Ketika gonjang-ganjing pelengseran Pak Harto, banyak orang berkata bahwa kami ingin perubahan. Saat ini pun menjelang Pemilu 2009, banyak orang juga berkata kami perlu perubahan. Begitu banyaknya orang berteriak tentang perubahan sehingga banyak orang memanfaatkan makna perubahan itu untuk sarana jual janji, atau mempromosikan diri bahwa dia mampu membuat perubahan. Entah perubahan apa yang masing-masing orang inginkan, hanya ada dalam otak dan benak orang-orang itu sendiri. Lama saya merenung, perubahan bagaimana yang diinginkan orang. Presiden A, harus diganti karena tidak membawa perubahan. Presiden B, C, dan D pun atau menteri E, F, dan G harus diganti demi mewujudkan sebuah mimpi tentang perubahan.
Seorang pengamen, buruh, tukang parkir, pedagang rame-rame berteriak ingin berubah nasib, menjadi kaya sehingga sejahtera, pemerintah harus begini, pemerintah harus begini, pemerintah harus..harus…dan semua harus….Sementara politisi dan para petualang politik dan orang-orang yang suka sensasi…juga berteriak…seharusnya pemerintah begini…seharusnya…seharusnya…(lho, kenapa dia tidak berbuat dulu hal-hal kecil yang seharusnya itu ya…untuk rakyat kecil? Heran juga!…kalau mereka tau kenapa ga mau beri solusi untuk pemerintah atau tunjukkan kalau mereka bisa ..) ..
Suatu ketika, nun jauh di puncak bukit yang penuh sayuran di Bukit Cipendawa, cipanas. Seorang petani yang cara berpikirnya sederhana mengatakan kepada saya "Jika diibaratkan sebuah pemerintahan baru itu adalah proses membangun rumah, maka proses yang dilakukan pertama adalah membangun fondasi. Jadi kalau kita terus-terusan mengganti fondasi hanya karena menginginkan suatu perubahan, kapan rumah itu bisa berdiri dan mempercantik menjadi sebuah rumah impian yang aman, penuh kenyamanan, dan menyejahterakan?". Kalau orang merasa tidak seselera atau menganggap kurang pas dengan apa yang dilakukan si tukang, tentu dengan niat baik kita bersama-sama bergotong-royong membangunnya. Si A punya batu, berikan batu itu untuk bisa dipasang di tempat yang pas. Jangan berpikir, fondasi jelek…bongkar aja…sambil mencaci maki si tukang. Habis energi kita untuk mewujudkan suatu rumah yang cantik….yang selamanya hanya akan menjadi impian…(Memang tidak ada yang salah juga kalau kita mencari tukang yang lebih mumpuni)…Tapi, bagaiman mau cari tukang yang lebih mumpuni, jika tukang-tukang yang mengaku pintar itu bisanya hanya berteriak…Wee..Ini aku tukang pintar..punya keahlian ini…Tapii, ketika kita amati…dia belum pernah menunjukkan kalau dia bisa…So,…?Buktikan dulu donk!
Perubahan seharusnya diartikan sebagai sarana meningkatkan potensi diri menjadi lebih baik, lebih kreatif, lebih dinamis, lebih bijak. Siapa yang harus berjuang? Masing-masing diri kita tentunya. Kita selalu menuntut orang lain berubah sesuai kacamata dan kesenangan kita, sedangkan kita sendiri tidak pernah merubah diri selain hanya mengutuk, mencaci maki orang yang menurut kita tidak pernah mau memberikan suatu perubahan. Kenapa kita mau berubah atas pemberian orang lain…Kenapa kita tidak bersama-sama membangun rumah impian kita…negara kita tercinta ini? Kenapa kita selalu bertanya apa yang bisa orang berikan untuk kita, tetapi kita tidak pernah berpikir untuk memberi orang lain? Kenapa kita selalu menuntut orang harus mengerti kita, sifat kita, mau kita, permintaan kita, tanpa mau berpikir dan berbuat untuk memahami dan mengerti orang lain…
Alangkah indahnya sebenarnya, jika negara ini memiliki sekian banyak orang pintar yang mau berbuat/bekerja untuk negaranya bukan hanya bisa berteriak dan berkomentar untuk menunjukkan dirinya orang pintar…"Ini lho aku lulusan luar negeri, lulusan terbaik negeri ini, lulusan universitas ternama dan sebagainya, dengerin nih…".
Negara ini memang butuh orang pintar…bukan orang yang hanya berteriak demi egonya.. dan seorang pecundang.
Oleh: Imanda
William Arthur
Rayulah aku, dan aku mungkin tak mempercayaimu.
Kritiklah aku, dan aku mungkin tak menyukaimu.
Acuhkan aku, dan aku mungkin tak memaafkanmu.
Semangatilah aku, dan mungkin aku takkan melupakanmu.
Read More..
Sunday, May 10, 2009
Gunung Jangan Pula Meletus
KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan ari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena takbisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.
"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku menyerbu.
"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.
"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."
"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan kekubangan kesengsaraan sedalam itu?"
"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya hingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."
"Termasuk Kiai...."
Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran. ..
"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"
Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya.
Aku menjawab tegas, "Ya."
"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"
"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."
"Sampai kapan?"
"Sampai kapan pun!"
"Sampai mati?"
"Ya!"
"Kapan kamu mati?"
"Gila!"
"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak
melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"
""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter...."
Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.
"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."
"Kewajiban apa?"
"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak
bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.
Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun,
Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...."
"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.
"Pakailah sesukamu."
"Emang untuk apa?"
"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."
"Sinting!"
"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."
Ia membawaku duduk kembali.
"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.
"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya
mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"
Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.
"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."
"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?"
"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."
"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."
"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."
"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"
"Aceh, Kiai, Aceh."
"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda
kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".
"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan."
"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah
keburukan? berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."
"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?"
"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya
kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"
"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri,Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."
"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri, maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh
bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup."
"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."
"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur."
"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"
"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu
menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."
"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.
"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."
"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"
Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.
Emha Ainun Nadjib Budayawan
Read More..
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan ari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena takbisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.
"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku menyerbu.
"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.
"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."
"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan kekubangan kesengsaraan sedalam itu?"
"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya hingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."
"Termasuk Kiai...."
Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran. ..
"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"
Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya.
Aku menjawab tegas, "Ya."
"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"
"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."
"Sampai kapan?"
"Sampai kapan pun!"
"Sampai mati?"
"Ya!"
"Kapan kamu mati?"
"Gila!"
"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak
melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"
""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter...."
Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.
"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."
"Kewajiban apa?"
"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak
bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.
Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun,
Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...."
"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.
"Pakailah sesukamu."
"Emang untuk apa?"
"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."
"Sinting!"
"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."
Ia membawaku duduk kembali.
"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.
"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya
mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"
Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.
"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."
"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?"
"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."
"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."
"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."
"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"
"Aceh, Kiai, Aceh."
"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda
kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".
"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan."
"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah
keburukan? berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."
"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?"
"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya
kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"
"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri,Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."
"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri, maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh
bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup."
"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."
"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur."
"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"
"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu
menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."
"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.
"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."
"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"
Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.
Emha Ainun Nadjib Budayawan
Read More..
Tuesday, April 14, 2009
Menghadap dan Membelakangi Kiblat Ketika Buang Hajat
Pendapat pertama menyatakan keharamannya, baik dilakukan di dalam bangunan (wc) ataupun di luar bangunan, berdasarkan hadits dari Abu Hurairoh dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda,
“Apabila salah seorang dari kalian duduk untuk buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Begitu pula hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari dari Nabi, beliau bersabda,
“Apabila kalian datang ke tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat besar atau kecil, tetapi menghadaplah ke Timur atau ke Barat.” Abu Ayyub berkata, “(ketika) kami sampai di Syam lalu kami mendapati wc-wc disana dibangun dengan posisi menghadap Ka’bah, maka kamipun menyerongkan posisi duduk dan kami pun beristighfar (mohon ampun) kepada Allah.” (Muttafaq ‘Alaih)...
Muslim meriwayatkan dari Salman, dia berkata,
“Rasulullah sungguh-sungguh telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang hajat besar atau kecil.”
Pendapat kedua menyatakan bahwa harus dibedakan antara buang hajat di dalam bangunan (wc) dengan di tempat terbuka. Diharamkan menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat di tempat terbuka dan dibolehkan ketika berada di dalam bangunan (wc) berdasarkan hadits-hadits berikut.
Hadits dari Ibnu Umar, dia berkata,
“Pada suatu hari aku naik keatas rumah Hafshah lalu terlihat olehku Rasulullah sedang buang hajat dengan menghadap ke syam dan membelakangi Ka’bah.” (HR. Jama’ah)
Hadits dari Jabir bin Abdullah, dia berkata,
“Rasulullah telah melarang buang air kecil menghadap kiblat, akan tetapi setahun sebelum beliau wafat aku melihat beliau buang air kecil menghadap kiblat.” (HR. lima kecuali Nasa’i)
Dan Hadits dari ‘Aisyah -radhiyallahu’anha-, dia berkata: “Disampaikan dihadapan Rasulullah bahwa ada sebagian orang sahabat tidak suka menghadapkan kemaluan mereka ke arah kiblat, maka beliau bersabda,
‘Atau benar-benar mereka telah melakukan hal itu. Maka ubahlah tempat dudukku (di wc) dengan menghadap kiblat.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Begitu pula hadits dari Marwan Al-Ashfar, dia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar menderumkan (mendudukkan) untanya menghadap kiblat lalu beliau buang air kecil sedang beliau juga menghadap kiblat, maka aku bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman, bukankah Rasulullah telah melarang hal itu? ’Beliau menjawab, Memang betul, tetapi beliau melarang hal itu (dilakukan) di tanah yang lapang. Kalau diantara kamu dan kiblat itu ada sesuatu yang menutupimu, maka tidak mengapa.” (HR. Abu Daud)
Adapun pendapat yang rajih (benar) menurut saya (Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad As-Salman) adalah mengamalkan hadits Abu Ayyub karena itu yang lebih berhati-hati, yaitu menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat besar atau kecil di dalam bangunan atau di luar bangunan (tempat terbuka) adalah haram.
