Tuesday, September 1, 2009

Nina adalah anakku


"Benar, om nggak akan marah ...?", ucap anak kecil itu. Setiap tahun, kakak ku mempunyai kebiasaan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal Ramadhan dan akhir Ramadhan.

"Benar, Om nggak akan marah..?", ucap anak kecil di panti itu. "Buat apa nak foto?".ucap kakakku. "Nina ingin tunjukkan foto kepada teman-teman Nina di sekolah", tambah gadis itu. Sungguh sangat mengharukan pertemuan dengan Nina itu.

Setiap tahun, kakak saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan.

Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, kakak saya bertemu dengan seorang bocah manis dan lucu. Dia masih sekolah kelas nol besar.

”Siapa namamu nak?” sapa kakak saya. ”Nama saya Nina Om”, jawabnya manja. ”Nina sudah punya sepatu baru?” tanya kakak saya. ”Sudah om, dikasih Abah (pemimpin panti-pen). Nina juga sudah punya baju baru”, urai Nina. “Kalau begitu Nina mau apa?” tanya kakak saya. “Nggak ah… ntar Om marah”, jawab Nina. “Nggak sayang, Om nggak akan marah,” kakak saya menimpali. ”Nggak ah… ntar Om marah” Nina mengulang jawabannya.

Kakak saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan kakak saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.”Ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang”, pinta kakak saya. ”Tapi janji ya Om tidak marah?” jawab Nina manja. ”Om janji tidak akan marah sayang,” tegas kakak saya. ”Bener Om nggak akan marah?” sahut Nina agak ragu.

Kakak saya menganggukkan kepala. Nina menatap tajam wajah kakak saya. Sementara kakak saya berpikir, ‘Seberapa mahal sih yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’. Sambil tersenyum kakak mengatakan “ayo Nak, katakan, jangan takut, Om tidak akan marah Nak.” ”Bener ya Om nggak marah?,” ujar Nina sambil terus menatap wajah kakak saya. Sekali lagi kakak saya menganggukkan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya ”Mmmm, boleh gak mulai malam ini saya memanggil Om..dengan paggilan Ayah?. Nina sedih gak punya ayah...”

Mendengar jawaban itu, kakak saya tak kuasa membendung air matanya. Segera dia peluk Nina, ”tentu Anakku.. tentu Anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan Om”. Sambil memeluk erat kakak saya, dengan terisak Nina berkata ”terima kasih ayah… terima kasih ayah...”

Hari itu, adalah hari yang takkan terlupakan buat kakak saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu berbentuk material kepada Nina, maka sebelum pulang kakak bertanya lagi pada Nina, ”Anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu dan kakak-kakakmu, apa yang kamu minta nak?” , ucap kakakku.

”Kan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil Ayah,” jawab Nina.”Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan Ayah kasih.” jelas kakak saya. ”Baiklah, nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, aku minta Ayah bawa foto keluarga bareng yang ada Ayah, Ibu dan kakak-kakak Nina, boleh kan Ayah?” Nina memohon sambil memegang tangan kakak. Tiba-tiba kaki kakak lunglai. Dia berlutut di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya, ”buat apa foto itu Nak?” “Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.

” Kakak saya memeluk Nina semakin erat, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya di hari itu. Terima kasih Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta.

Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan kita akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan kita di dunia... (eramuslim/M.S.Balda)



Read More..

Kepasrahan yang Mencerdaskan Jiwa


Syekh Ibn Athaillah mengajak pembaca untuk menghayati posisi kita selaku hamba Allah. Kita ini hamba. Dan Allahlah Sang Majikan. Sebagai hamba-Nya, kita tertuntut untuk memusatkan perhatian pada upaya mengabdi kepada-Nya. Amatlah tidak sopan bila kita justru mengerahkan segenap daya untuk memerhatikan dan memuaskan kepentingan diri sendiri. Karena inilah Ibn Athaillah mengingatkan kita akan betapa pentingnya isqdth al-tadbir—tema utama buku ini—yakni mengistirahatkan diri dari turut mengatur dan menginginkan sesuatu untuk keperluan hidup yang kita lakoni.

Buku ini—isqdth al-tadbir—menawarkan cara tepat untuk memandang hidup. Karenanya, buku ini bak kacamata, yang dengannya matahati kita yang rabun bisa melihat lebih sempurna. Dengan penglihatan yang sempurna, tentulah hidup ini menjadi semakin jelas. Dan dengan jelasnya hidup, tentunya perjalanan kita menempuhnya menjadi lebih lurus dan lancar—tidak nabrak-nabrak dan tidak nyasar-nyasar.

Dalam pandangan Ibn Athaillah, pengabdian kita kepada Allah seharusnya tidak hanya ditunaikan dengan menjalankan kewajiban, yakni segala yang diperintahkan Allah, namun pula dengan menjalani ketetapan, yakni segala yang ditentukan Allah. Kematangan iman hanya bisa dirasakan bila kedua hal ini secara sempurna dilaksanakan. Dengan demikian, sebenarnya ada dua hukum yang patut dipatuhi oleh orang beriman, yaitu hukum taklif yang sudah lazim kita kenal sebagai berbagai perintah dan larangan Allah yang mesti dijalankan selama hidup, dan hukum takdir yang mencakup ketentuan dan keputusan Allah yang mesti dijalani dalam hidup.

