Wednesday, February 20, 2013

Kan selalu engkau kukenang


“.. .berkecamuklah rasa di dada. Tersemburatlah gelora asmara. Langit-langit hati sang wanita tengah menghujankan bibit-bibit cinta. Sebuah rasa yang tak diundang dan tak ingin berlalu begitu saja.. .”“…begitulah pula datangnya kuncup bahagia di hati sang wanita yang setelah menanti lalu mendengar jawaban lelaki itu. Terkikis sudah senandung cemas yang terbalut penuh harap..”

****

Wanita ini adalah wanita pendamba surga. Kami dapati bahwa dia adalah wanita yang menenangkan hati sang kekasih. Dia temani belahan jiwanya dalam suka, bahagia,duka dan nestapa. Kami saksikan pula bahwa dialah wanita bijaksana nan cerdik. Pula, ia adalah keturunan bangsawan kaya dan menjadi incaran banyak lelaki.

Percikan Kerinduan dari Sucinya Hati

Seperti wanita umumnya, kami dapati bahwa ia amat merindukan seorang sosok yang akan menjadi teman hidupnya. Ia membutuhkan sosok yang akan menemaninya mengarungi bahtera kehidupan.Berjumpalah wanita ini dengan lelaki dengan kepribadian yang diidam-idamkan wanita. Lelaki yang ia temui begitu agung lagi berakhlak mempesona. Lelaki tersebut tidak seperti laki-laki yang ia temui pada kaumnya. Lelaki itu begitu menenangkan kala dipandang dan tutur katanya jujur dan menarik perhatian. Berwibawa dan menjaga harga diri.

Berkecamuklah rasa di dada. Tersemburatlah gelora asmara. Langit-langit hati sang wanita tengah menghujankan bibit-bibit cinta. Sebuah rasa yang tak diundang dan tak ingin berlalu begitu saja.

Namun begitu, terbesit pikiran yang mengusiknya. Akankah pemuda dengan kebeningan hatinya tersebut mau menikahinya yang telah berumur kepala empat? Saat bingungnya mendengung, kami dapati rekan wanitanya datang mengunjungi. Rekannya mampu menangkap semburat rasa yang terpendam hingga wanita itu mencurahkan kegalauan hati dan perasaannya. Rekannya pun berhasil menenangkannya bahwa ia adalah wanita cantik dan memiliki kemuliaan nasab. Siapakah gerangan lelaki yang tak mau melamar wanita idaman sepertinya? Bergegaslah rekan wanita itu menemui sang lelaki seperti yang dipinta sang wanita. Setelah bertemu, rekan wanita tersebut berkata kepada laki-laki itu:

“… apa yang menyebabkan kau tidak menikah?”

Lelaki itu adalah orang yang fakir lagi yatim piatu. Sang ayah meninggal ketika ia dalam kandungan. Dan ketika masih kecil, ia pun ditinggal meninggal oleh sang ibu.Ia menjawab:
“tidak ada sesuatu yang bisa saya gunakan untuk menikah”.
Rekan wanita tersebut tersenyum sambil bertutur:
“sekiranya engkau diberi dan diminta menikahi wanita yang berharta, rupawan, mulia dan cukup, apakah engkau mau menerimanya?”
Laki-laki itu kemudian berkata:
“siapa?”

Rekan wanita itu kemudian menyebutkan nama sahabatnya yang tengah dirundung oleh besarnya pengharapan. Wajar memang karena wanita begitu dominan dalam hal perasaan.Gayung pun bersambut indah. Setelah mendapat nama wanita yang memang ia sangat kenal, lelaki tersebut kemudian berucap:

“kalau dia setuju maka saya terima”.

Subhanallah. Lampu hijau terlihat jelas menandakan akan dimulai proses selanjutnya. Mendengar ucapan tersebut, rekan wanita itu pun kembali menemui sahabatnya untuk menebar wewangian kabar bahagia yang baru saja didengarnya. Betapa riangnya wanita kita ini setelah mendapat berita.

Bak sejuknya tanah gersang yang kembali subur setelah dentuman hujan, bak cerahnya dedaunan muda yang indah menghijau bersemi, bak syahdunya kicauan burung menyambut mentari di pagi nan cerah, begitulah pula datangnya kuncup bahagia di hati sang wanita yang setelah menanti lalu mendengar jawaban lelaki itu. Terkikis sudah senandung cemas yang terbalut penuh harap.

Aduhai pena kami pun semakin bersemangat menarikan goresannya. Sang lelaki pun mengabarkan kepada paman-pamannya agar segera melamar sang wanita, walaupun sang wanita telah menjanda. Iya benar, wanita itu telah menjanda. Suami pertamanya meninggal kemudian wanita itu cerai dengan suami kedua. Namun itu bukanlah sebuah aib. Bukan pula sebuah cela. Adalah skenario dari Allah yang telah menetapkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Tak ada yang mampu keluar dari rel takdir.

Rajutan Tali Pernikahan Nan Pernuh Berkah

Paman lelaki itu datang melamar sang wanita di hadapan pamannya. Maklum, ayah wanita kita ini telah wafat. Mahar dan penentuan akad nikah pun dibicarakan. Disepakati mahar kepada wanita itu berupa lembu dua puluh ekor.Di hari pernikahan, ijab kabul tengah berkumandang.

Lengkaplah sudah kebahagiaan yang menyelimuti sepasang kekasih. Sempurnalah mekar indah pucuk asmara. Telah tiba saatnya biduk harus berlayar di samudera kehidupan. Terhempas sudah karang-karang penantian yang bertengger di taman hati. Adakah jalinan yang indah selain jalinan dan untaian tali pernikahan?Adakah letupan-letupan cinta yang lebih menenteramkan hati sepasang muda-mudi selain dalam ikatan ini?Adakah hubungan yang lebih menabung kebaikan selain hubungan sah secara syar’i?
aduhai, kami telah tertampar. Kami tertampar pedas oleh pena kami sendiri agar bersegara menyempurnakan separuh din.
Saatnya Mengayuh Biduk di Samudera Kehidupan ...

Dan wanita itu pun benar-benar menunjukkan dirinya sebagai wanita yang piawai me-manage perasaan dan alur lalu lintas permasalahan yang mungkin menyerang masing-masing pasangan. Ia tunjukkan sayang nan cinta kepada pangeran hatinya. Kami dapati bahwa ia adalah wanita dengan mata air kasih yang bercucuran penuh keseejukkan, penuh kelembutan dan kebaikan. Dialah kekasih hati yang menjadi tumpahan berkeluh kesah. Dialah sosok yang nyaman sebagai sandaran bagi sang suami kala raga begitu letih mengarungi dunia luar rumah sekaligus gelanggang dakwah. Sungguh begitu agung nan mulianya wanita ini. Cara pandangnya luas dengan visi yang jauh ke depan. Begitu membantu sang suami dari segi harta maupun spirit. Suaminya pun adalah orang pilihan yang telah ditetapkan Allah. Kami dapati bahwa dia adalah lelaki yang agung nan mulia pula. Begitu banyak ujian yang lelaki ini alami hingga menjadikan sedih dan gulana. Begitu banyak cercaan dan siksaan yang ia hadapi dari orang-orang yang amat membencinya. Begitu banyak makar dan propaganda untuk membunuhnya. Dan memang demikianlah sunatullah bagi orang-orang yang menyebarkan agama Tuhannya. Akan selalu ada badai yang siap menghantam perjuangan di jalan keimanan.
Ia menyaksikan darah mengalir. Ia menyaksikan pedang terlalu sering beradu. Ia menyaksikan jasad-jasad terbujur kaku. Kami dapati lelaki itu mengalami beberapa kemenangan dan pula kekalahan. Ia saksikan kawan-kawannya terbunuh.
Dialah lelaki yang menebarkan wewangian pesona agama kita yang mulia. Dialah sosok yang tiada pamrih. Tiada ingin dipuja atau dipuji. Dialah sumber kebaikan. Duh, mata pena kami berkaca dan bergetar menuliskan tentangnya.Pantas saja Allah telah menganugerahkan wanita mulia nan brbudi luhur teruntuk lelaki itu. Allah mempersatukan dua kemuliaan untuk memenangkan agama-Nya di muka bumi.

Allahu akbar. .Allahu akbar…

Begitu mulianya dua insan itu.Pena kami kembali membulirkan air matanya karena kemuliaan mereka.Wahai pena. Kabarkanlah bahwa kami begitu rindu untuk bertemu.

Telah Tiba Saatnya Berpisah ...

Kami kabarkan kembali bahwa wanita kita ini adalah nikmat Allah yang besar bagi sosok lelaki itu. Mereka arungi bahtera cinta selama seperempat abad. Telah berlalu sejuta kenangan. Wanita itu menghibur kecemasan suaminya, memberikan dorongan di saat-saat paling kritis, menyokong penyampaian risalah Tuhannya dan selalu membela pujaan hatinya dengan jiwa, raga dan hartanya. Telah tiba saatnya kita akan berpisah dengan wanita berbudi luhur itu. Telah tiba saatnya wanita itu harus meninggalkan sang kekasih karena malaikat maut sedang melaksanakan titah Rabb-Nya.Dan selanjutnyaaaaaa. .Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. . .
Selamat jalan wahai wanita yang melambangkan kesetiaan. .
Selamat jalan jiwa yang tenang. .
Selamat jalan duhai wanita yang berhati lembut di tengah lembah kekerasan. .
Selamat jalan wahai wanita teladan yang mengagumkan. .