[Pendapat ini juga telah dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ibnu Al-Qoyyim menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah (buang hajat dengan menghadap kiblat) adalah merupakan kekhususan beliau. Di samping itu, ada kaidah yang berbunyi “apabila bertentangan antara ucapan Nabi dengan perbuatan beliau, maka yang didahulukan adalah ucapannya.” Contoh yang lain adalah beliau membatasi umatnya menikah tidak boleh lebih dari empat (yaitu lewat ucapannya), padahal beliau sendiri menikah dengan sembilan wanita (dan ini adalah perbuatannya), maka yang didahulukan adalah ucapannya].
Diambil dari: Majalah Fatawa Volume 04/I/1423 H - 2003 M
Read More..
“Apabila salah seorang dari kalian duduk untuk buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Begitu pula hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari dari Nabi, beliau bersabda,
“Apabila kalian datang ke tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat besar atau kecil, tetapi menghadaplah ke Timur atau ke Barat.” Abu Ayyub berkata, “(ketika) kami sampai di Syam lalu kami mendapati wc-wc disana dibangun dengan posisi menghadap Ka’bah, maka kamipun menyerongkan posisi duduk dan kami pun beristighfar (mohon ampun) kepada Allah.” (Muttafaq ‘Alaih)...
Muslim meriwayatkan dari Salman, dia berkata,
“Rasulullah sungguh-sungguh telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang hajat besar atau kecil.”
Pendapat kedua menyatakan bahwa harus dibedakan antara buang hajat di dalam bangunan (wc) dengan di tempat terbuka. Diharamkan menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat di tempat terbuka dan dibolehkan ketika berada di dalam bangunan (wc) berdasarkan hadits-hadits berikut.
Hadits dari Ibnu Umar, dia berkata,
“Pada suatu hari aku naik keatas rumah Hafshah lalu terlihat olehku Rasulullah sedang buang hajat dengan menghadap ke syam dan membelakangi Ka’bah.” (HR. Jama’ah)
Hadits dari Jabir bin Abdullah, dia berkata,
“Rasulullah telah melarang buang air kecil menghadap kiblat, akan tetapi setahun sebelum beliau wafat aku melihat beliau buang air kecil menghadap kiblat.” (HR. lima kecuali Nasa’i)
Dan Hadits dari ‘Aisyah -radhiyallahu’anha-, dia berkata: “Disampaikan dihadapan Rasulullah bahwa ada sebagian orang sahabat tidak suka menghadapkan kemaluan mereka ke arah kiblat, maka beliau bersabda,
‘Atau benar-benar mereka telah melakukan hal itu. Maka ubahlah tempat dudukku (di wc) dengan menghadap kiblat.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Begitu pula hadits dari Marwan Al-Ashfar, dia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar menderumkan (mendudukkan) untanya menghadap kiblat lalu beliau buang air kecil sedang beliau juga menghadap kiblat, maka aku bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman, bukankah Rasulullah telah melarang hal itu? ’Beliau menjawab, Memang betul, tetapi beliau melarang hal itu (dilakukan) di tanah yang lapang. Kalau diantara kamu dan kiblat itu ada sesuatu yang menutupimu, maka tidak mengapa.” (HR. Abu Daud)
Adapun pendapat yang rajih (benar) menurut saya (Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad As-Salman) adalah mengamalkan hadits Abu Ayyub karena itu yang lebih berhati-hati, yaitu menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat besar atau kecil di dalam bangunan atau di luar bangunan (tempat terbuka) adalah haram.
[Pendapat ini juga telah dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ibnu Al-Qoyyim menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah (buang hajat dengan menghadap kiblat) adalah merupakan kekhususan beliau. Di samping itu, ada kaidah yang berbunyi “apabila bertentangan antara ucapan Nabi dengan perbuatan beliau, maka yang didahulukan adalah ucapannya.” Contoh yang lain adalah beliau membatasi umatnya menikah tidak boleh lebih dari empat (yaitu lewat ucapannya), padahal beliau sendiri menikah dengan sembilan wanita (dan ini adalah perbuatannya), maka yang didahulukan adalah ucapannya].
Diambil dari: Majalah Fatawa Volume 04/I/1423 H - 2003 M
Read More..
DENGARKAN PERKATAANNYA JANGAN LIHAT ORANGNYA
Malam itu untuk ketiga kalinya maling pendusta itu tertangkap basah oleh Abu Hurairrah RA ketika sedang beraksi mencuri makanan milik kaum muslimin.
Kata Abu Hurairah “Sungguh akan aku bawa menghadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ini adalah kali yang ketiga kau datang. Padahal kau telah berjanji tidak akan kembali, tapi ternyata kau balik lagi.” Kata orang itu, “Lepaskanlah aku, akan aku ajari kau beberapa kalimat yang Allah memberikan manfaat pada kalimat-kalimat itu.” “Apa itu?” “Jika engkau hendak tidur, bacalah ayat kursi. Karena Allah akan menjagamu sampai kau bangun, dan syetan tak akan berani mendekatikmu.”