Keperluan atau kebutuhan hidup makhluk sebetulnya adalah sesuatu yang sudah dan terus dijamin oleh Allah. Dengan ilmu-Nya, Allah sudah mengatur diri kita bahkan sebelum kita ada. Setelah kita terlahir di dunia, Allah pun terus mengatur urusan kita. Akan tetapi, setelah berakal, kebanyakan manusia seolah lupa bahwa selama ini urusan hidupnya ada dalam pengaturan Allah. Setelah berakal, mereka seakan ingin mengambil alih 'hak pengaturan' itu; mereka ingin mereka sendiri yang mengatur segenap urusan hidup mereka. Dalam pikiran Ibn Athaillah, ini hal yang tidak betul; ini justru sebentuk ketidak bersyukuran atas nikmat akal.

Allah tidak berhenti mengurus kita sekalipun kita sudah berakal. Ketentuan-Nya terus berlaku. Akal kita semestinya kita gunakan untuk memahami dan melaksanakan secara baik perintah Allah, dan bukan untuk melanggarnya; untuk memahami dan melakoni secara baik ketentuan Allah, dan bukan untuk menolaknya.

Yang lebih penting untuk kita perhatikan adalah apa yang dituntut dari kita, bukan yang dijamin untuk kita. Dalam Al-Hikam, Syekh Ibn Athaillah bertutur, "Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti dari rabunnya mata batinmu." Karena itu, "Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu, karena segala yang telah diurus oleh 'Selainmu' (yakni Allah), tak perlu engkau turut mengurusnya. "

Lagi pula, "Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir." Maksudnya, seberapa banyak pun energi yang kita curahkan untuk memenuhi suatu keinginan, tetap saja itu tak akan tergapai jika tak sesuai dengan keputusan Tuhan. Kita tak dapat memenangkan kehendak kita di atas kehendak-Nya. Kita bahkan kerap menemukan bahwa takdir dan ketentuan yang berlaku pada diri manusia bukanlah yang sesuai dengan pengaturan olehnya. Pengaturan manusia ibarat rumah pasir di tepi laut, yang bisa demikian mudah runtuh tatkala ombak takdir Tuhan berlabuh.

Dalam hidup, kita juga acap menemukan bahwa apa yang menurut kita baik ternyata bisa membawa keburukan, dan sebaliknya, apa yang kita sangka buruk ternyata malah mendatangkan kebaikan. Boleh jadi ada keuntungan di balik kesulitan, dan ada kesulitan di balik keuntungan. Boleh jadi pula kerugian muncul dari kemudahan, dan kemudahan muncul dari kerugian. Mana yang berguna dan mana yang berbahaya pada akhirnya adalah sesuatu di luar pengetahuan kita.

Oleh sebab itu, dalam pandangan Ibn Athaillah, 'sibuk mengatur nasib sendiri' sejatinya adalah tindakan yang kurang lebih sia-sia, apalagi bila kesibukan ini melalaikan kita dari tugas-tugas sebagai hamba. Lucu sekali bila manusia tetap berhasrat akan pengaturan diri. Pertama, karena ia pada dasarnya tak mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya. Dan kedua, karena Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik buat para makhluk-Nya senantiasa dekat dan mengatur secara baik. Allah itu dekat dan karenanya senantiasa memberi perhatian kepada kita sekalipun tanpa sepengetahuan kita. Tidak percaya kalau Dia tak akan mengabaikan kita adalah bukti lemahnya iman kita. Allah juga sayang dan karenanya selalu mengatur urusan kita secara baik. Pengaturan kita terhadap diri kita sebenarnya adalah bukti ketidaktahuan kita akan pengaturan Allah yang baik terhadap diri kita—dan karenanya adalah juga bukti minimnya cahaya makrifat di hati kita.

Lebih dari sekadar ironi dan kesia-siaan, Ibn Athaillah juga mengategorikan sikap sibuk mengatur urusan diri sebagai sebentuk syirik rububiah. Bila syirik uluhiah berarti meyakini ada tuhan lain yang patut disembah selain Allah, atau menentang ketuhanan Allah; syirik rububiah berarti meyakini ada pengatur lain yang turut mengurus kehidupan selain Allah—dalam hal ini kita 'meyakini' bahwa kita bisa menjadi pengatur selain-Nya—atau menentang pengaturan Allah. Bila demikian, sesungguhnya Ibn Athaillah bermaksud menyadarkan kita akan sesuatu yang sangat berbahaya dalam konteks penghambaan kita kepada Allah. Dan rasa-rasanya buku ini menjadi wajib dibaca oleh mereka yang berislam, yang menyatakan keberserahan diri mereka kepada Allah.

Mereka yang memelihara kesopanan kepada Allah dan tidak ingin jauh dari-Nya, tentu akan mencoba menggugurkan tadbir dan iradah mereka yang membuat mereka terhijab (tertabiri) dari Allah. Mereka akan keluar dari gelapnya tadbir (sikap mengatur diri) menuju terangnya tafwidh, yakni penyerahan urusan atau pilihan hidup kepada Allah, hingga mereka menyaksikan bahwa diri ini diatur dan tidak turut mengatur, ditentukan dan tidak ikut menentukan, serta digerakkan dan tidak bergerak sendiri. Untuk ini diperlukan sikap rida dengan pengaturan Allah. Rasa berat hati hanya akan membuat hati tetap terhijab dari cahaya Allah. Selain itu diperlukan pula sikap selalu berbaik sangka kepada Allah. Allah lebih tahu mengenai apa yang terbaik buat hamba-Nya. Dia pun sudah berjanji bahwa siapa bertawakal kepada-Nya, Dia akan mencukupinya. Lebih dari rida dan berbaik sangka, mereka juga akan senang dan mencintai segala kehendak dan keputusan Allah Sang Pemilik anugerah.