Selamat jalan wahai engkau yang membela kemuliaan islam. .Selamat jalan engkau wahai istri yang arif nan bijaksana. .
Selamat jalan wahai engkau ibunda kaum muslimin, Khadijah binti Khuwailid. .
Wahai Bunda,.Kepergianmu telah meninggalkan duka dan sedih bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.. Bagaimana tidak, suka yang terkomposisi duka telah dicicipi bersama di arena kehidupan. Sungguh pilu hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ditinggal belahan jiwanya..Tahukah engkau wahai Bunda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyanjungmu di depan ‘Aisyah sehingga ‘Aisyah pun cemburu.‘Aisyah bertutur di tengah cemburu yang menggebu nan melanda:
“tidaklah aku cemburu atas seseorang dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana kecemburuanku atas Khadijah, sedangkan aku belum melihatnya sama sekali. Tetapi Rasul sering menyebutnya dan kadang-kadang beliau menyembelih seekor kambing lalu memotong-motongnya kemudian mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Sehingga kadang-kadang aku berkata kepada beliau:
“sepertinya di dunia ini tak ada wanita kecuali Khadijah.” [1]
Subhanallah. Begitu cintanya Nabi kami padamu, wahai Ummul Mukminin. Dan memang engkau amat pantas mendapatkannya walau ‘Aisyah memiliki kecantikan dan kepandaian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memenuhi janjinya bahwa beliau tak akan menduakanmu selama engkau masih hidup dan walau usiamu telah lanjut. Kami mengetahui pula bahwa engkau bertabur putri-putri mulia yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Mereka adalah pembela setia suamimu. .Begitu abadi cintanya.Engkau wahai Bunda, seperti yang kami dapati dalam kitab Nisa’ Fii Hayati al-Anbiya bahwa Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata sambil memujimu:
“wanita penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khuwailid.” [2]
Pula dalam kitab yang lain yaitu Nisaa’ Haular Rasul war Radd ‘ala Muftariyaat al-Musytasyriqin, kami dapati pula pujian untukmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“sebaik-baik wanita di bumi di masanya adalah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita di bumi di masanya adalah Khadijah binti Khuwailid” [3]
Wahai Bunda, keteguhanmu mendapat limpahan karunia dari Allah. Engkau memiliki andil besar dalam perubahan peradaban bagi para wanita.
Inilah surga Allah menaruh rindu untukmu. Allah dan malaikat Jibril pun menitipkan salam hangat dari langit ke-tujuh untukmu. Dan kepadamu, Allah telah menyediakan rumah istana dari permata. .

subhanallah

Kami dapati dalam kitab ar-Rahiq al-Makhtum bahwa Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“wahai Rasulullah. Inilah khadijah, dia telah datang membawa bejana, di dalamnya ada lauk pauk, makanan atau minuman. Sekiranya dia nanti mendatangimu maka sampaikan salam Rabbnya kepadanya serta beritakan padanya kabar gembira perihal istana untuknya di surga yang terbuat dari mutiara, yang tiada kebisingan maupun rasa lelah di dalamnya.” [4]

Akhirnya. . .

selamat menikmati rumah istana dari mutiaraselamat jalan ibunda orang-orang beriman. .Biarlah kami senantiasa mengenangmu di kedalaman qolbu. .Menyerap semangatmu yang terbit seiring fajar. .Dan lihatlah namamu ada dalam benak setiap muslimah. .Walaupun tak sesempurnamu, kami harap wanita-wanita kami mampu merengkuh keteladananmu di jalan ilmu. . .

Sekian,

Dari seorang lelaki yang berusaha meneladani kekasihmu tercinta di atas manhaj salaf,
Penulis: Fachrian Almer Akiera (Yani Fachriansyah Muhammad as-Samawiy)
Mataram, di siang nan cerah secerah hati, ilmu dan akhlak orang-orang yang beriman.
Subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika..

Read More..

Ikhtiar Dan Rezeki Yang Ditakar

Natin baru saja melintas di warung kopi. Sekelompok orang sedang bermain gaple. Padahal mestinya orang dewasa seperti mereka dijam begini sibuk bekerja. Bukan nongkrong begitu. Mereka kan punya kewajiban menafkahi keluarga. Tapi selalu ada saja argumentasinya. “Rezeki itu sudah ada yang mengatur, Mpooook….” Kata mereka. “Kita tidur juga Gusti Allah tetap ngasih rezeki kok…” timpal yang lainnya. Lalu yang lainnya lagi menambahkan;”Kerja lebih keras juga nggak bakal menambah rezeki kita kalau takdir Tuhan berkata lain…..” Natin, tersenyum mendengar celoteh mereka. Lalu bergegas meninggalkan majlis gaple itu.

Suara mereka sudah tidak terdengar lagi. Namun Natin masih senyum-senyum juga. Bukan senyum karena mentertawakan mereka. Melainkan teringat ketika bertemu dengan gurunya zaman dahulu. Natin bertanya kepada gurunya perihal urusan rezeki itu. Ada kebingungan kronis mengiritasi hatinya. Katanya sudah ditentukan takarannya oleh Tuhan. Dan jika takaran itu sudah ditentukan, maka penyerahannya tidak lagi bergantung kepada orang itu. Tetap akan diberikan meski dia tidur sepanjang hari. Dan jika takaran itu sudah ditentukan, maka usaha sekeras apapun tidak akan menambah jatahnya.

Hari itu, sabtu. Sebagai bukti menerima tantangan itu, Ayah langsung pergi ke toko yang menjual alat-alat pancing. Abang kegirangan mendapati Ayah pulang membawa alat pancing. “Besok, kita pergi memancing Bang.” kata
Ayah.

“Hari ini aja Yaaah…., please” manja Abang.
“Wah, kalau kita pergi sekarang udah kesorean Bang.” Jawab Ayah.
“Besok kita berangkat pagi-pagi, oke….”

Keesokan harinya, minggu yang mendung. Tapi Ayah dan Abang sudah berniat untuk pergi mancing. Mama pun sudah menyiapkan umpan istimewa yang dibuat dari campuran bahan-bahan pembuat kue donat. Dengan kompoisisi rahasia plus telur ekstra dan terasi. Meskipun Mama ragu jika umpan itu bakal dimakan ikan, tapi Ayah meyakinkan Mama jika usahanya tidak akan sia-sia. Di rumah, kue bikinan Mama selalu ludes. Ikan bawal pun pasti tidak sanggup menahan godaan kelezatannya.

Sesampai di kolam pemancingan, Ayah membayar tiket masuknya. Kemudian pemilik kolam menambahkan ikan hidup kedalam kolam. Lalu. Mereka pun ikut bergabung dengan para pemancing lain yang sudah pada duluan tiba.

Sudah setengah hari. Masih nihil. Padahal, pemancing lain sudah berkali-kali mendapatkan ikannya. “Kenapa kita belum dapat juga Yah?” Abang bertanya dengan harapan yang hampa.

“Kalau mancing itu, ya harus sabar Bang…” jawab Ayah. Sebuah jawaban yang bisa menenangkan anak kelas 3 SD itu. Setidaknya untuk sementara waktu. Nyatanya, setiap kali pemancing lain dapat ikan, Abang kembali menanyakan hal yang sama. Hingga sore. Keadannya tidak berubah juga.

“Kalau kita sabar ternyata tidak mendapatkan ikan, Yah….” Kata Abang. Entah curhat. Entah protes karena nasihat kesabaran Ayah tidak menghasilkan apa-apa.

Natin bisa melihat jelas wajah Ayah yang tengah berusaha mencari jawaban yang cocok untuk pertanyaan itu. Lalu… “kita coba lagi minggu depan ya….” Dari wajahnya, Natin tahu persis jika Ayah sendiri tengah mempertanyakan arti kesabaran itu kepada dirinya sendiri. Jika semua pemancing sama sabarnya, kenapa hasilnya berbeda? Keimanan Ayah, kayaknya sudah mulai goyah. Buat Abang yang masih kecil, ini hanyalah soal memancing ikan. Tapi buat orang dewasa seperti Ayah, ini nggak sesederhana itu. Dalam mencari nafkah, Ayah sering sekali mendengar orang mengajak bersabar. Bagus sih bersabar itu. Tapi, kalau tidak ada hasilnya untuk ongkos dapur, sampai kapan bisa bersabar?

Minggu berikutnya. Ayah benar-benar memenuhi janjinya kepada Abang. Mereka pergi mancing lagi. Kali ini di kolam ikan Mas. Umpannya, khusus Ayah beli yang paling bagus, karena kelihatannya lidah ikan belum biasa dengan adonan kue bikinan Mama.

Sudah 2 jam. Ayah dan Abang belum juga menarik ikan. Sementara pemancing lain sudah berkali-kali menangkapnya. “Kalau mancing mesti sabar ya, Yah…..” kata Abang. Setengah menggugat.

Ayah terhenyak. Tidak bisa lagi mengatakan untuk sabar. Karena, semakin terbukti bahwa sabar itu tidak menghasilkan apa-apa. Natin terenyum melihat Ayah manggut-manggut. Dari wajah Ayah, Natin tahu kalau sekarang Ayah sadar bahwa sabar itu tidak tepat ditempatkan disitu. Ayah, telah menihilkan makna ikhtiar ketika bersembunyi dibalik kata sabar.

Tapi…., Bukankah melemparkan kail itu juga merupakan ikhtiar? Bukan hanya pemancing lain yang melempar kail. Ayah juga sama. Kenapa hasil beda? Bukan hanya orang lain yang gigih bekerja mencari rezeki. Kita juga sama. Tapi kenapa diantara orang-orang yang sama-sama ikhtiar itu hasilnya tetap beda. Ada yang dapat banyak. Ada yang hanya sedikit. Bahkan ada yang tidak dapat apa-apa sama sekali. Sabar, sudah. Ikhtiar, juga sudah. Kenapa hasilnya tetap beda juga?

