khadijah, seorang wanita pengusaha sukses yang sedang membutuhkan manager yang dapat dipercaya untuk membawa barang dagangan ke Syria.

Menjelang pertemuan dengan Muhammad untuk melakukan MOU/perjanjian perdagangan, Khadijah berdebarhatinya karena mendengar harumnya nama Muhammad.

Singkat kata, Terjadilah pertemuan bisnis antara rombongan Khadijah dan Muhammad. Dalam MOU (kesepakatan) Muhammad mendapat tugas membawa barang dagangan ke Syria, sama seperti jalur dagang waktu bersama pamannya saat Muhammad berusia 12 tahun.

Khadijah ingin mengenal (taaruf) dengan Muhammad dengan cara yang unik, yaitu : Khadijah memerintahkan asisten kepercayaannya Maisaroh agar ikut rombongan Muhammad membantu dalam perjalanan perdagangan. sehingga Khadijah bisa mengetahui sifat-sifat terpuji Muhammad

Karena salah satu cara mengenal sifat manusia ialah dengan melakukan perjalanan / musafir dalam sebuah rombongan

berikut cara unik khadijah mengenal (taaruf) calon suaminya

Khadijah berbisik pada Maysarah "Bantulah Muhammad, jangan kamu menolak perintahnya, dan perhatikan apa yang Muhammad kerjakan di sepanjang perjalanan, nanti saat kau kembali, katakan semuanya padaku"

Maysarah mendengarkan dan mematuhi apa yg diperintahkan siti Khadijah (bossnya), dalam perjalanan rombongan nabi berdagang di syria (syam), maysaroh melihat awan besar melindungi rombongan dan awan kecil terus mengikuti nabi memayungi nabi dari panasnya gurun pasir yang seolah membakar kulit. Maysaroh takjub.

Perdagangan sukses mendapat laba/ untung besar karena kejujuran dan ketulusan Muhammad Al Amin, ketika rombongan kembali ke markas bisnis Khadijah. Khadijah merasa senang mendengar semua cerita perjalanan dari maysaroh dan khadijah memberikan upah dan hadiah yang besar kepada Muhammad.

Khadijah makin yakin bahwa Muhammad akan menjadi nabi, Khadijah makin terpesona oleh ketulusannya. Lalu Khadijah menyampaikan maksudnya dengan cara meminta bantuan Nafisah yang menyampaikan maksud hatinya tersebut.

Nafisah dengan senang menyampaikan kepada Muhammad, Muhammad akhirnya meng-iyakan.

Nafisah menyampaikan berita gembira itu kepada khadijah. Betapa bahagianya Khadijah mendengar berita itu bagaikan ingin terbang.. rasanya.

Abu Thalib pamannya nabi dan bibinya nabi juga ikut senang mendengarnya dan mendukung pernikahan itu, pernikahan yang indah itu. Muhammad memberi mahar 20 ekor unta (unta di zaman itu adalah kendaraan termahal setelah kuda, jadi 20 unta setara dengan 20 buah mobil mewah di masa kini)

Demikianlah, Wanita melamar ("nembak") duluan dalam arti "memberi sinyal" bukan melamar dalam bentuk upacara adat / ritual

Bila wanita hanya bersifat menunggu tembakan maka akan banyak wanita terjebak oleh lamaran pria yang tidak dicintainya, lalu menolaknya sehingga wanita bisa mendapat fitnah (kerusakan yang meluas) bila menolak lamaran yang datang dari laki-laki baik (shalih) tersebut.

Apalagi di zaman materi ini, banyak lelaki baik-baik tetapi sayang secara lahir dan materi kurang “berkepribadian” (kurang rumah pribadi dan kendaraan pribadi), lelaki model begitu, biasanya bukan idaman kebanyakan wanita masa kini.

Wanita masa kini banyak yang melupakan sabda Nabi tersebut: bila pihak wanita menolak lamaran lelaki baik maka akan timbul fitnah (kesusahan/cobaan/kerusakan yang meluas), bahkan meluasnya kerusakan di masa depan.

Berbagai fitnah/cobaan akan datang. Contohnya

Bisa saja berakibat wanita tersebut menjadi perawan tua, atau si wanita menjadi sangat telat nikah, kalaupun dia menikah maka sebagian dari mereka menikah terpaksa dan mendapat fitnah/menderita menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya.