Pembaca budiman, model kepasrahan ala tasawuf Ibn Athaillah seperti ini tidaklah perlu dicap sebagai semacam kepasifan dalam hidup. Kepasrahan atau keberserahan diri kepada pengaturan dan kehendak Allah tidaklah sama dengan berhenti bekerja, berhenti mengais rezeki, ataupun berhenti berdoa lantaran menyerahkan semuanya kepada Allah. Bahkan, pembaca akan mendapatkan bahwa adab berharta, mencari rezeki, berusaha, dan berdoa adalah tema penting dalam buku ini, yang dengannya Ibn Athaillah bermaksud menepis pandangan yang mengesankan kepasrahan sebagai kemalasan.

Dari segi "cara hidup", baik orang yang berserah ataupun orang yang tidak berserah nyaris tiada beda-nya. Yang membedakan mereka adalah cara mereka memandang, merasa, dan menyikapi hidup. Dalam hal ini, ajaran isqath al-tadbir sebetulnya adalah juga ajaran mengenai kecerdasan emosional-spiritual . Sebab, pada praktiknya, isqath al-tadbir akan setidaknya membuahkan beberapa sikap hati berikut ini:

Pertama, ketidakrisauan akan sarana-sarana penghidupan. Sikap ini penting agar hidup tidak dipenuhi perasaan cemas, khawatir, gundah, dan gelisah yang menempatkan hidup kita selalu dalam tekanan. Tak hanya itu, ketenangan itu sendiri juga penting demi kesuksesan kita meraih sarana-sarana penghidupan.

Kedua, ketidakbergantungan pada amal atau usaha. Kebergantungan pada perbuatan atau daya upaya acap kali berbuntut keputusasaan dan frustrasi pada saat kendala dan kegagalan ditemui. Dengan bergantung kepada Allah, kita bisa terhindar dari keputusasaan yang mencelakakan. Bersandar kepada-Nya membuat kita selalu bangkit dan selamat dari perasaan terpuruk.

Ketiga, keridaan pada kenyataan. Kekecewaan, kekesalan, dan ketidakpuasan pada kejadian-kejadian yang menimpa hanya akan menguras energi kita yang sebetulnya bisa kita gunakan untuk sesuatu yang positif. Dengan rida pada kenyataan, segetir apa pun itu, kita akan selalu siap menghadapinya dan meresponsnya secara wajar dan berguna.

Keempat, keberharapan atau optimisme hidup. Dengan bersandar kepada Allah, dan percaya bahwa Dia selalu memberikan yang terbaik, kita melipat gandakan rasa optimis kita—terlepas dari betapa buruk hal-hal yang menimpa kita di mata orang. Dengan tak pernah lalai bahwa Allah Maha Menolong dan Mahakuasa, dengan tak pernah kehilangan rasa butuh kepada-Nya, kita menjadi terbebas dari penjara keterbatasan, dan merasa lapang sekalipun dikepung oleh berbagai ketidakmungkinan—serasa menjadi pemenang dalam hidup selamanya. Selamat mencoba!




Read More..

Saturday, August 1, 2009

Ketika Mahasiswa Islam Jauh dari Tuntunan Agama


Satu hal paling urgen yang seringkali dilalaikan oleh banyak manusia adalah tentang hakikat dirinya sebagai seorang hamba Allah Swt.. Manusia acap kali mengabaikan atau bahkan sengaja melupakannya. Dan dari akar masalah inilah timbul berbagai tindakan dosa, maksiat, kejahatan, dan kerusakan dalam kehidupan. Manusia seperti ini hidup dalam kebebasan berbuat dan bereskpresi serta melakukan apapun yang dikehendaki hatinya. Hidup tanpa ada aturan yang jelas. Orang-orang yang seperti demikian telah hilang fungsi akal dan hatinya. Akalnya tidak lagi bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Dan hatinya tidak lagi bisa membedakan antara yang benar dan salah.

Allah Swt. telah mengatur kehidupan manusia dalam al-Qur`an dan sunnah Rasulullah Saw.. Manusia yang menyadari dirinya sebagai seorang hamba akan selalu mengikuti petunjuk yang diturunkan Allah Swt. dan diajarkan Rasul Saw.. Hidupnya akan penuh dengan kebaikan dan nilai-nilai manfaat. Manusia seperti demikian adalah orang-orang yang Allah gambarkan sebagai ûlul albâb, orang-orang yang berakal. Sehingga nampak jelaslah adanya perbedaan yang mencolok antara orang-orang yang menjalankan fungsi akal dan hatinya. Dan adanya perbedaan antara orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang yang hatinya sakit atau telah mati.