“Hati-hati sama dia Pak,” tiba-tiba seorang pemancing bicara. “Semua ikan bisa diembat habis…” katanya. Dia menunjuk kepada pemancing lain disamping Ayah. Pemancing yang sudah berkali-kali menaikkan ikan. “Orang kayak dia itu mestinya mancing dilaut, bukan dikolam cetek kayak gini….” Ledek orang itu lagi.

Ayah menanggapinya dengan tertawa. Tapi Natin tahu, jika tawa Ayah itu hanya kamuflase belaka. Ayah sekarang sadar bahwa selain sabar dan ikhtiar, ada hal lainnya. Orang yang dibercandain oleh pemancing lain itu terkenal jago memancing. Dia tahu kapan saat yang tepat untuk menarik pancingnya. Karena, jika terlalu dini, kail itu tidak akan terkait di mulut ikan. Dan kalau terlambat, ikan keburu kabur menggondol umpannya. Sekarang Ayah sadar. Bahwa ikhtiar, tanpa keterampilan hanya akan menghasilkan kesia-siaan.

Tak lama kemudian, terjadi kehebohan seperti sebelum-sebelumnya. Pemancing dipojokan kembali menarik ikan. Dalam waktu singkat, mungkin dia sudah menarik lebih dari 5 ikan. Abang hanya menonton drama tarik menarik kail pancing itu sambil menikmati pemandangan indah berupa joran yang melengkung menahan perlawanan ikan. Abang nggak bertanya lagi kepada Ayah. Mungkin dia tahu jika Ayah tidak akan punya lagi jawaban lainnya.

Natin mendengar Ayah bertanya kepada pemancing sebelahnya. “Kenapa disebelah sana sering sekali dapat ikan, Pak?” Lalu orang yang ditanya itu menjelaskan bahwa gerombolan ikan itu sedang berada disebelah sana. Oh. Jika Tuhan mengarahkan semua ikan ke sebelah sana. Tidak ada artinya sabar bagi pemancing sebelah sini. Bahkan, meskipun pemancing sebelah sini ini paling jago mancing sedunia. Tuhan sudah menakar jatah rezeki semua orang. Pencerahan itulah yang kemudian Ayah sampaikan kembali kepada Abang.

Natin geli melihat Ayah menjelaskan hal itu kepada anaknya. Karena Natin tahu, bahkan ketika menjelaskan kalimat itupun sebenarnya Ayah sendiri bingung. Antara iman dan keraguan. Semua bercampur aduk. Dalam hati Ayah memohon;”Ya Allah, berikan anakku pengalaman menarik ikan. Sekaliiiii saja Tuhan….” Tapi percuma saja berdoa jika keputusan tentang rezeki itu sudah ditentukan. Maaf, ikan ini untuk orang lain. Bukan buat kamu. Maka sabar, ikhtiar, keahlian dan doa sudah tidak ada pengaruhnya lagi.

Melihat Ayah, Natin seperti melihat dirinya sendiri; dulu ketika berhadapan dengan gurunya. Kegundahan Ayah. Keraguan Ayah. Keimanan Ayah yang sering bertengger dibibir jurang kekufuran, khususnya ketika uang Ayah sudah habis sama sekali. Padahal kebutuhan hidup sedang banyak-banyaknya. Dan Ayah tidak tahu lagi mesti berusaha seperti apa lagi. Kepulan asap didapur ternyata tidak bisa dinyalakan hanya dengan doa. Kesabaran. Bahkan keimanan kepada kuasa Tuhan dalam mengatur kepada siapa Dia memberi kelapangan rezeki, dan kepada siapa Dia menyempitkannya. Iman, berat dijalani dalam perut kosong seperti itu.

“Bekerjalah untukku selama sebulan penuh….” Demikian respon gurunya ketika Natin bertanya perihal itu. “Sebagai upahnya, kamu akan diberi makan secukupnya….” Tambah beliau. Sebuah jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan. Atau, mungkin beliau tidak tahu mesti menjawab apa. Jadi, mending mengalihkan topik pembicaraan itu.

Natin pun menurut saja. Bagaimana pun juga, sudah menjadi kewajiban murid untuk mematuhi gurunya. Dihari pertama Natin bekerja di sawah gurunya. Tengah hari, ada kiriman makan siang seperti yang dijanjikan gurunya.
Nikmat rasanya menyantap makanan lezat ditengah sawah selepas bekerja seharian itu. Porsinya pas benar dengan ukuran perutnya. Alhamdulillah. Kerja kerasnya terbalaskan dengan sempurna.

Di hari kedua, Natin bekerja lebih giat. Sambil berharap siapa tahu upah makan siangnya semakin banyak. Namun ketika jatah makan siang itu datang. Natin tidak melihat adanya perubahan. Porsinya pas benar dengan ukuran perutnya. Subhanallah. Takaran Tuhan atas rezeki seseorang itu sudah sedemikian sempurna. Kerja lebih keras pun tidak bisa mengubah takarannya.

Di hari ketiga. Natin kecapean. Lelah dicampur elusan angin sepoi membuatnya tertidur seharian. Dia terjaga ketika pengantar makanan membangunkannya. “Celaka,” begitu pikir Natin. “Bisa-bisa hari ini aku tidak mendapatkan jatah makan…” batinnya terus menerawang. Tapi, kekhawatirannya tidak terbukti. Jatah makan itu tetap saja diberikan kepadanya. Allahu Akbar. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada seorang pun yang sanggup menolak atau menghalanginya.

Demikianlah hari demi hari dijalaninya. Selalu dia berada dalam siklus 3 harian itu. Hari pertama bekerja biasa. Hari kedua bekerja lebih keras. Dan hari ketiganya ketiduran. Terus begitu hingga genap tiga puluh hari
dalam bulan itu.

Diakhir siklus 30 hari itu, sang guru memanggil Natin. “Sudah menemukan jawabannya, mengapa takaran Tuhan atas rezeki seseorang tidak berubah?”

Natin menggeleng. Sambil terpaksa mengatakan ‘belum guru…’ hanya untuk menjaga kesantunan saja. Sementara didalam hatinya berbisik ‘mestinya kan guru yang tahu jawabannya….’

Gurunya tersenyum lalu…”Ini bonus bagi kamu untuk bekerja selama 10 hari….” Natin yang sama sekali tidak menduga akan mendapatkan bonus itu terperanjat. Dia senang alang kepalang. Namun, dia merasa jika ada kesalahan perhitungan gurunya. “M-Maaf guru,” katanya. “Bukankah… guru menugaskan saya bekerja selama 30 hari?” lanjutnya. “Mengapa guru menyebutkan hanya 10 hari?” Sekalipun begitu, tangan Natin terulur untuk menerima bonus
dari gurunya.

Sang guru memandangnya dengan bijak. “Aku tahu itu,” katanya. “Kamu ditugaskan untuk bekerja selama 30 hari. Tapi…” beliau melanjutkan. “Hanya sepuluh hari kamu bekerja lebih banyak dari yang semestinya.”

“Bagaimana dengan pekerjaan baik saya selama 10 hari lainnya?” Tanya Natin. Siapa tahu gurunya mau berbaik hati menambah sedikit bonus lagi. “Untuk sepuluh hari itu, kamu sudah bekerja dengan semestinya. Dan imbalannya pun sudah kamu dapatkan berupa jatah makan sesuai perjanjian yang sudah kita sepakati, bukan?” Demikian gurunya menjelaskan.

Natin. Hanya bisa mengangguk-angguk saja. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya. Karena dia pun sadar sudah mendapatkan upah sesuai perjanjian.

“Oh, ya…” kata gurunya. “Kamu tidur di 10 hari lainnya, kan? Lanjut beliau.
“M-mhhh…” Natin yang tidak menyangka akan ditanya begitu jadi gelagapan. Dia tidak menyangka jika gurunya tahu soal itu. Dikiranya hanya Tuhan yang Maha Tahu. Ternyata Tuhan pun memberitahu gurunya soal itu. Tapi,
tak apalah. Karena selama tidur itupun dia tetap mendapatkan upah berupa jatah makan siangnya.

“Ketika kamu tidur itu,” Sang guru melanjutkan. “Kamu sudah mengurangi perjanjianmu. Kamu bekerja dibawah standar. Padahal kamu mendapatkan upah seperti biasanya.” Katanya. “Jangan begitu lagi ya…”

Natin lega karena guru tidak memarahinya. “Baik guru. Saya mengerti.” Katanya. Dia senang karena ditangannya sekarang sudah teronggok sejumlah hadiah sebagai bonus dari kerja bagusnya selama 10 hari. ‘Lumayan’,
begitulah pikirnya.

Sang guru beranjak pergi. Namun, langkah beliau terhenti. Lalu, “Ah. Ya. “ katanya. Beliau membalikkan badannya. Mendekati Natin. Kemudian mengambil kembali semua hadiah yang tadi sudah diberikannya. Lalu pergi meninggalkan Natin yang melongo sendirian.

“G-guru….” Kata Natin. “Mengapa guru mengambil kembali hadiah itu?”
“Untuk membayar hutang-hutangmu selama 10 hari tidur disaat mesti bekerja itu”. Begitulah jawab gurunya sambil berlalu tanpa menoleh lagi.

Sudah lama sekali sejak pertemuan dengan gurunya itu. Sekarang. Natin menyaksikan Ayah yang sedang berada dipersimpangan jalan. Antara keyakinannya bahwa rezeki setiap orang sudah ditentukan Tuhan. Nggak bakal tertukar. Dan keraguan didalam hatinya. Yang mempertanyakan apakah Tuhan sungguh-sungguh adil dengan membiarkan semua usahanya sia-sia? Keimanan Ayah tengah diuji. Dan ketakwaannya sudah berada diujung tanduk, sekarang.