Lalu Abu Hurairah pun membebaskannya. Esok hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang tawanannya semalam. Kata Abu hurairah, “Wahai Rasulullah, dia menyangka bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, maka aku bebaskan dia.”
“Apa itu?” kata Nabi.
“Dia berkata padaku agar aku membaca ayat kursi sebelum tidur. Dan apabila aku membacanya, maka aku akan dijaga oleh Allah sampai subuh dan tidak akan ada seytan yang mendekatiku,” jawab Abu Hurairah.
“Ketahuilah, sesungguhnya dia telah berkata jujur padamu padahal sebenarnya dia itu pendusta. Tahukah kau siapa orang yang kau ajak bicara selama tiga malam ini, hai abu Hurairah?”
“Tidak.”
“Dia itu adalah setan.” (HR. Al-Bukhari).....
Lihat kisah di atas, bagaimana setan mengetahui fadilah ayat kursi, padahal itu sama sekali tidak ada gunanya bagi dirinya. Malah Abu Hurairah yang memanfaatkan apa yang diajarkan setan kepadanya. Begitulah setan, terkadang dia mengetahui sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak ada manfaatnya bagi dirinya sendiri. Demikian pula dengan manusia. Terkadang seseorang mengetahui hal-hal yang baik dan berguna bagi dirinya, namun ia tidak mengamalkannya. Lalu ilmunya diambil oleh orang lain dan bermanfaat.
Kalau kita perhatikan, hampir tidak ada bedanya atau bahkan tidak berbeda sama sekali antara setan dengan orang yang suka menyuruh untuk berbuat baik tetapi dirinya sendiri tidak melakukan yang dia katakan. Atau orang yang mempunyai banyak ilmu tetapi ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya. Ilmu yang dimilikinya sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi kehidupan beragamanya dan fikrahnya. Orang yang seperti ini sama saja dengan setan. Bahkan bisa jadi mereka lebih setan daripada setan. Sebab setan memang dari sananya sudah memproklamirkan dirinya sebagai musuh Allah dan orang-orang mukmin. Jadi wajar kalau mereka tidak mau melakukan amal kebaikan meskipun mereka mengetahui.
Orang-orang model beginilah yang disinyalir oleh Allah swt dalam firman-Nya, “Apakah kalian menyuruh orang-orang untuk berbuat baik sementara kalian melupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca al Kitab?” (Al-Baqarah: 44)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan? Besar sekali kebencian di sisi Allah kalau kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3)
Namun meskipun mereka “cuma pintar ngomong”, bukan berarti kita tidak boleh mengambil perkataan mereka. Selama itu tidak melenceng dari al-Qur’an dan sunnah, boleh saja kita mendengarkan apa yang mereka katakan. Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola” Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan.
Ada lagi yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari setan. Setan itu terkadang berbuat baik kepada kita tetapi sebetulnya malah merugikan atau bahkan mencelakakan. Jadi kita mesti hati-hati dan waspada terhadap segala bentuk kebaikan setan. Karena setan itu licik.
Pernah suatu hari Abdullah bin Ummi Maktum RA, seorang sahabat yang buta, hendak pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Di tengah jalan dia terjatuh dan terperosok di sebuah lubang. Besoknya Ibnu Ummi Maktum pergi lagi ke masjid seperti biasa, namun kali ini ada seseorang yang berbaik hati yang menuntunya. Tentu saja Ibnu Ummi Maktum heran karena orang itu tidak turut sholat berjamaah. Tetapi Ibnu Ummi Maktum hanya mengucapkan terima kasih seraya berkata “Kau ini baik sekali, siapakah kau ini sebenarnya?” Jawab orang itu, “AKu adalah setan.”
Kaget Ibnu Ummi Maktum mengetahui siapa yang telah berbuat baik kepadanya. Kata Ibnu Ummi Maktum, “Apa maksudmu menolongku?” Jawab setan yang berujud orang baik itu “Kemarin ketika kau jatuh terperosok, setengah dari dosamu diampuni oleh Allah. Aku khawatir kalau kali ini kau jatuh lagi, maka habislah dosamu.”
Setan memang licik setan. Dia tolong Ibnu Ummi Maktum bukan karena bermaksud ikhlas ingin menolong. Tapi dia tidak mau kalau sampai dosa Ibnu Ummi Maktum diampuni oleh Allah semuanya. Ada udang dibalik batu, kata orang. Jadi bukannya kita su’uzh-zhon dengan orang-orang yang bertipe macam setan begini. Namun sekedar hati-hati dan waspada.
Sekarang ini banyak orang-orang model setan bergentayangan di sekililing kita. Mereka belajar agama, banyak membaca buku-buku keislaman dan banyak mengetahui hukum-hukum Islam, tapi volume ibadahnya tidak berubah. Iman dan akhlaknya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak tahu agama (baca: orang awam). Bahkan bisa jadi akhlak mereka lebih buruk dibanding orang awam.