Kita sebagai pelajar dan mahasiswa Islam tentu harus lebih cerdas dalam hal ini. Kita telah belajar Al-Qur`an, Hadits, Aqidah, Fiqh dan beraneka ragam ilmu agama lainnya. Dari berbagai pembelajaran tersebut banyak hal yang telah kita pahami dan ketahui. Kita sudah mengenal Allah Swt., sunnah Rasul Saw., aturan-aturan syar`i, dan batas-batas dalam berbuat serta berekspresi. Ada koridor yang harus dijaga dan tidak boleh dilanggar. Kita bukan seperti orang-orang kafir yang boleh berbuat seenak hati, bukan seperti orang-orang awam yang masih dangkal dan jauh pemahaman agamanya. Tapi kita adalah muslim dan penuntut ilmu syar`i.

Sebagai seorang pelajar kita tidak hanya dituntut pintar, menguasai berbagai macam pengetahuan, tapi kita juga dituntut untuk soleh secara pribadi, akhlak, sikap, dan dalam hubungan dengan orang lain. Kesalehan yang mencakup seluruh aspek. Ini yang tidak dipahami dan disadari oleh sebagian pelajar islam. Sehingga kita banyak melihat pelajar islam sering kali melakukan tindakan-tindakan yang tidak layak bagi seseorang yang bergelar pelajar islam.

Contoh yang sering kita lihat adalah pacaran. Pacaran sudah menjadi budaya yang sulit rasanya untuk dihilangkan. Jalan bareng, nelpon tanpa batas waktu dan kata, chating yang berkepanjangan dan sebagainya telah begitu mengakar dalam diri sebagian pelajar islam. Interaksi yang terlalu dekat dengan lawan jenis ketika dalam kegiatan-kegiatan, acara rihlah, bahkan dalam forum-forum keilmuwan dan dakwah juga sering terjadi. Kerusakan moral telah meluas dan semakin parah.

Sebagian muda-mudi ada yang sentimen atau berpandangan negatif pada mahasiswa dan mahasiswi yang menikah ketika masih kuliah. Akan tetapi, apakah mereka tidak risih melihat mahasiswa/i yang pacaran, yang belakangan ini sudah menjadi pemandangan biasa. Seperti , jalan berduaan, makan di restoran berduaan, sehingga kita sangat sulit membedakan mana yang telah menikah dan mana yang belum, karena prilaku mereka seperti orang yang sudah menikah.

Dari segi pakaian, masih banyak kita temukan kaum muslimah yang pakaiannya ketat, transparan atau mengundang perhatian, sedangkan ia belajar di institut pendidikan Islam. Atau mahasiswa yang penampilannya tidak mengesankan dirinya seorang pelajar islam.

Hal lainnya adalah, tidak terjaganya mata, mata yang sering jelalatan dan melihat sesuatu yang akan mengotori hati, pikiran, dan membangkitkan hasrat nafsu birahi. Atau menghabiskan waktu dan hari-hari dengan hiburan-hiburan cengeng, yang membuat seseorang lemah mental dan iman. Hiburan yang tidak membangun jiwa, tidak menambah ilmu dan manfaat, hiburan yang tidak mendekatkan seseorang pada kebaikan dan pada Allah Swt.. Dan banyak hal lainnya yang kalau kita sorot lebih jauh dan mendalam, yang terjadi di lingkungan dan dalam kehidupan seorang manusia muslim dan mahasiswa/i islam.

Setiap orang memang boleh berekspresi, tapi harus diingat ada batasan yang mesti ia perhatikan dan jaga. Bukannya bisa berbuat seenak hati. Kita harus menyadari bahwa diri kita adalah seorang hamba Allah Swt.. Setiap saat Allah Swt. senantiasa melihat, mendengar dan mengetahui kata-kata, perbuatan dan isi hati kita. Kalau hal ini betul-betul kita pahami dengan baik, tentu berbagai kerusakan akhlak, moral, amal, ilmu dan seterusnya tidak akan terjadi dalam kehidupan kita.

Ketika band dijadikan sebagai hiburan oleh para penuntut ilmu agama, timbul pertanyaan, kenapa harus musik band? Apa tidak ada lagi hiburan lain yang lebih manfaat dan lebih pantas diadakan oleh kita selaku penuntut ilmu agama? Kenapa kita seolah-olah meninggalkan al-Qur`an sebagai penghibur hati? Walaupun ada beberapa alasan mereka yang membenarkan musik band, diantaranya adalah ungkapan, "Kan yang penting lirik lagunya islami," akan tetapi dari alasan ini muncul sebuah pertanyaan, apakah mereka yang mendengarkannya merenungi atau menikmati kata-kata yang ada dalam lagu tersebut, atau mereka terhibur adalah semata-mata karena alat musik yang dimainkan? Menurut penulis, masih banyak alternatif lain yang lebih pantas bagi kita sebagai penuntut ilmu syar`i.

Tulisan ini tidaklah bermaksud untuk menyudutkan beberapa pihak, tapi penulis ingin menghimbau pada kita semua untuk sama-sama mengenali hakekat diri kita sebagai seorang manusia, seorang hamba Allah Swt. dan seorang pelajar islam. Sehingga dengan adanya kesadaran yang penuh dalam diri kita akan hal ini, bisa menghantarkan kita semua untuk menjadi pribadi muslim yang soleh dan solehah sebagaimana yang diinginkan Allah Swt.. Kita hidup di dunia hanya sebentar, dan waktu sebentar itu tidaklah tepat kiranya kita gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna apalagi untuk hal-hal yang akan mencelakakan kita di akhirat kelak.