Natin tidak ingin menasihati Ayah didepan anaknya yang masih kecil. Apalagi sambil ditonton oleh para pemancing lainnya yang rata-rata sudah berhasil menangkap ikan. Natin hanya menitipkan kisah pertemuan dengan gurunya itu kepada angin. Sehingga lamat-lamat, Ayah bisa mendengar nasihatnya. Lembut terasa buaian angin itu hingga Ayah dimanjakan diantara tidur dan terjaganya. Saat frekuensi otak Ayah memasuki rentang gelombang alfa itu. Ayah menemukan bahwa Tuhan tetap akan memberi rezeki kepada mahluknya. Sekalipun dia tidak mau bekerja. Meskipun kerjaan hanya tidur saja.

Tetapi kerja keras orang itu, akan membuka pintu rezeki lain. Yang khusus Tuhan berikan kepada mereka yang mau berikthiar lebih gigih. Lebih ulet. Dan lebih terampil dalam menjalani hari-harinya. Seperti tengah mengaji.
Angin sepoi itu melantukan firman Tuhan dalam surah 37 (As-Shoffat) ayat:39: “Dan kamu tidak diberi balasan, melainkan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” Masih adakah keraguan dihatimu atas firman mulia itu? Sepertinya Ayah mendengar pertanyaan itu. Natin beranjak pergi. Meninggalkan Ayah yang masih mencari-cari jawabannya dari dalam dirinya sendiri.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Orang yang berkontribusi lebih banyak, pantas mendapatkan imbalan yang juga lebih banyak. Jika tidak didapatkannya balasan lebih banyak didunia ini, maka diakhirat kelak; jatah kebaikannya tetap terjaga dengan sempurna. Sebagai penghormatan dari Tuhannya.



Read More..

Gairah Kerja Ketika Hujan

Hujan sedang lucu-lucunya sekarang. Terlebih lagi kalau kita melihat tetes demi tetesnya jatuh menimpa kolam atau danau yang tenang. Butiran air dari negeri diatas awan itu seperti sedang melompat-lompat dipermukaan bergelombang. Dingin. Namun romantis. Apalagi jika telinga kita juga diizinkan untuk mendengar rintiknya. Seperti nyanyian dari sorga. Tempat para malaikat bertasbih tanpa henti. Sambil menantikan orang-orang yang salih kembali pulang ke kampung halaman sejatinya. Tapi, lucunya hujan itu tidak bisa kita rasakan. Khususnya ketika kita membayangkan, betapa hari itu harus pergi kekantor dengan susah payah. ‘Oh hujan. Bisakah engkau berhenti sejenak. Hingga aku sampai di tempat kerjaku…’ begitulah kita membatin. Anda tidak seperti itu? Saya ragukan itu. Sekalipun Anda berangkat kekantor menggunakan mobil sendiri. Benar begitu?

Ada sebuah kisah kecil yang saya senang jika Anda berkenan menyimaknya. Dongeng, jika Anda lebih suka menyebutnya demikian. Mungkin Anda belum pernah mendengar kisah ini sebelumnya. Mungkin juga sudah. Tak masalah, bukan? Toh kita bisa menentukannya nanti. Setelah saya menuntaskan kisahnya. Ini tentang seseorang yang tengah melamar pekerjaan. Seperti bagi kebanyakan orang lainnya, pekerjaan yang dilamarnya itu sangat penting sekali baginya. Hari ini, adalah kesempatan yang hanya sekali baginya untuk meyakinkan calon bossnya bahwa dia adalah kandidat yang paling tepat untuk posisi kosong itu.

Sudah sejak kemarin segalanya dipersiapkan. Dipilihnya kemeja dan celana panjang terbaiknya. Disemirnya sepatu yang hanya satu-satunya. Dicukurnya rambutnya. Dipotongnya kuku di jari jemarinya. Semua. Dinantikannya hari yang bersejarah itu dengan penuh harap. Bahkan ketika hendak tidur, doa terakhirnya adalah;”Tuhanku, jadikanlah besok hari paling bersejarah yang akan selalu kukenang dalam permulaan karirku…..”

Keesokan paginya, dia mendapati hujan yang tiada henti sejak semalam. Dia cemas. Namun masih berharap hujan itu bersedia jeda sesaat. Setidaknya, selama dia dalam perjalanan sehingga bisa tiba ditempat wawancara tepat waktu, dan tentunya dengan tetap rapi. ‘Oh hujan. Bisakah engkau berhenti sejenak. Hingga aku sampai di tempat tujuanku…’ begitu dia bergumam dalam harap dan cemasnya.

Sungguh. Dia sama sekali tidak mengharapkan keajaiban. Namun, bagaimana mungkin hujan yang disertai badai itu bisa berhenti begitu saja jika bukan dengan keajaiban? Sayangnya, kejaibain itu mungkin memang tidak ada. Sehingga tidak soal berapa kali dia berdoa dan meminta, hujan itu tidak juga kunjung reda. Tak ada payung. Tak punya jas hujan. Tak ada yang bisa dia lakukan.

Akhirnya, dia memutuskan untuk membuka kembali seluruh pakaiannya yang sudah sedemikian rapi itu. Lalu dia berganti dengan yang seadanya. Dilipatnya pakai terbaiknya. Lalu dimasukkannya kedalam sebuah tas ransel. Setelah itu, dia pergi ke belakang rumah. Entah apa yang dilakukannya. Namun, ketika kembali dia menenteng selembar pelastik transparan yang telah dikotak katiknya untuk menjadi sebuah jas hujan buatan tangan. Diselendangkannya ransel berisi pakaian. Dan ditentengnya sepatu mengkilap yang telah dimasukkan kedalam kantung keresek. Rupanya, dia tidak mau menyerah kepada hujan lebat.

Banjir. Kata berita di tivi. Dia tidak terlampau peduli. Macet. Kata tukang ojek. Dia tidak menghiraukannya. Tekadnya sudah bulat. Harus datang memenuhi jadwal wawancara itu. Maka, dia pun menembus lebatnya hujan disertai petir dan angin kencang itu.

Benar saja. Banjir dimana-mana. Macet. Meski sudah biasa. Tapi kali itu tidak ada duanya. Tapi semua uangnya sudah diserahkan kepada tukang ojek asal dia mau mengantarnya hingga ketempat tujuan. Uang yang biasanya cukup untuk perjalanan pulang pergi plus makan siang kini hanya cukup untuk sekali jalan. Tapi. Tekadnya tidak lagi bisa dibuat surut ke belakang. Dia memutuskan untuk terus berjuang.

Perjalanan hanya tinggal sedikit lagi. Tak lama lagi dia tiba ditempat wawancara. Ojek pun berhenti. Dan dia pun turun. Lalu berlari di trotoar yang tergerus aliran air. Dia. Tidak melihat jika bibir trotoar itu roboh, sehingga untuk sesaat dia tidak menyadari apapun kecuali semua pemandangan sudah berubah menjadi gelap. Gemuruh sesaat, lalu hening berkepanjangan……………………..

“Terpeleset ke kali kecil yang terendam banjir,” demikianlah tayangan ulang dalam pikirannya ketika kesadarannya kembali pulih diruang kecil yang tak lain adalah kantor satpam.

“Saya mau wawancara Pak,” katanya kepada Satpam. Namun, kedua satpam yang bertugas tidak mempercayainya. Mana ada orang yang mau wawacara hanya mengenakan pakaian seadanya. Pakai sandal jepit pula. Melamar kuli angkut sih, mungkin. Tapi ini adalah gedung perkantoran elit. Takkan ada orang yang diizinkan masuk dengan pakaian seperti itu. Sudah basah kuyup pula.

“Pakaian dan sepatu saya hanyut,” dia berusaha menjelaskan. Namun, penjelasannya malah membuat orang lain mengira jika kepalanya terbentur batu ketika terpeleset tadi.

“Semua pakaian saya copot dan dimasukkan kedalam ransel,” katanya lagi. Hujan badai saja bisa dia taklukkan. Masa kedua satpam itu tidak bisa diyakinkannya.

“Sudahlah kamu nggak usah ngelantur,” kata satpam itu. “Minum tuch kopinya biar badan kamu nggak kedinginan.” Lanjutnya.

“Nanti kalau hujannya berhenti kamu bisa pergi,” timpal satpam satunya lagi. Tidak diragukan jika keduanya sangat berbaik hati. Lelaki itu menjelaskan kronologisnya. Dan kedua satpam itu menjelaskan prosedur dikantornya.

Lelaki itu bersikeras untuk mengikuti wawancara. Kedua satpam itu memberi ultimatum jika mereka bisa saja mengusirnya. Lelaki itu merasakan benar kebaikan kedua satpam itu kepada dirinya selama ini. Tapi dia membutuhkan satu kebaikan lainnya. Hanya satu lagi. Yaitu, mengizinkan dirinya masuk ke kantor megah itu untuk mengikuti wawancara pentingnya.

Satpam itu mengizinkannya. Alhamdulillah. Tapi dengan syarat. Ada bukti kalau dia diundang. Dan mengenakan pakaian yang sepantasnya untuk wawancara dengan orang penting di perusahaan. Dan karena semua persyaratan itu tidak bisa dipenuhinya. Maka satpam itu, tidak bisa mengizinkannya masuk. Hanya nilai kemanusiaan yang membuat mereka memberi tempat untuk berteduh.

“Kalau begitu, bisakah saya meminta kertas dan pulpen?” pinta lelaki itu. Satpam yang lebih muda memandang kearah satpam yang lebih senior. Setelah saling bertatapan beberapa saat, satpam senior itu mengeluarkan bunyi ‘hemh’ pendek. Arti bunyi ‘hemh’ itu baru ketahuan setelah satpam muda menyerahkan selembar kertas dan sebatang pulpen
pada lelaki itu.