Selain itu juga tidak sedikit orang belajar Islam malah untuk menyerang sendi-sendi Islam yang telah mapan. Atau untuk menyelipkan pikiran nyeleneh dengan mengambil dalil dari al-Qur’an, sunnah, sirah, maupun perkataan ulama dalam posisi yang tidak tepat. Seenaknya saja mereka memakai dalil. Tampaknya maksud mereka baik, ingin memperbarui Islam. Namun sejatinya mereka malah menghancurkan Islam dari dalam.
Ada lagi yang sering mengisi pengajian di sana-sini, tapi hanya sebatas menyampaikan ilmu. Bermanfaat bagi yang hadir namun tidak ada artinya bagi dirinya sendiri. Memang benar kata sya’ir,”Al ‘Ilmu bilaa ‘amalin, kasy-syajari bilaa tsamarin.” Ilmu tanpa amal, bagaikan pohon tanpa buah.
Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang berkenaan dengan Abu Hurairah dan Abdullah bin Ummi Maktum. Pertama, bukan tidak mungkin ada orang yang buruk akhlaknya dan pas-pasan imannya, tetapi mempunyai ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.
Kedua, bolehnya kita belajar atau mendengarkan perkataan orang-orang yang “cuma pintar ngomong’ selama itu benar dan tidak melenceng dari al-Qur’an dan sunnah.
Ketiga, orang yang mempunyai suatu ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, tidak ada bedanya dengan setan.
Dan, keempat, kita mesti hati-hati terhadap kebaikan-kebaikan orang-orang model setan ini, karena siapa tahu ada maksud jahad dibalik kebaikannya. Juga terhadap pemikiran-pemikiran yang bernada memperbarui agama, sebab seringnya pemikiran-pemikiran yang berkulit pembaruan malah membuat ‘pe-er’ bagi ummat Islam.
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
Read More..
Kata Abu Hurairah “Sungguh akan aku bawa menghadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ini adalah kali yang ketiga kau datang. Padahal kau telah berjanji tidak akan kembali, tapi ternyata kau balik lagi.” Kata orang itu, “Lepaskanlah aku, akan aku ajari kau beberapa kalimat yang Allah memberikan manfaat pada kalimat-kalimat itu.” “Apa itu?” “Jika engkau hendak tidur, bacalah ayat kursi. Karena Allah akan menjagamu sampai kau bangun, dan syetan tak akan berani mendekatikmu.”
Lalu Abu Hurairah pun membebaskannya. Esok hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang tawanannya semalam. Kata Abu hurairah, “Wahai Rasulullah, dia menyangka bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, maka aku bebaskan dia.”
“Apa itu?” kata Nabi.
“Dia berkata padaku agar aku membaca ayat kursi sebelum tidur. Dan apabila aku membacanya, maka aku akan dijaga oleh Allah sampai subuh dan tidak akan ada seytan yang mendekatiku,” jawab Abu Hurairah.
“Ketahuilah, sesungguhnya dia telah berkata jujur padamu padahal sebenarnya dia itu pendusta. Tahukah kau siapa orang yang kau ajak bicara selama tiga malam ini, hai abu Hurairah?”
“Tidak.”
“Dia itu adalah setan.” (HR. Al-Bukhari).....
Lihat kisah di atas, bagaimana setan mengetahui fadilah ayat kursi, padahal itu sama sekali tidak ada gunanya bagi dirinya. Malah Abu Hurairah yang memanfaatkan apa yang diajarkan setan kepadanya. Begitulah setan, terkadang dia mengetahui sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak ada manfaatnya bagi dirinya sendiri. Demikian pula dengan manusia. Terkadang seseorang mengetahui hal-hal yang baik dan berguna bagi dirinya, namun ia tidak mengamalkannya. Lalu ilmunya diambil oleh orang lain dan bermanfaat.
Kalau kita perhatikan, hampir tidak ada bedanya atau bahkan tidak berbeda sama sekali antara setan dengan orang yang suka menyuruh untuk berbuat baik tetapi dirinya sendiri tidak melakukan yang dia katakan. Atau orang yang mempunyai banyak ilmu tetapi ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya. Ilmu yang dimilikinya sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi kehidupan beragamanya dan fikrahnya. Orang yang seperti ini sama saja dengan setan. Bahkan bisa jadi mereka lebih setan daripada setan. Sebab setan memang dari sananya sudah memproklamirkan dirinya sebagai musuh Allah dan orang-orang mukmin. Jadi wajar kalau mereka tidak mau melakukan amal kebaikan meskipun mereka mengetahui.
Orang-orang model beginilah yang disinyalir oleh Allah swt dalam firman-Nya, “Apakah kalian menyuruh orang-orang untuk berbuat baik sementara kalian melupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca al Kitab?” (Al-Baqarah: 44)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan? Besar sekali kebencian di sisi Allah kalau kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3)
Namun meskipun mereka “cuma pintar ngomong”, bukan berarti kita tidak boleh mengambil perkataan mereka. Selama itu tidak melenceng dari al-Qur’an dan sunnah, boleh saja kita mendengarkan apa yang mereka katakan. Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola” Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan.