Memang setiap kita punya persepsi masing-masing dan setiap individu berhak menentukan sikap dan pilihan terhadap dirinya. Namun alangkah bijaknya kita yang lemah dan tidak tahu ini berkaca pada petunjuk Allah Swt. dan Rasul Saw. dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Sehingga nampak jelaslah bagi kita kebenaran dan kemungkaran itu, jelaslah bagi kita jalan mana yang harus kita tempuh dan jalan mana yang harus kita tinggalkan.

Terakhir, semoga pembaca bijak dalam memahami tulisan ini , mengambil sisi positif dan manfaatnya. Dan bila terdapat kesalahan dalam penempatan atau penggunaan kata, terlebih dahulu penulis menyampaikan permintaan ma`af dan mengharapkan perbaikan dari pembaca sehingga diantara kita terbina saling mengingatkan pada kebaikan.

Salam ukhuwah dari Mesir,
oleh M. Arif As-Salman
Read More..

Setahun Tanpa Penghasilan


Ini adalah kisah nyata dari pengalaman pribadi saya, dengan harapan agar kisah saya dapat dijadikan motivator bagi rekan-rekan yang mengalami nasib serupa saya.

Saya adalah karyawan bank yang mempunyai penghasilan yang bisa dibilang lumayan. Kredit pun bertebaran karena mudahnya persetujuan aplikasi. Dan hal itu juga yang menyebabkan hutang saya menggunung karena begitu mudahnya kredit saya terima. dari kartu kredit yang nilainya jutaan sampai KTA yang nilainya puluhan juta. Yang akhirnya, penghasilan yang saya terima tiap bulan menjadi minus karena pemotongan cicilan tiap bulannya.

Sebelumnya, saya pun bukanlah orang yang religi. shalat jarang saya laksanakan, apalagi puasa. saat shalat jumat saya malah nongkrong di tempat lain dan sering meremehkan orang yang melaksanakan shalat. saya malah sempat berujar " hei, ngapain sih shalat? emang kalo beres shalat ada yang ngasih duit??"


Tetapi saat saya ditimpa bencana finansial karena tagihan saya, bukannya sadar, saya malah marah ama Allah. Di saat anak saya membutuhkan susu dan pampers, uang sekolah, dan saya tidak bisa memenuhinya, saya malah marah ama Allah. " Ya Allah , tega bener kamu menelantarkan keluarga saya!!"

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, istri saya berjualan tas sedangkan saya berjualan telur asin. Hasilnya jelas jauh dari cukup sampai suatu hari saya menonton acara Yusuf Mansur yang mengatakan bahwa hutang adalah salah satu belitan dari ular berkepala sembilan yang diakibatkan kita sering meninggalkan shalat.

Di saat itu , saya seperti diberi hidayah dan langsung mendisiplinkan shalat saya, termasuk shalat dhuha. Diri saya pun seperti haus ilmu dan selalu mencari tambahan ilmu baik dari majelis taklim maupun dari acara di TV.

Awalnya memang tidak terjadi sesuatu, tapi saya ingat ucapan Yusuf Mansur, kalau kita udah kelamaan tidak melaksanakan shalat, maka ada proses untuk penghapusan dosa dulu untuk menghilangkan pembatas antara kita dengan Allah, barulah Insya Allah keinginan kita terpenuhi.

Selama hampir satu tahun, kondisi keuangan saya tidak berubah. Kebutuhan sehari-hari pun disupply oleh istri saya yang pada akhirnya malah menggunakan uang modal yang mengakibatkan tidak dapat berjualan lagi.

Tetapi Alhamdulillah, saya tetap yakin akan pertolongan dari Allah. Dan justru setelah saya mulai berhenti main hitung-hitungan dengan Allah, maksudnya saya ngitung kalo saya shalat kudu dapet rejeki, justru disanalah rejeki mulai bertebaran. meskipun saya masih belum mendapatkan penghasilan dari kantor saya, tapi rejeki berdatangan dari sana sini.

Sering sekali saya berangkat dari rumah tanpa membawa uang sepeser pun dan Alhamdulillah saat pulang saya dapat membawa uang untuk kebutuhan hidup. hutang pun meski belum terbayar, tapi saya merasa sangat diringankan dengan berkurangnya telepon dari debt collector, dll.

Yang sempat bikin saya terenyuh, pernah ketika ada rapat di kantor dan saat maghrib saya melaksanakan shalat di mushola. Saat selesai shalat, tiba-tiba di belakang ada rekan saya yang langsung menyerahkan amplop, uang rapat katanya. Langsung saya teringat akan ucapan dulu yang meremehkan rekan yang shalat dan saya pun langsung tersungkur memohon ampun dari Allah SWT.

Inti dari cerita ini adalah, semakin kita menggantungkan hidup kita hanya kepada Allah SWT, semakin kita akan merasakan bantuan dari Allah SWT. percayalah
oleh Andri Budi Wibowo
Read More..