Setelah berterimakasih. Lelaki itu pun mulai menulis. Khusyuk sekali terlihat dirinya menuliskan sesuatu. Setelah sekitar lima belas menit, dia membaca ulang semua tulisannya. Dibaca ulangnya sekali lagi. Dan sekali lagi. Lalu, dia pun melipat kertas itu. Dibagian luarnya dia kembali menulis “Kepada. Yth. Bapak…….. di tempat.”

“Tolong sampaikan surat ini kepada beliau ya Pak…” pintanya kepada Satpam. Senyum pak satpam segera pudar ketika dibacanya nama yang tertulis disana. “Kamu kenal sama beliau?” tanyanya.

“Belum,” jawab lelaki itu. “Tapi seharusnya saya bertemu beliau untuk wawancara…” lanjutnya. Nada suaranya terdengar berat. Tapi wajahnya memancarkan ketegaran.
“T-tapi….” Kata satpam itu. Wajahnya menyiratkan kesan bimbang. Atau tidak enak. Atau semacamnya.

“Saya mengerti Pak,” kata lelaki itu. “Memang saya tidak layak menemui beliau dalam keadaan seperti ini.” Lanjutnya. “Tak masalah. Tolong sampaikan saja surat saya.”

Lelaki itu menyalami kedua satpam itu. Dan mengucapkan terimakasih atas kebaikan mereka menolongnya dari seretan air deras di kali kecil pinggir jalan itu. Berterimakasih atas secangkir kopi nikmat yang membuat tubuhnya kembali hangat. Terimakasih atas kebaikan mereka memberi tempat untuk berteduh. Dan berterimakasih, jika mereka berkenan menyampaikan surat itu. Lalu dia pun berpamitan.

“Hujan masih lebat Mas,” kata satpam itu. “Tunggu saja sampai reda….” “Tidak ada yang tahu kapan hujan akan berhenti, Pak,” jawab lelaki itu. “Jika saya berdiam diri disini, maka saya akan kehilangan kesempatan yang mungkin bertebaran ditempat lainnya.” Katanya.

Kedua satpam itu tertegun. Entah karena merasa tidak enak. Atau karena terhenyak oleh kalimat yang dikatakan oleh lelaki itu. “Tidak ada yang tahu kapan hujan akan berhenti. Jika saya berdiam diri disini, maka saya akan kehilangan kesempatan yang mungkin bertebaran ditempat lainnya.” Atau…mungkin karena kedua-duanya.

Dia pun berjalan menembus hujan lebat itu. Berjalan sendirian. Karena ditengah hujan sederas itu, tidak ada orang yang suka berada dijalanan. Tubuhnya segera ditelan oleh gelapnya pandangan terhalang kabut. Seperti menghilang ditelan oleh gemuruh hujan disertai kilatan dan gelegar petir yang saling bersahutan.

Menurut pendapat Anda. Apakah ini kisah hayalan? Atau rekaan belaka? Atau campuran keduanya? Jawaban Anda bisa benar dan bisa saja salah. Tapi bukan itu yang paling penting bagi kita. Anda tidak perlu susah payah memikirkan jawabannya. Karena yang lebih penting dari itu adalah menjawab pertanyaan ini; “Ketika perjalanan ke tempat kerja Anda tengah diguyur hujan, hati Anda mengatakan apa? Ketika hujan menghalangi perjalanan Anda ke tempat kerja, Anda melakukan apa? Dan ketika hujan tengah lebat-lebatnya dihari kerja; Anda mensyukuri apa?”

Jawaban untuk ketiga pertanyaan itu yang lebih penting bagi kita. Dan jika Anda belum menemukan jawaban yang menyebabkan gairah kerja Anda semakin menggelora ketika hujan melanda; maka mungkin, Anda perlu merenungkan lagi. Betapa orang lain sedemikian gigihnya untuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan kita yang sudah memiliki pekerjaan ini, sedemikian mudahnya dihentikan oleh hujan.

Peristiwa itu sudah lama berlalu. Lelaki itu sudah belajar melupakan kegagalannya. Kegagalan yang bukan karena dirinya buruk. Melainkan karena alam telah menegaskan kepadanya bahwa Tuhan, berkuasa untuk melakukan apa saja sesuai kehendakNya. Tapi. Lelaki itu tidak kecewa karena dia. Sudah melakukan hal terbaik semaksimal yang dia bisa. Peritiwa lama. Yang masih nikmat untuk dikenang. Dia bangga pada dirinya sendiri yang pantang menyerah dan gigih dalam berjuang. Makanya, dia masih berwajah cerah ketika teleponnya berdering.

“Hallo…” sapanya. Dia mendengarkan suara balasan dari seberang. Setelah itu, dia bersujud. Sepertinya tidak percaya pada apa yang didengarnya di telepon. Suratnya yang dititipkan kepada satpam beberapa bulan lalu itu sampai kepada yang dituju. Dan sekarang, beliau berada diujung telepon. Untuk mengatakan; “Besok, kamu mulai bekerja di kantor kami…..”

Sahabatku, musim hujan adalah saat yang paling tepat untuk menguji kualitas profesionalime kita. Dan disaat kebanyakan orang melemah daya juangnya, maka sedikit orang yang gigih akan tampil seperti sinar mentari yang menembus temaramnya jiwa diliputi mendung dan curah hujan. Pantaslah jika Rasulullah pernah menasihatkan bahwa “Hujan itu adalah rahmat.” Khususnya bagi orang-orang yang bersyukur. Dan tetap gigih menjalankan amanah yang
diembannya. Serta pantang menyerah, dalam memperjuangkan hidupnya.

Kita. tidak akan rela jika kantor mengurangi bayaran gara-gara hujan. Makanya adil jika kita juga tetap bergairah ketika berangkat dan bekerja, meskipun cuaca tengah diguyur hujan. Makanya. Ayo teman. Tetaplah bergairah. Untuk bekerja. Meskipun kita sedang menghadapi musim hujan yang sedang lucu-lucunya ini. Mungkin berat ketika kita menjalani aktivitas kerja dimusim seperti ini. Mungkin gagal usaha kita kali ini. Tapi, boleh jadi. Apapun yang kita lakukan selama ini tetap tertulis dalam kitab yang mencatat setiap amal perbuatan. Dari catatan di kitab itu, ada yang Tuhan kembalikan hasilnya didunia. Dan ada yang disimpanNya untuk bekal kita diakhirat kelak. Siapa tahu, kan?

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!


Catatan Kaki:
Hujan hanya menjadi rahmat bagi orang yang tetap bersyukur. Tetap berikhtiar. Dan tetap memegang teguh tanggungjawabnya. Namun, rahmat itu tidak bisa ditangkap oleh orang yang berpikir, dan bertindak sebaliknya.



Read More..

Monday, January 28, 2013

Kemenangan Islam Bermula dari Syam, Irak dan Yaman


Agama Islam akan di jaga oleh pemiliknya Allah Azza Wa Jalla, sampai akhir zaman. Tak perlu dikawatirkan. Sekalipun orang-orang kafir berusaha menghapus agama Allah ini. Tapi, tak pernah mereka berhasil mewujudkannya. Karena, Islam adalah agama fitrah yang sudah menjadi bagian hidup manusia. Keruntuhan manusia yang tidak menerima agama Allah ini, menggambarkan bukti dari keotentikannya. Dan, Islam terus berkembang di seluruh penjuru alam, dan manusia berbondong-bondong masuk agama Allah itu.


Ketika awal da’wah yang disampaikan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa salam di jazirah Arab, banyak yang menolak ajakannya, dan tidak sedikit yang terang-terangan menentangnya. Bahkan, diantara mereka ada yang memerangi Rasulullah. Tapi, da’wah yang disampaikan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa salam terus berjalan, tak pernah berhenti, karena tindakan orang-orang kafir yang menentangnya. Maka, satu demi satu wilayah yang jauh dari Madinah, kemudian menerima da’wah Rasulullah, dan mereka masuk Islam. Sampai seluruh semenanjung Arab ‘bertaslim’ masuk ke dalam agama Allah. Inilah da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa salam.

Sampai suatu ketika, Al-Irbad bin Sariyah meriwayatkan dari Nabi Shallahu alaihi wa salam, bahwa beliau berkhotbah dihadapan kaum muslimin, “Wahai manusia. Tak lama lagi, kalian akan menjadi tentara di kirim ke pelbagai wilayah,yaitu tentara yang berjuang di Syam, tentara yang berjuang di Iraq, dan tentara yang berjuang di Yaman”. Kaum muslimin menyambutnya dengan penuh suka cita. Mereka akan menjadi para pembebas, yang membebaskan wilayah-wilayah yang luas, dan nantinya menjadi bagian wilayah Islam, yang sudah dibebaskan.

Mendengar khotbah Rasulullah shallahu alaihi was salam, Ibnu Hawalah berkata : “Ya Rasulullah, jika akau sampai pada masa itu, pilihkan untukku, ke kelompok tentara yang berangkat ke mana sebaiknya aku ikut?”. Selanjutnya, Nabi Shallahu alaihi wa salam, bersabda : ”Aku memilihkan Syam untukmu, karena Syam adalah pilihan kaum muslimin dan negeri pilihan Allah. Dia mengumpulkan di sana makhluk-Nya yang terpilih. JIka enggan ke sana, hendaknya pergi ke Yaman. Dan, diberi minum dengan gidirnya. Karena hal itu juga mencukupi (setara)bagiku, dari Syam dan penduduknya”. (HR.Ath-Thabrani dan al-Bazzaar). Kala itu, yang dimaksudkan oleh Baginda Rasulullah shallahu alaihi wa salam, negeri Syam, tak lain adalah wilayah Palestina, dan sekitarnya, yang sekarang termasuk Syria, Palestina, Lebanon, Yordania. Betapa, Rasulullah shallahu alaihi wa salam, menjanjikan tempat yang mulia untuk berjuang membela agama-Nya, di tanah yang merupakan pilihan dalam menegakkan jihad.