Ada lagi yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari setan. Setan itu terkadang berbuat baik kepada kita tetapi sebetulnya malah merugikan atau bahkan mencelakakan. Jadi kita mesti hati-hati dan waspada terhadap segala bentuk kebaikan setan. Karena setan itu licik.
Pernah suatu hari Abdullah bin Ummi Maktum RA, seorang sahabat yang buta, hendak pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Di tengah jalan dia terjatuh dan terperosok di sebuah lubang. Besoknya Ibnu Ummi Maktum pergi lagi ke masjid seperti biasa, namun kali ini ada seseorang yang berbaik hati yang menuntunya. Tentu saja Ibnu Ummi Maktum heran karena orang itu tidak turut sholat berjamaah. Tetapi Ibnu Ummi Maktum hanya mengucapkan terima kasih seraya berkata “Kau ini baik sekali, siapakah kau ini sebenarnya?” Jawab orang itu, “AKu adalah setan.”
Kaget Ibnu Ummi Maktum mengetahui siapa yang telah berbuat baik kepadanya. Kata Ibnu Ummi Maktum, “Apa maksudmu menolongku?” Jawab setan yang berujud orang baik itu “Kemarin ketika kau jatuh terperosok, setengah dari dosamu diampuni oleh Allah. Aku khawatir kalau kali ini kau jatuh lagi, maka habislah dosamu.”
Setan memang licik setan. Dia tolong Ibnu Ummi Maktum bukan karena bermaksud ikhlas ingin menolong. Tapi dia tidak mau kalau sampai dosa Ibnu Ummi Maktum diampuni oleh Allah semuanya. Ada udang dibalik batu, kata orang. Jadi bukannya kita su’uzh-zhon dengan orang-orang yang bertipe macam setan begini. Namun sekedar hati-hati dan waspada.
Sekarang ini banyak orang-orang model setan bergentayangan di sekililing kita. Mereka belajar agama, banyak membaca buku-buku keislaman dan banyak mengetahui hukum-hukum Islam, tapi volume ibadahnya tidak berubah. Iman dan akhlaknya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak tahu agama (baca: orang awam). Bahkan bisa jadi akhlak mereka lebih buruk dibanding orang awam.
Selain itu juga tidak sedikit orang belajar Islam malah untuk menyerang sendi-sendi Islam yang telah mapan. Atau untuk menyelipkan pikiran nyeleneh dengan mengambil dalil dari al-Qur’an, sunnah, sirah, maupun perkataan ulama dalam posisi yang tidak tepat. Seenaknya saja mereka memakai dalil. Tampaknya maksud mereka baik, ingin memperbarui Islam. Namun sejatinya mereka malah menghancurkan Islam dari dalam.
Ada lagi yang sering mengisi pengajian di sana-sini, tapi hanya sebatas menyampaikan ilmu. Bermanfaat bagi yang hadir namun tidak ada artinya bagi dirinya sendiri. Memang benar kata sya’ir,”Al ‘Ilmu bilaa ‘amalin, kasy-syajari bilaa tsamarin.” Ilmu tanpa amal, bagaikan pohon tanpa buah.
Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang berkenaan dengan Abu Hurairah dan Abdullah bin Ummi Maktum. Pertama, bukan tidak mungkin ada orang yang buruk akhlaknya dan pas-pasan imannya, tetapi mempunyai ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.
Kedua, bolehnya kita belajar atau mendengarkan perkataan orang-orang yang “cuma pintar ngomong’ selama itu benar dan tidak melenceng dari al-Qur’an dan sunnah.
Ketiga, orang yang mempunyai suatu ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, tidak ada bedanya dengan setan.
Dan, keempat, kita mesti hati-hati terhadap kebaikan-kebaikan orang-orang model setan ini, karena siapa tahu ada maksud jahad dibalik kebaikannya. Juga terhadap pemikiran-pemikiran yang bernada memperbarui agama, sebab seringnya pemikiran-pemikiran yang berkulit pembaruan malah membuat ‘pe-er’ bagi ummat Islam.
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
Read More..
Wednesday, April 1, 2009
Permennya Lupa Dimakan
Sebuah perenungan.. niceAlkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.
Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lollipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memaculangkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.
Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan".Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat."
Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya.
Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop."Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.""Kenapa kamu memanggil saya?" Tanya Bob."Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, Indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob."Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yg sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah...nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "Pemikiran ‘anti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti' bahagia.Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ¡nanti' bahagia.
Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah merasa memuaskan dan membahagiakan.Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk berdiam atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa Indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri.Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop. Read More..
Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lollipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memaculangkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.
Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan".Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat."
Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya.
Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop."Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.""Kenapa kamu memanggil saya?" Tanya Bob."Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, Indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob."Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yg sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah...nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "Pemikiran ‘anti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti' bahagia.Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ¡nanti' bahagia.
Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah merasa memuaskan dan membahagiakan.Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk berdiam atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa Indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri.Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop. Read More..