Wednesday, July 1, 2009

Ketentuan Alam


" Angin adalah udara yang bergerak yang di sebabkan oleh perpindahan suhu " kata guru IPA, " lalu kalau udara yang diam disebut apa pak ?" tanya seorang anak penasaran " ya sudah gak usah di sebut-sebut kan dia sudah diam" kata Pak Guru bercanda dengan muridnya. Kejadian pada alam semesta akan selalu mengundang tanda tanya bagi manusia dan sebagai akibatnya berbagai disiplin ilmupun telah muncul untuk menjabarkan semua kejadian tersebut. Sebuah mekanisme raksasa sedang bekerja bagi kepentingan mahluk yang bernama manusia.
Mekanisme itu tidak hanya terjadi diluar tetapi juga pada diri manusia. Makanan dan minuman yang kita konsumsi tadi pagi, tanpa di perintah telah membagi tugasnya masing-masing yaitu yang cair lewat depan dan yang padat lewat belakang dan tidak pernah terbalik.

" Sepedanya kemana Pak, kok jualan jalan kaki" tanya saya kepada penjual balon yang sedang beristirahat di dekat rumah. " Baru di jual Pak soalnya kemaren uang lagi tidak ada untuk membawa anak ke rumah sakit, kena diare " jawab Bapak penjual balon tersebut. " Yah kok Bapak itu sudah gede masih main balon, mending buat yara saja" kata anak saya ketika melihat balon ditangan bapak tersebut yang tinggal satu. " gak enaknya memang seperti ini kalo balon nya tinggal satu atau dua, kita dikirain sedang main balon hehehe " sahut penjual balon tersebut yang mendengar pertanyaan anak saya. Akhirnya balon tersebut saya beli, tetapi baru ketika balon tersebut berpindah tangan ketangan anak saya, balon tersebut pecah karena tergores ranting pohon. " hahaha inilah yang dinamakan proses perpindahan rezeki yang tidak pernah diduga, sebuah mekanisme pembagian rezeki yang luar biasa. Anak saya belum mendapat rezeki sebuah balon tetapi bapak sudah berhak mendapat rezeki berupa pembayaran balon " kata saya kepada penjual tersebut. Walaupun ikut tersenyum tetapi tampak raut muka kecewa dan merasa tidak enak hati kepada anak saya...


Sunnatullah selalu bekerja dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Berbagai definisi telah di buat untuk menggambarkan sunnatullah tersebut seperti hukum sebab akibat, hukum kekekalan energi, hukum relativitas, hukum tarik menarik dan lain sebagainya. Sunnatullah selalu bersifat umum, orang awam biasanya menyebut dengan istilah 'ketentuan alam'. " Yah kenapa ada orang yang mukanya sama tapi namanya beda dan ada juga yang namanya sama tapi mukanya beda" kata anak saya yang berinteraksi dengan ketentuan alam tersebut tanpa dia sadari "
Untuk wajah Allah yang menetukan tetapi untuk nama kitalah yang menentukan, nah kitakan sebagai manusia tidak pernah tahu apa yang Allah mau tetapi Allah selalu mengetahui apa yang kita mau. Tidak setiap yang kita mau bisa terkabul, itu semua adalah rahasia Allah" kata saya yang berusaha keras mencari kalimat yang tepat untuk anak berusia empat setengah tahun, dan saya gagal.

Banyak yang telah melupakan sunnatullah ini bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik, bahwa segala kebaikan dan keburukan yang kita lakukan akan selalu mendapatkan akibatnya, bahwa apapun yang sekarang kita pikirkan akan membentuk sifat yang akan kita tampilkan dan bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Dari tanah kembali ketanah, meskipun tanah tersebut pernah sempat bermain-main dengan air dan angin. Segala materi tersebut memang selalu mengaburkan wujud asli kita. Ya, air yang kata orang adalah sumber kehidupan
telah mampu mengubah tanah menjadi batu. Wasalam : david

Read More..

Pandangan Islam Tentang Pendidikan


By: Prof. Dr. Achmad mubarok MA

Bagi konselor (agama) yang menangani konseling pendidikan, pertama tama ia harus memiliki wawasan Islam tentang pendidikan. Pandangan Islam tentang pendidikan dapat dirumuskan antara lain.

1. Bahwa belajar merupakan perintah utama dari agama Islam, tercermin pada ayat yang pertama kali turun surat al 'Alaq 1-4.

"Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan, yakni telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dengan nama tuhanmu yang Maha Mulia, yang telah mengajarkan dengan pena, yakni telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya".

Membaca, secara psikologis mengandung muatan; proses mental yang tinggi, proses pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikiran (reasoning), daya kreasi (creativity) dan sudah barang tentu proses psikologi.
...

Secara sosiologis, membaca juga mengandung muatan: proses yang menghubungkan perasaan, pemikiran dan tingkah laku seseorang dengan orang lain. Membaca juga merupakan sistem perhubungan (Communication system) yang merupakan syarat mutlak terwujudnya sistem sosial. Selanjutnya penggunaan bahasa (yang tertulis dan dibaca) merupakan gudang tempat menyimpan nilai-nilai budaya yang dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2. Bahwa ilmu dan orang berilmu sangat dihargai dalam Islam. Apresiasi Islam terhadap ilmu bukan hanya terkandung dalam ajaran tetapi juga terbukti dalam sejarah, terutama sejarah klasik Islam. Dalam al Qur'an disebutkan bahwa orang mu'min yang berilmu dilebihkan derajatnya (Q/58:11). Mereka juga diberi gelar ulu al albab, ulu an nuha, ulu al abshar, dan zi hijr.(Q/39:9, Q/59:2, Q/20:54).