Rasulullah shallahu alaihi wa salam menyinggung mengenai masa depan Islam dan kaum muslimin, yaitu Islam akan menyebar luas ke setiap penjuru bumi, bahwa ‘futuhat’ Islam akan berderap susul menyusul dan mengetuk pintu Syam, Iraq, dan Yaman. Kelak, yang diprediksikan oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa salam itu, terbukti. Dan, wilayah-wilayah yang luas itu, mulai dari Syam (Palestina) sampai ke Iraq, dan Yaman, semuanya menerima Islam. Tidak ada lagi wilayah yang tidak tersentuh oleh Islam, dan da’wah Rasulullah shallahu alaihi wa salam.

Allah Ta’ala berfirman : “ Dan, tiadalah yang diucapkannya yaitu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (al-Qur’an : An-Najm :3-4).

Semua itu tidak terwujud kecuali, karena perjuangan yang sangat gigih para pejuang Islam, yang denggan ikhlas menjual diri dan harta mereka demi Allah untuk menyebarkan agama-Nya, dan meneguhkan pilar-pilarnya. Kemenangan-kemenangan Islam yang terus berlangsung di seluruh wilayah jazirah Arab, sampai ke wilayah biladul Syam, tak mungkin dapat terjadi, kecuali mereka telah menceraikan dunia sebagai pemilik tujuan yang tinggi, yaitu menjdi para mujahidin di jalan Allah, agar mereka meraih salah dari sua hal yang terbaik, yaitu kemenangan atau mati syahid. Sehingga, mereka menjadi penghuni surge. Surga dibawah naungan pedang. Mereka yang telah menceraikan kenikmatan dunia, dan berjihad di jalan Allah, membela agama-Nya, dan meninggalkan segala pengaruh dunia, yang sangat tidak berarti bagi orang-orang mukmin, yang mendambakan kemuliaan kehidupan di akhirat.

Kemenangan-kemenangan dan penaklukan diraih oleh kaum muslimin, hingga akhirnya cinta dunia menguasai hati banyak kaum muslimin. Kemudian, mereka sudah tersungkur dalam pelukan kenikmattan dunia, menjadi hina, dan tidak ditakuti lagi oleh musuh-musuh Islam, atau orang-orang kafir. Cinta dunia yang menjadi tujuah hidup mereka itu, menjadikan kaum muslimin lalai dari Allah dan jihad di jalan-Nya, dan akhirnya keadaan menjadi sangatlah menyedihkan. Seperti kondisi hari ini yang dialami kaum muslimin, yang menjadi hina dina, serta bercerai-berai dikalahkan oleh musuh-musuhnya, karena mereka telah meninggalkan jihad.

Peristiwa yang menyedihkan ini, akibat dari kebanyakan negeri Islam yang dahulu bendera Islam berkibar di sana, dan dari menara-menara masjidnya dikumandangkan adzan, sekarang ini tidak ada lagi hubungannya dengan Islam, dan kaum muslimin. Seperti negeri-negeri Islam, yang ada sekarang ini, di kawasan Timur Tengah, yang para pemimpinnya, terutama para Raja, Presiden, dan Sultan, sudah terbalut dengan kemewahan dunia, dan tidak lagi memikirkan Islam, dan jihad melawan musuh-musuh Islam, yang sekarang terang-terangan menghancurkan Islam. Semua ini tidak terjadi kecuali karena cinta dunia.

Dalam sebuah hadist yang disabdakan Rasulullah : “Bukan kemiskinan yang aku kawatirkan atas kalian. Yang aku khawatirkan adalah kalau dunia dilimpahkan kepada kalian, sebagaimana dilimpahkan kepada orang-orang yang sebelum kalian, lalau kalian bersaing memperebutkannya, sebagaimana mereka dahulu memperebutkannya, dan akhirnya dunia itu membuat kalian hancur, sebagaimana telah membuat mreka hancur”. (HR. Buchari dan Muslim).

Kaum muslimin tak pernah mendapatkan kemuliaan dan kejayaan, selama mereka mencintai dunia, dan mereka akan hina dibawah telapak kaki kenikmatan dunia. Wallahu ‘alam.(Ms)


Read More..

ISTANA IMPIAN KAMI BERBEDA

Hmmm, bagus sekali rumah ini!

Sulit membayangkan, bagaimana seseorang mampu membangunnya. Menjadikannya sebagai istana impian yang nyata.

Seorang diri!

Tidak! Tentu kau membutuhkan bahan dan orang-orang untuk membangunnya. Tapi, semua berasal dari apa yang kau punya, dan tentu saja, yang kau bicarakan adalah uang.

Mungkin karena aku miskin, jadi memimpikan istana - sekedar memimpikannya - sekalipun merasa tak sanggup.


Ah, apa yang kau sanggup?

Nah, hati kecilku selalu mengulang hal yang nyaris sama. Tak bersahabat, mencerca diriku sendiri. Tak seharusnya ia begitu.

“Rumahmu ini, bagus sekali!” Aku berkata padanya. Dia tersenyum.

“Benarkah?”

“Ya, bagus sekali! Tentu ayahmu menghabiskan uang yang tak sedikit untuk mendirikan istana ini!” Ujarku. Kedua mataku mendahului kaki-kakiku untuk berjalan-jalan mengitari semua tempat di rumah ini.

“Istana?”

“Bagiku ini adalah istana. Kau tentu sangat senang tinggal di sini. Semuanya tampak menyenangkan dan, apa yang tak tersedia untukmu?” Ujarku dan dia tersenyum lagi. Senyumnya manis, lalu aku berpikir, semua penghuni istana memang mempunyai senyum yang manis. Rasanya memang tak sulit untuk tersenyum dengan manis ketika seseorang tinggal dengan nyaman dan bahagia di dalam istana seperti ini.

“Tentu senang jika aku bisa melihatnya seperti itu! Tapi, aku memang melihatnya biasa saja. Kau bahkan mungkin tak percaya jika aku beritahu padamu bagaimana semua ini terlihat bagiku!”

“Kau tak perlu merendah.” Aku menyela. “Aku benar-benar mengagumi istanamu ini!”

“Apa yang kau kagumi?”

“Yang aku kagumi adalah, ayahmu sanggup membangunnya! Bagaimana cara istana ini dibangun, itu yang membuatku kagum. Seorang yang miskin seperti aku bahkan membangunnya dalam angan-angan pun tak bisa!”

“Tentu kau bisa membangunnya!”

“Bagaimana mungkin? Kau membutuhkan semuanya, tapi kau tak mempunyai apapun!”

Dia tersenyum lagi. Sepertinya dia tak pernah bosan untuk tersenyum. Mungkin jika aku mempunyai ayah yang membangunkan untukku istana seperti ini, atau mungkin yang lebih megah, aku juga akan selalu tersenyum seperti itu.

“Ayahku sebenarnya tak pernah bisa membangunnya.” Kata Dia.

“Kau tak sedang mengatakan jika istana ini tiba-tiba ada begitu saja, atau seseorang yang baik hati telah menghadiahi istana ini pada kalian bukan?”

“Tentu saja tidak! Ah, sudahlah! Kau duduklah dimana saja kau ingin, aku akan membuatkanmu minum!”

“Tak perlu repot-repot!”

“Aku harus menyuguhi temanku ini minuman bukan? Tak sopan jika aku membiarkanmu kehausan.”

Aku mengangguk akhirnya. Dia berlalu meninggalkanku, berjalan melalui sebuah pintu. Aku berpikir untuk mengikutinya, dan selalu mataku mendahului langkahku atau sesekali menarik langkahku ke tempat yang menarik perhatiannya.

Aku pernah membaca dongeng tentang seorang anak yang merasa takjub ketika berada dalam sebuah istana megah. Semua hasrat dikerahkan untuk mengungkap kekaguman yang luar biasa. Rasanya aku menjadi seorang anak dalam dongeng itu sekarang. Mungkin juga saat ini aku memang tengah bermimpi.

Banyak sekali pintu-pintu berwarna cokelat mengkilap, dan pada setiap pintu dipasang kain gordin yang mewah, serta gagang pintu berwarna emas. Bentuknya bagus. Dinding-dinding itu dicat dengan warna-warna yang sangat indah. Lalu aku menangkap sosok dibawahku. Kilap lantai itu yang menggambarnya.

Langkahku sampai pada sebuah ambang pintu sebuah ruang. Dia di dalam sana dan sesuatu tengah dilakukannya. Terdengar bunyi sendok beradu dengan dinding gelas. Ruang untuk apa ini.

“Ini dapur?” Aku bertanya.

Dia menoleh dan kembali tersenyum. Ini bahkan lebih bersih dari ruang tamu di rumahku.

“Ya, ibuku memasak makanan untuk kami di sini.” Sahutnya. Dia beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju sebuah meja dengan beberapa kursi mengelilingnya. Meletakkan gelas di sana dan mempersilakanku dengan isyarat tangan terbukanya.

“Terima kasih.”

Aku dan dia duduk berbincang. Aku terus dengan pembicaraan tentang istana ini sebagaimana hasratku, sedang dia selalu mengarahkanku untuk berbicara tentang hal lain. Sepertinya ia tak berminat. Aku mulai merasa, dia seseorang yang aneh. Setiap orang selalu bangga dengan apa yang dimilikinya. Terkadang mereka menceritakan pada orang lain bahkan pada saat tak ada seorangpun yang menanyakannya.

“Suatu hari, aku juga ingin bertamu ke rumahmu!” Kata dia ketika aku berpamitan.

