Wednesday, November 25, 2015

Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

Suatu hari ada seorang laki-laki yang sedang menengok seorang temannya yang sedang sakit di sebuah rumah sakit, dengan membawa makanan kesukaan temannya itu . Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke tempat dimana temannya itu dirawat.

Ketika sampai di kamarnya ia melihat temannya itu sedang berbaring dan menatap dengan wajah gembira atas kedatangan laki-laki itu. Laki-laki itupun bertanya bagaimana kabarnya dan sampai sejauh mana kondisinya. “Alhamdulillah…saya sedang diberi nikmat oleh Allah SWT berupa ujian sakit ini. Alhamdulillah kondisinya menurut dokter perlu terus diobservasi dan Alhamdulillah saya juga masih bisa menjalani ujian ini dengan kesabaran yang penuh dan masih bisa shalat walaupun dalam keadaan berbaring,” sambil meringis menahan kesakitan dia terus mengucap rasa syukur itu dan laki-laki yang mendengarnya pun menjadi bingung, kenapa dia sedang sakit tapi hanya kesyukuran terus yang ia ucapkan. Tidakkah kelihatannya dia meringis kesakitan dan kelihatan pucat wajahnya. Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya?

“Untuk apa mengeluh lebih baik kita mengingat Allah SWT dan terus berdzikir kepada-Nya saja dalam setiap rintihan kesakitan yang kita rasakan. Subhanallah…Alhamdulillah…Allahu Akbar… Semoga saja dengan zikirnya ini dan Allah SWT akan terus menggugurkan dosa-dosa yang telah saya lakukan di masa lalu.”

Oh, ternyata itulah rahasianya. Dia masih mampu melihat kebesaran Allah SWT dalam kesakitannya dan merasa menjadi semakin dekat dengan-Nya karena di setiap nafas yang dia hembuskan masih diberinya kesempatan untuk menghirup udara yang Allah SWT berikan. Duh, jadi teringat diri ketika sedang sakit terkadang keluhan ketidaksabaran yang suka terucapkan. Ya Allah, ampuni kami jka selama ini ku lalai dengan nikmat sehat ini.

“Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara [26] : 79-80)

Di salah satu televisi ada acara yang menampilkan seorang bapak yang diberi ujian oleh Allah SWT tidak dapat melihat. Ketika diwawancara itu masih banyak hal yang bisa dia kerjakan walaupun dalam keadaan buta. Dia masih bisa membaca Al-Qur’an, berjalan untuk berda’wah di tempat ibu-ibu Majelis Ta’lim bahkan selalu bersemangat terus bermanfaat untuk orang lain.

Satu yang membuat salut adalah dia masih terus saja bersyukur dengan kekurangannya itu tidak ada satupun kalimatnya mengeluh bahkan menyalahkan kondisi ini. Bagaimana dia bisa seperti itu, di saat yang bisa dilihatnya hanya gelap saja tak berwarna, di saat dia hanya melihat dengan mata hatinya saja tanpa bisa memandang apa yang ada di hadapannya. Mungkin hanya membayangkan saja. Bagaimana sebenarnya bentuk gelas itu, bagaimana sebenarnya bentuk bunga itu. Kata orang-orang bunga itu indah berwarna-warni ada yang merah ada yang putih, ungu kata orang-orang wajah istriku cantik, dan kata orang-orang pelangi itu indah. Yah…itu hanya kata orang-orang tapi yang bisa dia lihat hanyalah warna hitam saja. Jauh dari indah. Bisa kita bayangkan saja dengan menutup mata kita yang masih bisa melihat ini, ternyata tak terlihat indahnya apa warnanya dan bagaimana bentuknya? Walaupun begitu dia masih terus saja bersyukur dan bersyukur. Aku jadi malu terhadap diri yang masih suka melihat hal yang sia-sia.