3. Memilih ilmu dibanding harta adalah merupakan keputusan yang tepat dan menguntungkan, baik secara moril maupun materiil. Ketika Nabi Sulaiman ditawari Allah SWT untuk memilih ilmu, harta atau kekuasaan, Sulaiman memilih ilmu, dan dengan ilmu maka ia kemudian memperoleh harta dan kekuasaan. Ali bin Abi Talib pernah berkata bahwa ilmu bisa menjagamu, sedangkan harta, engkaulah yang harus menjaganya. Harta jika diberikan kepada orang lain maka harta itu dapat berkurang, tetapi ilmu semakin sering diberikan kepada orang justeru semakin bertambah.

4. Perjuangan di jalan ilmu (sebagai murid, guru atau fasilitator) akan memudahkan jalan menuju kebahagiaan surgawi.

"Barangsiapa memilih jalur ilmu maka Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga". (H.R.Turmuzi)

5. Pertanggungjawaban ilmu adalah pada seberapa jauh mengamalkannya.
artinya: Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah.

artinya: Kelak di akhirat, manusia tidak bisa berkutik sbelum mempertangungjawabkan empat hal,(1) tentang umurnya, untuk berbuat apa saja, (2) tentang masa mudanyya untuk mempersiapkan apa saja, (3) tentang ilmunya, seberapa jauh ia mengamalkannya, dan (4) tentang harta, darimana ia memperoleh dan untuk apa harta itu digunakan. (Hadis)

6. Orang 'alim yang tidak mengamalkan ilmunya, secara moral dosanya lebih besar dibanding orang kafir (yang memang tidak memiliki ilmu).
"Orang 'alim yang tidak mengamalkan ilmunya, akan disiksa lebih dahulu (di akhirat) sebelum siksaan bagi penyembah berhala" (Zubad).

7. Pendidikan harus diorientasikan ke masa depan, untuk menyongsong dan mengantisipasi perkembangan mendatang.

"Didiklah anak-anakmu berenang dan memanah, sesungguhnya anak-anakmu itu akan hidup pada zaman yang bukan zamanmu". (Ali bin Abi Talib)

8. Sesuai dengan kapasitas masing-masing, setiap orang diberi peluang yang pas untuk berkecimpung dalam bidang ilmu:
artinya: Jadilah kamu (1)orang pandai (dan mengajar), jika tidak bisa maka jadilah (2) murid, jika tidak maka jadilah (3)pendengar yang baik, jika mendengarpun tidak sempat, jadilah (4) orang yang mencintai ilmu, dan sekali-kali jangan menjadi orang yang ke lima (tidak pintar, tidak mau belajar, tidak mau mendengar dan tidak suka ilmu).

9. Jika mau menekuni suatu ilmu, pilihlah ilmu yang berguna, yang relevan dengan kemaslahatan hidup, jangan asal ilmu, Rasul pernah berdoa.

"Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari hati yang tidak khusyu', dan dari nafsu yang tidak mau kenyang serta dari doa yang tak dikabulkan". (H.R. Ahmad dalam Musnadnya)

10. lmu merupakan investasi jangka panjang.

"Jika manusia mati maka putuslah produktifitas mereka, kecuali tiga hal, (1) amal jariah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya oleh orang lain, dan (3) anak saleh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya". (H.R. Bukhari)

11. Sumber ilmu ada dua, yaitu dari Allah SWT, melalui wahyu, ilham dan intuisi, dan ilmu yang diproduk oleh akal manusia.

12. Betapapun pandainya seseorang, ia tidak boleh menyombongkan diri, karena pasti ada orang lain yang melebihinya, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

13. Menurut Imam Gazali ada tiga kategori ulama, yaitu hujjah, hajjaj dan mahjuj. Ulama dalam kapasitas hujjah adalah orang yang alim, wara', zuhud dan mengutamakan agama dibanding yang lain. Hajjaj lebih dari itu, mampu membela agama dari serangan luar, dan mahjuj adalah ulama yang 'alim tetapi sifatnya tidak mulia karena ia lebih menyukai kehidupan dunia dibanding kemuliaan ukhrawi.

14. Dari tiga lingkaran pendidikan, rumah tangga, sekolah dan lingkungan masyarakat, pendidikan dalam rumah merupakan pondasi utama, meskipun sekolah dan lingkungan masyarakat juga besar pengaruhnya. Oleh karena itu contoh dan teladan orang tua kepada anak-anaknya di rumah besar sekali andilnya dalam pembentukan generasi.

15. Ilmu boleh dipelajari dari sumber manapun yang tepat sesuai dengan bidangnya. Tidak mengapa seorang muslim belajar matematik kepada orang Kristen, bela jar teknologi kepada orang Yahudi, belajar berburu kepada orang primitif.
artinya: Ambillah hikmah itu dari manapun ia ke luar.

"Hikmah itu ibarat barang milik mu'min yang hilang, yang bisa ditemukan di mana saja, oleh siapa saja".