Rumah tangganya menjadi tidak sakinah alias terlalu sering ribut. tidak ada rasa sakinah (tenang) di hati keluarga mereka.

Jadi, Agar wanita terhindar dari hal seperti di atas, maka lebih baik wanita "nembak duluan" silakan perempuan memilih pria yang disukai. Mau Yang ganteng? Atau mau yang pintar atau alim? Atau yang kaya? Terserah anda asalkan amal(perbuatan) dienul islamnya bagus.

Daripada wanita keduluan dilamar pria baik-baik (shalih) diridhai agamanya tetapi wanita atau orangtua menolak, maka keluarga bisa kena bala. Maka Lebih baik si wanita "melamar" duluan. Perkara nanti (takut) ditolak itu resiko.

Agar wanita tidak malu dan tidak gengsi, maka wanita bisa menggunakan jasa perantara alias PI (private investigator) atau bahasa kerennya "mack chomp blanc".

Apabila datang laki-laki (untuk meminang) yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.

(HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Bagaimana dengan komentar, “Gengsi Dong?”

Kebanyakan perempuan kan gengsi kalau mereka yg ’melamar’ duluan.?

Mari kita Jawab: Tidak perlu gengsi, karena banyak sejarah perempuan “menembak” duluan. Siti Julaeha “menembak duluan” Nabi Yusuf AS, yang tampan.

Siti Khadijah “menembak duluan” Nabi Muhammad SAW yang (menurut ulama) Nabi Muhammad SAW lebih tampan daripada nabi Yusuf.

So, wanita yang gengsi akan kalah cepat dan rugi.

“Wah kesempatan nih....! “kata lelaki

Iya kesempatan bagi wanita juga dan juga pria agar berani melamar, mengungkapkan isi hatinya, soal teknis bisa pakai perantara seperti Maysarah, atau kalau berani, wanita langsung bicara dengan cara yang baik.

Kalau Baru Tahap Ta’aruf Bagaimana?

Kalau baru taaruf tidak masalah, karena tidak ada soal penolakan atau tidak penolakan. Taaruf baru tahap saling berkenalan, siapapun boleh kenalan tidak perlu ambil keputusan menerima atau menolak.

berbeda dengan Khitbah (melamar/meminang) “nembak secara resmi”. Dalam meminang wanita berhak menerima lelaki yang baik pengamalan agamanya dan menolak lelaki yang tidak baik pengamalan agamanya.

Bagaimana Kalau Orang tua nggak ridha? kan ana tidak mau jadi anak durhaka?

Bila orang tua yang menolak lamaran calon menantunya yang sudah terbukti baik agamanya maka orangtua sekeluarga tersebut akan mendapat “fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas”. Orang tua yang shalih biasanya tidak akan menolak lamaran pria yang shalih

Bagaimana Sesudah istikharah tetapi orang tua juga tetap menolak ?

Sang orangtua harus diberi pemahaman dan doa dari anak-anaknya.

Jadi, segeralah “menembak duluan” lelaki yang baik amal dienul islamnya.

Siapa cepat, dia dapat…

Oleh Anas bin Abdul Mulk

Read More..

Terbelenggu Atas Nama Cinta


Anto (31), seorang ayah dengan 2 orang anak, hidup dalam kondisi ideal dan harmonis. Boleh dikata, hidupnya selama ini dirasakannya enak, nyaman, dan serba berkecukupan. Kondisi hidup yang sepatutnya harus disyukuri, terlebih di tengah kondisi krisis ekonomi seperti sekarang ini.

Suatu ketika, seorang rekan kerja wanita berbagi rasa (curhat) mengenai kehidupan rumah tangga bersama suaminya yang sudah dirasakannya hambar. Anto tidak bersikap protektif terhadap curahan hati rekannya itu. Dia malah merasa enjoy dan merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kebaikan.

Seiring berjalannya waktu, hubungan batin dua pasangan yang bukan suami isteri itu menjadi dekat. Benih-benih simpati dan "cinta" pun akhirnya muncul. Tidak jarang Anto membantu masalah keuangan dan masalah lainnya secara "ikhlas". Tentu saja, ikatan "cinta" mereka pun makin pekat, sampai akhirnya perbuatan yang seharusnya tidak pantas dilakukan pun terjadi dan mereka melakukannya dengan dasar "cinta" (suka sama suka).