“Hanya rumah sederhana!”

“Aku akan ke sana!”

——

“Ah, nyaman sekali rumahmu!” Dia berkata ketika memasuki ruang tamu rumahku.

“Aku bahkan tak kerasan tinggal di sini!” Aku menjawabnya dengan sedikit prasangka, ucapannya hanya untuk menyenangkanku saja.

“Kau aneh!” Ujarnya. “Sungguh aneh jika kau tak kerasan tinggal di rumah yang damai ini! Bagiku melihatnya saja sudah sangat menyenangkan, tak terbayang jika aku tinggal di sini, pasti luar biasa!”

“Damai?”

“Ya! Rumahmu tampak seperti tempat beristirahat yang nyaman di tengah taman yang indah! Aneh bukan jika kau tak kerasan tinggal di sini?” Dia tersenyum lagi. “Akan senang sekali jika ayahku membangun rumah yang seperti ini.”

“Kau tak sungguh-sungguh bukan? Kau bercanda dengan kata-katamu barusan?”

“Tidak, aku sungguh-sungguh! Aku menyukai rumahmu!” Ujarnya. Aku tak percaya mendengarnya. Ia pasti hanya untuk menghiburku saja.

“Ah, andai aku akan tinggal di sini…”

“Aku rasa kau yang aneh! Aku saja membayangkan tinggal di rumahmu!” Sahutku. “Mari, akan aku tunjukkan semua yang ada dalam rumahku ini!”

“Aku tak melihat orang tuamu?”

“Ayahku bekerja di tempat yang menjual tanaman bunga. Kau bisa membeli tanaman bunga apa saja di sana. Ibuku menjual kerajinan yang dibuatnya sendiri di pasar. “

“Sekarang aku tahu kenapa rumahmu tampak seperti rumah di tengah taman. Pasti ayahmu yang membuatnya begitu!”

“Ayah dan ibu memang senang menanam pohon dan bunga-bunga.”

“Mereka melakukannya bersama-sama?”

“Terkadang aku membantu mereka!”

“Kurasa kalian keluarga yang bahagia!” Ujarnya. “Aku tahu, selalu ada masalah dalam sebuah rumah. Jika yang satu selesai, maka akan datang lagi masalah baru! Tapi kau tahu, jika kau datang pada sebuah rumah, dan kau merasa nyaman disana, ada damai yang menyambutmu, maka sedikitnya kau bisa meyakini jika penghuninya hidup dalam keadaan damai! Masalah yang datang pada mereka membuat mereka semakin tahu cara menghadapi masalah lain yang datang kemudian…”

Aku memaksakan senyum mendengar perkataannya. Aku mulai merasa dia sangat berlebihan dengan kata-katanya tentang rumahku, dan sekali lagi aku yakin dia hanya ingin menyenangkanku saja. Sudah jelas rumahnya seperti istana, dan aku merasakan kenyamanan dan kedamaian begitu datang tempo hari. Bagaimana mungkin dia mengatakan rumah ini sebagai rumah yang sangat damai. Aku rasa memang dia yang aneh, bukan aku.

Aku membawanya keseluruh tempat yang ada dalam rumahku. Senyum tetap tergambar di bibirnya. Aku lalu membawanya ke dapur, dimana ada tungku dengan abu yang berhamburan di depannya, amben kecil tempat ibu mengiris sayuran dan memarut kelapa atau yang lainnya jika sedang memasak, tumpukan kayu di samping tungku dan rak bambu yang dipenuhi peralatan memasak yang kesemuanya hitam pada bagian yang selalu terkena api dari tungku.

“Sebagaimana kau menyukai rumahku, aku juga menyukai rumahmu! Seperti kau, aku juga tak keberatan tinggal di rumah ini! Aku bahkan langsung kerasan begitu datang tadi!” Katanya sembari meraih gelas berisi air teh yang kuhidangkan didepannya, pada sebuah meja kecil di ruang tamu. Sesaat kemudian dia meminumnya dengan hati-hati.

“Teh ini rasanya enak sekali. Aku pernah meminum teh seperti ini, tapi aku lupa di mana. ” Ujarnya lagi. “Aku bahkan tak keberatan jika kita bertukar rumah!” Kata dia lagi sambil tertawa kecil.

“Kau bercanda sedari tadi…” Aku menimpali dengan maksud mencari tahu apakah ucapannya sungguh-sungguh, atau sekedar untuk menyenangkanku saja.

“Aku bercanda? Tidak! Aku mengatakan yang sebenarnya! Kau boleh kagum dengan rumahku, tapi aku kagum dengan rumahmu! Mungkin istana impian kita memang berbeda!”

“Tak ada yang akan mengatakan aneh jika orang mengagumi istanamu, tapi aneh jika orang yang tinggal di sana malah mengagumi rumah yang seperti ini!” Kataku.

Dia sekali lagi tersenyum. “Aku ceritakan sesuatu padamu. Ayahku membangun apa yang kau katakan sebagai istana. Ya! Ayahku membangun dengan uang yang dimilikinya. Menurutku itu bukan sesuatu yang mengherankan jika orang yang memiliki uang bisa melakukan apa saja, bahkan membuat istana! Hanya saja ayahku melupakan satu hal, bahwa ada yang tak bisa dibangun cukup hanya dengan uang. Aku rasa ayahku bukan apa-apa jika dibanding dengan ayahmu yang bisa membuat rumah ini seakan tempat beristirahat yang menyenangkan di tengah taman yang indah. Ayahku hanya bisa membangun istananya saja, dia tak membangun pula kebahagiaan dan kedamaian di sana. Kami tercerai berai, mungkin belum tentu sebulan sekali ayah pulang kesana! Begitu juga dengan ibu! Kakakku entah pergi kemana! Aku kesepian di sana. Aku tak tahu apa kau akan mengatakan menyenangkan tinggal di sana jika menjadi aku…”

“Kau membayangkan ayahku dengan uang dan istananya. Aku membayangkan ayahmu dengan rumah di tengah taman yang damai ini. Aku hampir tak percaya kau mengatakan tak kerasan di sini. Yang telah dilakukan ayahmu ini luar biasa! Aku tak yakin jika kau sedang bermasalah dengan ayah atau ibumu…”

“Aku memang tak memiliki masalah, kami semua baik-baik saja. Ayahku tak pernah membuatku kecewa.”

“Istana itu memang megah dari luar, aku pun akan menyukainya jika aku bukan orang yang tinggal disana. Tapi kita tak pernah tahu ada surga atau neraka didalamnya! Kau akan sama seperti aku yang mengagumi rumahmu ketika kau tinggal disana dengan apa-apa yang terjadi denganku.”

“Tapi bukankah kau jadi bebas disana?” Aku bertanya sambil memikirkan kembali pertanyaanku. Rasanya benar, kan?

“Ya, bebas! Tapi aku selalu menginginkan saat aku duduk menghadapi buku-buku, ada ayah dan ibu duduk dengan cangkir teh di tangan merekam asing-masing dan saling bicara. Ketika aku ingin bertanya, mereka ada untuk menjawabnya, ketika aku tak bisa melakukan sesuatu, mereka ada untuk membantuku, dan mereka juga ada untuk mengingatkanku, ketika aku melakukan kesalahan. Semuanya! Dalam semua suasana. Aku selalu ingin berkumpul dengan mereka pada malam dengan cerita kami masing-masing tentang siang harinya!”

“Aku memiliki suasana seperti itu.” Kataku. Aku tak tahu, karena bagiku itu biasa saja. Tak ada yang istimewa. Aku bahkan seringkali bosan mendengar pembicaraan ayah dan ibu padaku.

“Aku akan senang dan bersyukur sekali jika aku memiliki suasana yang kau miliki. Aku yakin kau pasti senang.”

Aku tersenyum. Sebenarnya tidak, tapi sejenak kemudian ada sesuatu yang mencuat dalam pikiranku. Sederhana yang diinginkannya, yang dia katakan sebagai hal yang luar biasa, dan sebenarnya aku memilikinya! Tapi entahlah, aku merasa tak memiliki apapun.

“Istanaku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan damainya hidup yang kau miliki. Kau tahu, aku tak memiliki itu di sana!”

Aku diam dan berpikir keras.

Magelang, Desember 2012

“Kita hanya saling memandang, semuanya tak selalu seperti yang sebagaimana terlihat.”

Read More..

Yahudi Gagal Membunuh Nabi Isa A.s.

Berbeda sekali dengan konsep keimanan seorang Kristen yang meyakini jika Nabi Isa a.s. atau Yesus Kristus meninggal karena disalib untuk menebus dosa umat manusia, maka kitab suci Al-Qur’an yang dijaga Allah SWT kemurnian dan kesuciannya sampai dengan hari akhir menyatakan jika yang disalib bukanlah Nabi Isa a.s., melainkan seseorang yang wajahnya diserupai Isa a.s. Sedangkan Isa a.s. sendiri diselamatkan Allah SWT dengan diangkatnya ke surga (QS. An-Nisaa: 157-158).
Nabi Isa a.s. diturunkan ke tengah-tengah Bani Israil, kaumnya Nabi Musa a.s., untuk mengembalikan mereka ke jalan ketauhidan. Namun kaum Yahudi yang cenderung kepada kejahatan dan kesesatan, bahkan banyak melakukan pembunuhan terhadap para nabi Allah—Nabi Zakaria a.s. dibelah badannya, Nabi Yahya a.s. dipenggal kepalanya, dan sebagainya seperti yang dimuat dalam eramuslim digestedisi 6 “Genesis of Zionism: Jejak Berdarah Kaum Yahudi Sepanjang Masa (Bagian 1)”—malah menganggap Nabi Isa a.s. sebagai orang yang harus dibunuh karena telah menggoyahkan kedudukan istimewa mereka di tengah masyarakat yang telah berhasil ditipunya.