YA Rabb…ampuni kami jika selama ini kami lalai dengan nikmat penglihatan ini. “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yg hina. Kemudian DIa meyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah [32] : 7-9)

Ada sepasang suami istri yang sedang terkena musibah tempat tinggal dan juga sekaligus tempat usahanya habis terbakar dilalap si jago merah. Hanya tinggal baju di badan saja yang tersisa. Semua harta kekayaan dan materi yang mereka kumpulkan bertahun-tahun habis tak bersisa. Tapi apa jawaban mereka ketika ditanya atas musibah yang mereka alami. “Alhamdulillah…Kami masih bisa selamat tanpa luka dan masih bisa hidup sampai sekarang ini Dan semua ini adalah kehendak-Nya. Insya Allah dibalik ini semua tersimpan banyak hikmah. Materi bisa dicari lagi yang penting kita masih diberi nikmat untuk hidup dan berusaha menjalani kehidupan ini lebih baik lagi.”

Subhanallah…begitu hebatnya mereka memandang suatu musibah dengan kekuatan keimanan dan ketaqwaan kepada Sang Pemberi Nikmat ,Allah SWT. Ya Allah…maafkan atas kelalaian kami kurangnya rasa syukur terhadap nikmat rezeki yang kami miliki sekarang dan kealpaan kami atas terlenanya rezeki yang Engkau berikan “Semua yang ada di bumi itu akan binasa; Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan; Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-RAhman [55] : 26-28)

Ya… Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Semoga kita semua selalu menjadi orang yang selalu mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan di setiap detik, menit, jam serta hari ini dan hari-hari yan akan datang. Dan tidak menjadi orang yang mendustakan semua ni’mat- Nya. Aamiin.


Read More..

4 Cara Mengubah Takdir

Banyak orang malas yang menjadikan takdir sebagai dalih atas kemalasannya. Padahal, takdir itu boleh diubah. Memang, tidak semua takdir boleh diubah. Misalnya, jika kita ditakdirkan sebagai seorang laki-laki, tidak boleh diubah menjadi seorang perempuan. Kita memang tidak boleh mengubah takdir yang sudah terjadi sebab waktu memang diciptakan tidak boleh ke belakang. Yang dimaksud mengubah takdir disini ialah mengubah takdir dimasa mendatang.
Lalu bagaimana cara kita mengubah takdir? Cara yang benar dan tepat, tentu saja harus bersumber dari Pembuat takdir yang tiada lain Allah SWT melalui Al Quran dan Hadits Nabi saw.

Bagi Anda yang belum tahu, bahawa takdir boleh diubah, silahkan semak hadis berikut:
Hadis dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahawa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdoa, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya doa bermanfaat bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang boleh menolak taqdir kecuali doa, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada doa”. (HR Turmudzi dan Hakim)

Cara Mengubah Takdir
Mengubah Takdir Dengan Berdoa.
Allah yang menetapkan takdir kita, maka Allah memiliki kuasa untuk mengubahnya, ertinya takdir baru bagi kita. Mengubah takdir ertinya Allah menggantinya dengan takdir baru. Tetap, Allah yang menetapkan takdir. Cara pertama ialah dengan berdoa seperti yang dijelaskan pada hadis diatas.

Cara Kedua adalah bersedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

Cara Ketiga adalah bertasbih. Ada hadis yang diriwayatkan dari Saad Ibnu Abi Waqosh, Rasulullah bersabda :
“Mahukah kalian Aku beritahu sesuatu doa, yang jika kalian memanfaatkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu? Para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Iaitu doa “Dzun-Nun : “LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang zalim”). (H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim).

Cara keempat ialah dengan bersholawat ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu Kaab, bahawa ada seorang lelaki telah mendedikasikan semua pahala selawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni” (H.R Imam Ahmad At-Tabroni)

Jadi, jangan berhenti berdoa dan berusaha. Seburuk mana pun kedudukan masa ini, semuanya masih boleh berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih boleh berubah. Optimis selalu Anda boleh mengubah takdir Anda menjadi lebih baik.

Read More..