Plat Nomer Kendaraan di Indonesia
A Untuk Daerah/Wilayah Banten
B Untuk Daerah/Wilayah DKI Jakarta
D Untuk Daerah/Wilayah Bandung
E Untuk Daerah/Wilayah Cirebon
F Untuk Daerah/Wilayah Bogor
G Untuk Daerah/Wilayah Pekalongan
H Untuk Daerah/Wilayah Semarang
K Untuk Daerah/Wilayah Pati
L Untuk Daerah/Wilayah Surabaya
M Untuk Daerah/Wilayah Madura
N Untuk Daerah/Wilayah Malang
P Untuk Daerah/Wilayah Besuki
R Untuk Daerah/Wilayah Banyumas
S Untuk Daerah/Wilayah Bojonegoro ..
T Untuk Daerah/Wilayah Kerawang
W Untuk Daerah/Wilayah Sidoarjo (Jatim)
Z Untuk Daerah/Wilayah Sumedang (Jabar)
AA Untuk Daerah/Wilayah Kedu
AB Untuk Daerah/Wilayah DI Yogyakarta
AD Untuk Daerah/Wilayah Surakarta
AE Untuk Daerah/Wilayah Madiun
AG Untuk Daerah/Wilayah Kediri
BA Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Barat
BB Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Utara
BD Untuk Daerah/Wilayah Bengkulu
BE Untuk Daerah/Wilayah Lampung
BG Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Selatan
BH Untuk Daerah/Wilayah Jambi
BK Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Timur
BL Untuk Daerah/Wilayah DI Aceh
BM Untuk Daerah/Wilayah Riau
BN Untuk Daerah/Wilayah Bangka
CC Untuk Daerah/Wilayah Korps Konsul
CD Untuk Daerah/Wilayah Korps Diplomatik
DA Untuk Daerah/Wilayah Kalimantan Selatan
DB Untuk Daerah/Wilayah Minahasa
DD Untuk Daerah/Wilayah Sulawesi Selatan
DE Untuk Daerah/Wilayah Maluku Selatan
DG Untuk Daerah/Wilayah Maluku Utara
DH Untuk Daerah/Wilayah Maluku Timur
DK Untuk Daerah/Wilayah Bali
DL Untuk Daerah/Wilayah Sangihe/Talaud
DM Untuk Daerah/Wilayah Sulawesi Utara
DN Untuk Daerah/Wilayah Sulawesi Tengah
DR Untuk Daerah/Wilayah Lombok
DS Untuk Daerah/Wilayah Papua
EA Untuk Daerah/Wilayah Sumbawa
EB Untuk Daerah/Wilayah Flores
ED Untuk Daerah/Wilayah Sumba
KB Untuk Daerah/Wilayah Kalimantan Barat
KT Untuk Daerah/Wilayah Kalimantan Timur
Read More..
B Untuk Daerah/Wilayah DKI Jakarta
D Untuk Daerah/Wilayah Bandung
E Untuk Daerah/Wilayah Cirebon
F Untuk Daerah/Wilayah Bogor
G Untuk Daerah/Wilayah Pekalongan
H Untuk Daerah/Wilayah Semarang
K Untuk Daerah/Wilayah Pati
L Untuk Daerah/Wilayah Surabaya
M Untuk Daerah/Wilayah Madura
N Untuk Daerah/Wilayah Malang
P Untuk Daerah/Wilayah Besuki
R Untuk Daerah/Wilayah Banyumas
S Untuk Daerah/Wilayah Bojonegoro ..
T Untuk Daerah/Wilayah Kerawang
W Untuk Daerah/Wilayah Sidoarjo (Jatim)
Z Untuk Daerah/Wilayah Sumedang (Jabar)
AA Untuk Daerah/Wilayah Kedu
AB Untuk Daerah/Wilayah DI Yogyakarta
AD Untuk Daerah/Wilayah Surakarta
AE Untuk Daerah/Wilayah Madiun
AG Untuk Daerah/Wilayah Kediri
BA Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Barat
BB Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Utara
BD Untuk Daerah/Wilayah Bengkulu
BE Untuk Daerah/Wilayah Lampung
BG Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Selatan
BH Untuk Daerah/Wilayah Jambi
BK Untuk Daerah/Wilayah Sumatra Timur
BL Untuk Daerah/Wilayah DI Aceh
BM Untuk Daerah/Wilayah Riau
BN Untuk Daerah/Wilayah Bangka
CC Untuk Daerah/Wilayah Korps Konsul
CD Untuk Daerah/Wilayah Korps Diplomatik
DA Untuk Daerah/Wilayah Kalimantan Selatan
DB Untuk Daerah/Wilayah Minahasa
DD Untuk Daerah/Wilayah Sulawesi Selatan
DE Untuk Daerah/Wilayah Maluku Selatan
DG Untuk Daerah/Wilayah Maluku Utara
DH Untuk Daerah/Wilayah Maluku Timur
DK Untuk Daerah/Wilayah Bali
DL Untuk Daerah/Wilayah Sangihe/Talaud
DM Untuk Daerah/Wilayah Sulawesi Utara
DN Untuk Daerah/Wilayah Sulawesi Tengah
DR Untuk Daerah/Wilayah Lombok
DS Untuk Daerah/Wilayah Papua
EA Untuk Daerah/Wilayah Sumbawa
EB Untuk Daerah/Wilayah Flores
ED Untuk Daerah/Wilayah Sumba
KB Untuk Daerah/Wilayah Kalimantan Barat
KT Untuk Daerah/Wilayah Kalimantan Timur
Read More..