Para pendeta Yahudi yang tergabung dalam Dewan Pendeta Sanhendrin membujuk Raja Herodes untuk melakukan pengejaran terhadap Isa a.s. dan menangkapnya. Isa a.s. berhasil ditangkap dan hendak disalibkan. Namun Allah menolong Isa a.s. dan mengangkatnya ke surga. Dari hadist Nabi Muhammad SAW kita akan mengetahui jika menjelang akhir zaman, Isa a.s. akan kembali turun ke bumi di Menara Putih sebuah masjid di Damaskus, Syiria. Hal pertama yang dilakukan Isa a.s. ketika turun kembali ke bumi adalah sholat.

“Tidak ada seorang nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah;bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air waulupun ia tidak basah”. (HR Abu Dawud).

“Isa ibn Maryam akan turun di ‘Menara Putih’(Al-Mannaratul Baidha’) di Timur Damsyik”. (HR Thabrani dari Aus bin Aus)

“Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa Ibn Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (Al-Mahdi): “ Kemarilah dan imamilah shalat kami”. Ia menjawab;”Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat Islam)”. (HR Muslim & Ahmad).

“Tiba-tiba Isa sudah berada di antara mereka dan dikumandangkanlah shalat, maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam shalat) wahai ruh Allah.” Ia menjawab:”Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami shalat kamu”. (HR Muslim & Ahmad).

Hal pertama yang dilakukan Nabi Isa setelah turun dari langit adalah menuaikan shalat sebagaimana yang dijelaskan oleh hadist-hadist di atas. Nabi Isa akan menjadi makmum dalam shalat yang di imami oleh Imam Mahdi. Kedatangan Nabi Isa akan didahului oleh kondisi dunia yang dipenuhi kedzaliman, kesengsaraan dan peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia. Setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi, setelah dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Nabi Isa akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal.

Turunnya nabi Isa ke bumi mempunyai misi menyelamatkan manusia dari fitnah Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama, ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah.

Dikisahkan setelah Isa as. selesaikan menunaikan shalat, ia berkata, “Keluarlah kamu (pasukan kaum muslimin) semua bersama kami untuk menghadapi musuh Allah, yaitu dajjal.” Lalu mereka pun keluar, kemudian Ia (Isa) dilihat oleh dajjal si laknat yang baru saja mendakwa kepada manusia, bahwa ia adalah raja yang mendapat petunjuk dan pemimpin yang jenius serta bijaksana, bahkan mengaku sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi. Begitu ‘Isa dilihat oleh dajjal, dajjal pun meleleh seperti garam yang meleleh di di air. Kemudian dajjal kabur, tetapi ia dihadang oleh Isa di pintu kota Lud di Palestina. Sekiranya Isa membiarkan saja hal ini maka dajjal akan hancur seperti garam dalam air, akan tetapi Isa berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku berhak untuk menghajar kamu dengan satu pukulan.” Lalu Isa as. menombak dan membunuhnya, maka Isa as. memperlihatkan kepada semua orang darah dajjal di tombaknya. Maka tahu dan sadarlah para pengikut dajjal dari kalangan Yahudi, bahwa dajjal bukanlah Allah. Jika benar apa yang didakwakan dajjal(dajjal mengaku sebagai tuhan) tentulah dajjal tidak akan dapat dibunuh oleh Nabi ‘Isa.

Ketika itu Nabi Isa a.s. menyeru kepada umat Kristiani untuk mengucapkan kalimat tauhid, kembali kepada jalan yang haq seperti apa yang telah disampaikannya ribuan tahun lalu sebelum agama Nasrani dirusak oleh tangan Yahudi bernama Paulus dari Tarsus.

Menurut suatu riwayat Nabi Isa, setelah turun dari langit akan menetap dibumi sampai wafatnya selama 40 tahun. Ia akan memimpin dengan penuh keadilan, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist berikut: “Demi yang diriku berada ditangannya, sesungguhnya Ibn Maryam hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak upeti, melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’I, Ibn Majah dari Abi Hurairah).

Juga dkisahkan bahwa Nabi Isa akan melaksanakan haji: ”Demi Dzat yang diriku berada ditanganya, sesungguhnya Ibn Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak”.(HR Ahmad & Muslim dari Abi Hurairah).

Nabi Isa a.s. akan meninggal setelah membunuh dajjal, menjadi pemimpin yang adil, dan membenarkan risallah yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW di akhir zaman. Hanya saja kita tidak mengetahui kapan dan bilamana ini semua akan terjadi, karena Yahudi Talmudian terus-menerus bekerja siang-malam untuk menyesatkan umat manusia dari jalan kebenaran dengan membuat berita-berita palsu.

Majalah eramuslim digest edisi 6 “Genesis of Zionism” (Bagian 1) memuat kisah tentang lahirnya Bani Israil dan kedurhakaan serta kejahatan mereka terhadap para Nabi Allah, hingga peran mereka dalam episode awal Perang Salib. Edisi 6 ini akan berlanjut sebagai satu kesatuan di eramusim digest edisi 7 “Genesis of Zionism” (Bagian 2) yang mengupas kejahatan-kejahatan, jejak berdarah Yahudi sepanjang sejarah, dari masa Perang Salib, penguasaan mereka atas Inggris dan Perancis juga seluruh Eropa, pembentukan gerakan Zionis Internasional, penghancuran khilafah Islam Turki Utsmani, Perang Dunia I dan II, aktor di belakang kekejaman Nazi, sejumlah pembantaian terhadap rakyat Palestina, hingga konspirasi mereka di hari ini. Juga Anda bisa simak keyakinan Yahudi Talmudian tentang hari akhir dan apa saja syarat-syaratnya sebelum mereka akan meruntuhkan Masjidil Aqsha dan mendirikan kembali Haikal Sulaiman ketiga di atas puing-puingnya.(Rz)


Read More..

Kisah Uang Pensiun Yang Tidak Segera Habis…


Oleh : Muhaimin Iqbal
Cerita ini saya adopsi dari pengalaman salah satu nasabah Gerai Dinar. Tahun 2008 ketika dia berusia 65 tahun sudah merasa sangat lelah dengan pekerjaannya, dia ingin istirahat tidak lagi bekerja namun juga tidak ingin menjadi beban orang lain. Pada saat yang bersamaan dia ingin tabungannya mampu melawan inflasi sehingga dapat menopang kebutuhan hidupnya sampai akhir hayat. Yang dia lakukan ini bisa menjadi contoh bagi para pensiunan lainnya.

Pada pertengahan Oktober 2008 ketika harga Dinar berada di Rp 1,197,000 dia mengkonversi sebagian tabungan dan dana pensiunnya menjadi 1,000 Dinar atau setara Rp 1,197,000,000 saat itu. Sebagian yang lain dia pertahankan dalam Rupiah dan Dollar karena akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan jangka pendek lainnya.

Uang tabungan dan dana pensiun yang tidak dikonversikan ke Dinar habis untuk mencukupi kebutuhannya selama tiga tahun kemudian yaitu sampai September 2011. Selama tiga tahun tersebut Dinar belum digunakan tetapi juga hanya bertambah sedikit saja yaitu menjadi 1,010 Dinar, bila dikonversikan menjadi Rupiah pada September 2011 Dinar tersebut telah menjadi Rp 2,248,000,000,- atau mengalami kenaikan sekitar 88% dalam tiga tahun.

Untuk mempertahankan standar kehidupannya, beliau ini kemudian sejak Oktober 2011 menjual 10 Dinar per bulan untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Berikut adalah analisa pembandingnya seandainya pada Oktober 2008 tersebut beliau memutuskan untuk semua uangnya di deposito-kan (tidak membeli 1000 Dinar).

Dengan tingkat bagi hasil rata-rata deposito 6 % per tahun, bila dibelanjakan dengan standar kwalitas kehidupan yang tetap – setara 10 Dinar per bulan, maka tabungan beliau bila ditaruh di deposito akan habis pada bulan April 2016 atau ketika beliau baru berusia sekitar 73 tahun.

Dengan Dinar yang mampu melawan inflasi, tabungan Dinar beliau insyaallah akan cukup mempertahankan kwalitas kehidupan dengan 10 Dinar per bulan sampai bulan Februari 2020 atau sampai usia beliau 77 tahun. Dengan dana pensiun berbasis Dinar ini beliau tidak perlu mencemaskan efek inflasi karena hasil penjualan 10 Dinar tersebut akan menyesuaikan atau bahkan mengungguli angka inflasi.

Bila trend kenaikan harga Dinar tahun-tahun mendatang mengikuti trend kenaikan yang sama di kisaran 1.5 % per bulan selama 4 tahun terakhir, nilai 10 Dinar per bulan yang sekarang sekitar Rp 22,000,000 akan menjadi skitar Rp 85,000,000 pada saat dana pensiun tersebut habis di bulan Februari 2020.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah dana pensiun yang tidak segera habis tersebut. Pertama dengan pengelolaan berbasis Dinar yang kebal inflasi bahkan mampu mengunggulinya, para pensiunan akan mampu menjaga kwalitas kehidupannya untuk waktu yang lebih lama – ketimbang dana pensiun yang hanya di depositokan.

Kedua, meskipun dalam Dinarnya tetap - para pensiunan bisa menaikkan uang pensiunnya (dalam Rupiah) secara otomatis melawan inflasi. Pensiun dengan 10 Dinar per bulan (Rp 22,000,000) sekarang cukup – delapan tahun lagi 10 Dinar per bulan (Rp 85,000,000) insyaAllah juga tetap cukup. Itulah yang saya sebut uang pensiun yang tidak segera habis itu ! InsyaAllah.



Read More..