Kekhilafan memang sering muncul tatkala hawa nafsu telah terlampiaskan keinginannya. Setelah kejadian itu, Anto merasa khilaf dan menyadari telah mengkhianati istri dan keluarganya.

Belakangan, Tuhan pun membukakan mata hatinya bahwa ternyata rekan wanitanya itu juga melakukan hal yang sama itu kepada pria selain dirinya. Suatu hal yang sangat logis terjadi. Wanita itu bisa mengkhianati suaminya yang notabene terikat dengan tali pernikahan, apalagi dengan dia yang hanya terikat dalam "urusan curhat". Jelas, wanita itu mampu mengkhianati dirinya sebagaimana ia mengkhianati suaminya. Di ambang kesadaran itulah, akhirnya Anto memutuskan untuk melupakan wanita itu.

Rekan wanitanya itu harus dilupakan, karena ia tidak hanya terlibat affair dengan dirinya, melainkan dengan banyak pria lain. Ironisnya, Anto merasa tidak mampu melupakan bayang-bayang wanita itu dari ingatannya. Ia masih menyimpan "cinta" dengan wanita itu, meski terbayang di benaknya bahwa wanita itu pasti "bercinta" pula dengan pria lain selain dirinya.

Atas nama cintanya itu, Anto berusaha menyadarkan teman affair-nya agar tidak bercinta dengan orang lain. Sesuatu yang boleh jadi mustahil diwujudkan oleh teman wanita itu. Bagaimana mungkin ia disuruh tidak berkhianat terhadap Anto, sementara ia boleh berkhianat terhadap suaminya. Akhirnya, di tengah tarikan antara akal sehat dan hawa nafsunya, Anto ingin mendoktrin otaknya dengan menghadirkan keburukan wanita itu agar ia bisa cepat melupakannya, tetapi tetap saja tidak berhasil. Oleh karenanya, ia merasa drop. Konsentrasi bekerja, konsentrasi kepada keluarga, maupun konsentrasi mencari nafkahnya hilang sama sekali. Tiada keinginan atau perhatian lagi yang ia berikan buat anak dan isterinya. Anto benar-benar terkuras pikiran dan tenaganya untuk memikirkan wanita itu. Akhirnya dia jatuh sakit dan opname di rumah sakit.

Tiada seorang pun yang mengetahui perihal dirinya selain dia dan teman wanitanya itu. Ia tidak terbuka mencari solusi ini kepada orang lain, apalagi kepada istrinya. Akhirnya, keinginan untuk kembali seperti dulu, memegang komitmen menjadi seorang suami, ayah yang bertanggung jawab, hanya tinggal keinginan yang belum terwujud realitanya.

Ia terjebak dan terbius oleh gelora "cinta" terhadap wanita itu, yang sebenarnya bukan cinta, tetapi hawa nafsu dan "rasa ketagihan" yang sulit dibendung. Ya, persis seperti ketagihannya orang yang terkena Narkoba. Dia tahu dan sadar akan bahaya dan keburukannya, tetapi begitu sulit untuk meninggalkannya.

Kisah Anto memberi hikmah akan bahaya cinta, yaitu cinta yang tidak didasarkan atas ikatan apa pun selain keinginan untuk memenuhi hawa nafsu. Cinta demikian sebenarnya dikategorikan sebagai perzinahan yang harus dijauhi. Namun sangat sedikit orang yang memahami dan diberi petunjuk untuk menghindari diri dari perzinahan.

Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya "Al-Fawaid" menjelaskan tentang jebakan-jebakan kehidupan dunia. Beliau menjelaskan bahwa setiap perbuatan manusia, selalu diawali oleh lintasan-lintasan atau gagasan pikiran. Dan dari sini kemudian muncul iradah (kemauan) yang selanjutnya mendorong kehadiran perbuatan ('amal). Apabila perbuatan itu terjadi berulang kali, maka ia akan menjadi kebiasaan.