Indahnya Hidup Dengan Shodaqoh
Ada seorang teman bertutur, pada satu hari ketika dirinya hendak datang kesalah satu kantor untuk menandatangani satu kontrak yang memiliki nilai milyaran, ditengah jalan raya perempatan ciledug, mobil yang ditumpangi terserempet becak. Akhirnya dia ribut dengan tukang becak itu. Mobilnya malah rusak dan kontraknya terbang melayang begitu saja. Dia merasa terpukul sekali, apalagi kondisi istrinya sedang hamil. Di tengah kegalauannya, dia mendengarkan ceramah seorang ustadz tentang manfaat dan keajaiban sedekah dan menganjurkan untuk sedekah minimal 10% agar mendapatkan hasil dan pahala yang maksimal. Walaupun kondisinya sendiri masih kekurangan, teman itu mempraktekkan anjuran itu, dan akhirnya dia mulai mendapatkan jalan keluar. Omset bisnisnya mulai membaik dan rejeki semakin lancar...
Kalau kita mengeluh dan berputus asa maka kecenderungan yang tertarik adalah Justru apa yang kita keluhkan yakni berupa hal yang tidak kita inginkan seperti sesuatu yang tidak enak,ketidak beruntungan. Tetapi kalau kita bersyukur, benar-benar menerima dengan 'Ikhlas' yang diberikan oleh Allah SWT, serta bertawakal kepadanya, maka yang akan tertarik adalah keberuntungan dan dibukanya pintu nikmat, pintu rezeki, pintu hidayah, ampunan dan segala pintu kemaslahatan di dunia dan di akhirat. 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'(Q.S. Ibrahim : 7)
Nikmatnya Shodaqoh
Sore itu saya kedatangan tamu. Mas Nurul bertutur bahwa shodaqoh itu nikmat. Pernah suatu hari dirinya dihubungi kakak tercintanya yang sedang ada kebutuhan mendesak. Sementara dirinya dalam ada kebutuhan. 'Saya bismillah mas. sungguh luar biasa nikmatnya shodaqoh itu.' katanya. Tak lama kemudian mas nurul dihubungi oleh perusahaan yang dulu tempat bekerja. Ada bonus yang berlipat2 diterimanya. Shodaqoh itu bukti kebenaran Alloh SWT. Alloh SWT Maha besar dengan segala kuasaNya. 'Saya percaya shodaqoh memiliki kekuatan dalam kesuksesan hidup saya.' begitu tuturnya. benarlah kiranya apa yang dikatakan Mas Nurul Untuk memahami bagaimana shodaqoh berperan dalam kesuksesan hidup Anda, ada baiknya Anda memahami Hukum Ketertarikan (The Law of Atrraction). “ Apa yang anda pikirkan itulah yang akan terjadi” Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, Bentengilah harta yang anda miliki dengan zakat dan tolaklah marabahaya dengan doa (HR Baihaqi).
By: agussyafii
Read More..
Kalau kita mengeluh dan berputus asa maka kecenderungan yang tertarik adalah Justru apa yang kita keluhkan yakni berupa hal yang tidak kita inginkan seperti sesuatu yang tidak enak,ketidak beruntungan. Tetapi kalau kita bersyukur, benar-benar menerima dengan 'Ikhlas' yang diberikan oleh Allah SWT, serta bertawakal kepadanya, maka yang akan tertarik adalah keberuntungan dan dibukanya pintu nikmat, pintu rezeki, pintu hidayah, ampunan dan segala pintu kemaslahatan di dunia dan di akhirat. 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'(Q.S. Ibrahim : 7)
Nikmatnya Shodaqoh
Sore itu saya kedatangan tamu. Mas Nurul bertutur bahwa shodaqoh itu nikmat. Pernah suatu hari dirinya dihubungi kakak tercintanya yang sedang ada kebutuhan mendesak. Sementara dirinya dalam ada kebutuhan. 'Saya bismillah mas. sungguh luar biasa nikmatnya shodaqoh itu.' katanya. Tak lama kemudian mas nurul dihubungi oleh perusahaan yang dulu tempat bekerja. Ada bonus yang berlipat2 diterimanya. Shodaqoh itu bukti kebenaran Alloh SWT. Alloh SWT Maha besar dengan segala kuasaNya. 'Saya percaya shodaqoh memiliki kekuatan dalam kesuksesan hidup saya.' begitu tuturnya. benarlah kiranya apa yang dikatakan Mas Nurul Untuk memahami bagaimana shodaqoh berperan dalam kesuksesan hidup Anda, ada baiknya Anda memahami Hukum Ketertarikan (The Law of Atrraction). “ Apa yang anda pikirkan itulah yang akan terjadi” Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, Bentengilah harta yang anda miliki dengan zakat dan tolaklah marabahaya dengan doa (HR Baihaqi).
By: agussyafii
Read More..
Subscribe to:
Posts (Atom)