16. Pergi merantau dalam rangka mencari ilmu dipandang sangat positif dalam pengembangan diri dan wawasan.
"Tuntutlah ilmu, meski sampai jauh ke neegri Cina".
"Merantaulah, engkau pasti akan menemukan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, karena sesungguhnyya nikmatnya hidup itu justeru terasa dalam kesulitan". (Imam Syafi'i)

17. Jalan hidup yang benar akan membantu keberkahan ilmu, sementara jalan hidup yang salah akan menghilangkan nilai keberkahan ilmu.

"Aku pernah mengeluh kepada kyai Waki' tentang kesulitan belajar, maka guruku menganjurkan agar aku menjauhi perbuatan maksiat. Dia juga mengajarkan kepadaku bahwa cahaya ilahiyyah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat". (Imam Syafi'i)

18. Bahwa kewajiban belajar itu tidak dibatasi oleh umur, oleh karena itu hidup berumah tangga tidak menghalangi keharusan menuntut ilmu, atau nikah dan belajar dapat sejalan, tidak harus dipertentangkan. Prinsip pendidikan dalam Islam adalah pendidikan seumur hidup, long life education;

"Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat".

Read More..

Hasil Kerja Media Setengah Hati


......Apakah kuku diri ini harus selalu hitam pekat, apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan, Tuhan bimbinglah hambamu ini agar tak gelap mata, dan tolong sampaikan rasa ingin ku kembali bersatu ...."

Potongan lagu Ebiet.G.Ade tersebut dahulu cukup populer dalam menggambarkan betapa susahnya ketika menjadi narapidana, seperti cap hitam yang menempel terus didahi yang menjadikan jarak mereka dengan segala prasangka buruk orang lain ketika terjadi tindak krimal, sangat dekat. Status narapidana begitu di agungkan para preman. Semakin sering mereka berkunjung kesana semakin seramlah nama mereka. Sedangkan untuk orang yang ingin bertobat, status tersebut seperti menjadi momok yang amat menakutkan. Tatapan mata orang lain seperti pedang yang menghujam jantung dan keluarga mereka seperti ikut terseret oleh bayang-bayang masa lalu...


Drama kehidupan terus berlangsung. Paradigma masyaraktpun banyak berubah, seiring perputaran waktu. Opini tidak lagi berdiri sendiri. Media membantu dengan senang hati. Sekarang semua tampak samar. Untuk orang tertentu, keluar dari jeruji besi bisa membuat mereka lebih terkenal dibandingkan sebelum mereka menginap disana. Media sanggup membentuk para pendusta jadi tampak tanpa dosa.
Untuk masyarakat bawah, status inipun sudah mulai bisa diterima, kecuali mungkin untuk desa atau kampung yang penduduknya sedikit. Media informasi seperti lidah bertuah yang mempu menghipnotis para pembaca atau penontonnya menjadi lebih ' bijaksana '.

Segala wacana yang berkembang di masyarakat, baik itu masalah politik, budaya, olah raga, sampai infotainment merupakan produk media informasi. Lihatlah para calon presiden kita di televisi tampak ramah-ramah dan baik hati, murah senyum dan pintar nyanyi. Pada koran-koran atau informasi dari dunia maya cara berfikir kita digiring oleh para pendukungnya. Yang pro jk-win menjatuhkan lawannya dengan issue neolib. Di lain sisi para pendukung sby lebih menfokuskan dalam memamerkan hasil-hasil yang telah dicapai mereka selama satu periode.
Sebagai orang yang berfikir biasa-biasa saja, pertanyaan saya sering membuat kesal para pemikir hebat yang berfikir jauh kedepan, seperti " memangnya kalo milih neolib lalu semua orang jadi neolib, trus selama lima tahun kedepan memangnya si neolib itu mau ngapain saja ? atau memangnya hasil yg bisa didapat sekarang gak bisa didapat oleh jk-win bukankah dulu wakilnya adalah jk yang berarti hasil tersbut juga hasil kerja dari jk ? dengan kesal teman menjawab " kalo asal pilih umat Islam bisa terpinggir tahu !!" loh memangnya dulu ada
dimana ?

" Eh To siapa yang menang pertandingan bola semalam , kamaren debat sama si yanuar ngotot bangat " tanya saya basa-basi ketika ketemu dengan Anto. " Kalo belum bertanding gak debat gak seru, kalo sudah ketahuan kayak gini mau ngapain lagi hehehe" jawab Anto sambil lalu. Ya segala analisis, segala wacana memang serunya di awal pertandingan sama seperti ketika akan berbuka puasa maunya macam-macam, eh pas sudah buka, kesan wah hilang seketika. Media memang pintar mengarang cerita, mencari tema membuat semua orang bebas bicara, dan pendapatan yang akan mereka dapatkan pun suda bisa dikira-kira.

Kita semua adalah narapidana dari penjara pikiran kita masing-masing. Media informasi berhasil memenjarakan kita dengan opini pembuka yang membuat pikiran kita liar entah kemana. Tidak semua media dengan senang hati membantu kita membentuk pemimpin-pemimpin baru tanpa tendensi, kita selalu saja di sajikan pemimpin yang kadaluarsa untuk di imami apalagi di 'amini'. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata'ala memberikan kita pemimpin yang bisa membawa bangsa ini ke jalan yang di ridhoiNya. aaamiiinnn, Wasalam : David

Read More..