Arsip Kategori: Perang Rasulullah (PERANG BADAR)

PERANG BADAR
Setelah hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah bersama-sama para sahabatnya dan diterima baik oleh orang-orang anshar, Islam telah berkembang, tersebar luas dan diterima oleh banyak kabilah-kabilah arab. Kekuatan dan ekonomi Madinah telah menjadi kukuh. Orang-orang arab Quraisy Makkah tidak senang hati dengan kemajuan ini.
Perang Badar merupakan perang pertama yang dilalui oleh umat Islam di Madinah. Ia merupakan isyarat betapa mulianya umat Islam yang berpegang teguh pada tali agama Allah. Kemenangan besar kaum muslimin tidak terletak pada jumlah tentara yang ikut serta tetapi terkandung dalam kekuatan iman yang tertanam disanubari mereka. Dengan Keyakinan mereka pada Allah yang sangat kukuh itu, Allah telah menurunkan bantuan ibarat air yang mengalir menuju lembah yang curam. Tidak ada sesiapa yang dapat menahan betapa besarnya pertolongan Allah terhadap umat yang senantiasa menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Dikisahkan, Rasulullah terlebih dahulu sampai di sumber mata air Badar dan memutuskan untuk berhenti di tempat itu. Dan itu merupakan bagian dari strategi agar pasukan kaum muslimin dekat dengan sumber air. Melihat hal itu, Habab ibn Mundzir berkomentar, “Wahai Rasulullah! Mengapa engkau memilih tempat ini sebagai pemberhentian kita? Apakah tempat ini memang telah ditentukan Allah kepadamu dan kita tidak dapat memajukan atau mengundurkannya sedikitpun, ataukah ini adalah bagian dari pendapat, strategi, dan siasat perang?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Ini hanyalah sekedar pedapat, stategi, dan taktik perang.” Maka Habab berkata, “Wahai Rasulullah, jika demikian halnya, aku juga ingin mengemukakan pendapatku. Menurutku, tempat ini tidak tepat untuk kita berhenti. Sebaiknya kita terus berjalan hingga sampai di mata air yang paling dekat dengan perkemahan bangsa Quraisy. Setelah itu, kita duduki tempat tersebut dan kita hancurkan seluruh sumur yang ada di seberangnya dan menjadikannya kolam penampungan air. Lalu, kita penuhi kolam itu dengan air dan kita baru menyerang mereka. Dengan begitu, niscaya kita akan dapat minum air itu sedang mereka sama sekali tidak bisa meminumnya.” Pada saat itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Pendapatmu sangat bagus!” Kemudian, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam pun menjalankan taktik yang ditawarkan oleh Habab ibn Mundzir radhiallahu ‘anhu. Petunjuk yang diberikan oleh Habab ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan riwayat munqathi’ -Ibnu Hisyam (2/312-313), atau dengan riwayat mursal dan terhenti pada Urwah sebagaimana yang tertulis dalam al-Ishabah (1/302), Hakim (3/446-447). Riwayat tersebut dinilai sebagai hadis munkar oleh Dzahabi dan Umawi sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah (3/293) dengan silsilah periwayatan yang munqathi’ (terputus).
Ketika mereka telah berhasil menduduki tempat yang dimaksud, Sa’ad ibn Muadz berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, “Wahai Nabi Allah! Tidakkah kami perlu membangun kemah khusus untuk tempat istirahatmu, menyiapkan hewan kendaraanmu dan kemudian kita baru menyerang musuh kita? Sungguh, seandainya Allah memberikan kemenangan dan kejayaan kepada kita atas musuh-musuh kami, maka itulah yang kami inginkan. Namun, bila kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, maka engkau sudah siap untuk menyelamatkan diri dan menemui kaum kita. Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada beberapa kaum yang menantimu di tanah air kita dan kecintaan mereka terhadapmu lebih besar dari kami. Sehingga, bila mereka mendengar bahwa engkau berperang, niscaya mereka pun tidak akan tinggal diam. Allah pasti akan melindungimu dengan mereka. Sebab mereka pasti akan memberimu pertimbangan dan senantiasa berjuang di belakangmu.” Maka, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam pun menyepakati usulan Sa’ad tersebut.