Kasus yang terjadi pada Anto menyimpan sebuah pelajaran berharga agar kita jangan terjebak oleh lintasan-lintasan yang buruk atau yang memiliki potensi keburukan. Lintasan untuk "mencintai" seorang wanita yang bukan isterinya adalah salah satu lintasan yang bisa membawa malapetaka. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur'an untuk jangan sekali-kali mendekati zina (QS. 17 : 32). Dan upaya 'tidak mendekati ini' salah satunya adalah segera menghilangkan lintasan itu dari dalam hati.

Jalan-jalan apa pun yang mengarah pada perzinahan hendaknya dihindari. Kasus yang terjadi pada Anto cukup menjadi pelajaran, bahwa jika jalan itu tidak dihindari, maka akan membawa kebinasaan diri. Pada awalnya, boleh jadi lintasan yang terbersit saat Anto menerima curhat dari rekan wanitanya itu adalah murni karena kasihan atau ingin menolong. Namun karena Anto tidak memiliki pemahaman agama yang cukup, ia justru memasuki pintu awal dari jebakan dosa perzinahan itu. Menolong adalah nilai dari keimanan, namun dalam pelaksanaannya harus mencontoh metode yang dicontohkan oleh Rasul SAW. Yang terjadi pada Anto, bukannya mengarahkan (dan inilah yang disayangkan karena ia tidak memiliki pemahaman), justru ia terlarut dengan kenikmatan menerima curahan wanita itu, sehingga perlahan-lahan bibit simpati dan "cinta" itu timbul.

Saat ia mengetahui bahwa wanita itu adalah bejat, ia tidak bisa melupakan wanita itu. Seharusnya dengan merenungi kebejatan wanita itu, Anto bisa meninggalkannya. Namun rupanya, tarikan hawa nafsunya begitu kuat. Ia tahu bahwa itu dosa, tetapi merasa tidak bisa meninggalkannya. Apakah ia terkena sihir? Mungkin saja, terlebih bagi orang yang jauh dari Allah dan melalaikan dzikir padaNya. Na'udzubillah.

Andai ia sejak awal memiliki kesadaran Islami, tentu ia akan teringat dengan perintah untuk tidak mendekati perzinahan (QS. 17 : 32) dan ia akan mengikuti saran dari Ibnu Qayim yang menegaskan, "Lawanlah setiap lintasan buruk. Karena jika dibiarkan, ia akan berubah mejadi fikrah buruk. Singkirkanlah fikrah buruk itu, karena jika dibiarkan, ia akan berubah menjadi iradah atau 'azimah (tekad) yang buruk. Perangilah tekad yang buruk itu, karena kalau dibiarkan, ia akan berubah menjadi perbuatan buruk. Dan jika perbuatan buruk itu tidak dilawan, bahkan dilakukan secara berulang-ulang, maka ia akan berubah menjadi kebiasaan buruk. Bila perbuatan buruk itu sudah menjadi kebiasaan, maka kita akan sulit untuk meninggalkannya." Ia pasti tidak dengan mudah menerima curhat teman wanitanya itu. Sangat mungkin ia akan merekomendasikan pada orang yang tepat.

Anto tidak cukup sendirian dalam mengatasi masalahnya. Ia butuh teman dan lingkungan yang bisa membantunya ke luar dari jebakan nafsunya itu. Perlu orang yang bisa membimbingnya dalam bertaubat, yaitu menghadirkan penyesalan sedalam-dalamnya atas dosa yang dilakukan dan memohon ampun kepada Allah dengan permohonan yang sungguh-sungguh. Bimbingan diperlukan agar ia bisa menjalani hidup dengan ibadah dan amal kebaikan sebanyak-banyaknya demi mengkompensasi dosa besar yang telah dilakukan dan demi melupakan lintasan-lintasan tentang wanita itu yang bisa kembali hadir. Ia juga perlu dibimbing agar lebih waspada terhadap perzinahan, jangan sampai terulang kembali. Apa yang sudah terjadi, cukuplah menjadi pelajaran dirinya akan dahsyatnya godaan hawa nafsu, sehingga ia termotivasi untuk selalu membentengi diri darinya dengan ibadah dan memohon pertolongan Allah.

Wallaahu a'lam bishshawaab. (rizqon_ak)


Read More..