Meskipun demikian, perlu digarisbawahi bahwa saat terjadinya perang Badar tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam ikut berperang aktif dan terlibat langsung dalam pertempuran. Jadi, beliau tidak hanya berada di dalam kemah dan berdoa saja sebagaimana dipahami oleh sebagian ahli sejarah. Ahmad menuturkan: Ali radhiallahu ‘anhu menceritakan, “Kalian tentu telah menyaksikan bagaimana kami pada saat pecahnya perang Badar. Saat itu, kami berlindung di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, sedang beliau terus membawa kami mendekati musuh. Dan beliau adalah orang yang paling berani ketika itu.”
Dengan isnad yang sama, sebuah hadis lain menuturkan, “Ketika keberanian mulai memuncak pada saat perang Badar, kami terus bergerak bersama-sama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam Bahkan, beliau adalah orang yang paling berani. Terbukti, tidak ada satu pun kaum muslimin yang paling dekat dengan musuh selain beliau.”
Muslim meriwayatkan: Pada perang Badar, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam berkata kepada para sahabatnya, “Jangan ada seorang pun di antara kalian bergerak sebelum aku memberi komando.” Ibnu Katsir berkata, “Beliau terjun dan terlibat langsung dalam pertempuran itu dengan segenap jiwa dan raga. Demikian halnya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sehingga, keduanya tidak hanya berjuang dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah di dalam kemah saja, tetapi juga turun ke medan pertempuran dan bertempur dengan mengerahkan segala daya dan upaya.”
Demikianlah, setelah pada siang harinya mengerahkan segala kemampuan dan daya upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk memenangkan pertempuran, pada malam harinya beliau menghabiskan waktunya untuk terus berdoa dan memohon kepada Allah untuk memberikan kemenangan terhadap pihak tentara Islam. Adapun salah satu doa beliau saat itu adalah seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim berikut: “Ya Allah, sempurnakanlah kepadaku segala apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa-apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam, tentulah Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini.”
Sebuah riwayat mengatakan: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam terus berdoa sampai kain sorbannya terjatuh dari kedua pundak beliau. Kemudian, Abu Bakar datang menghampiri beliau, mengambil sorban beliau yang terjatuh dan kemudian memakaikannya kembali ke pundak beliau. Setelah itu, ia pun melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam di belakangnya. Setelah itu, Abu bakar berkata, “Wahai Nabi Allah, tidakkah sudah cukup permohonanmu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, karena sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi seluruh janji-Nya kepadamu?” Maka Allah berfirman,“(lngatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut’.” (QS. Al-Anfal: 9) Dan benar, esok harinya, Allah mengirimkan bala bantuan kepada mereka berupa pasukan tentara malaikat.” Adapun doa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam pada saat perang Badar yang diriwayatkan oleh Bukhari adalah:”Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau akan janji dan perjanjian Engkau. Ya Allah, jika Engkau berkehendak (membuat hamba kalah), Engkau tidak akan disembah setelah hari (peperangan) ini.”
Riwayat lain menceritakan: Lalu Abu Bakar memegang tangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan kemudian berkata, “Sudahlah Rasulullah, engkau sudah meminta dan mendesak Tuhanmu tanpa henti!” Esok harinya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam mempergunakan baju besi dan kemudian keluar dari kemahnya seraya berkata, “Golongan itu (pasukan Quraisy) pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (QS. Al-Qamar: 45)
Ibnu Hatim menceritakan: Ikrimah berkata, “Ketika diturunkannya ayat ‘golongan itu (pasukan Quraisy) pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang … ‘, Umar berkata alam hati, “Golongan manakah yang akan dikalahkan itu?”
Umar radhiallahu ‘anhu juga menceritakan: Ketika perang Badar dimulai, aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam mempergunakan baju besi sambil berkata, Golongan itu (pasukan Quraisy) pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” Maka, aku segera mengetahui maksud ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam tersebut.”
Pada hari Jum’at pagi, tanggal 17 Ramadhan, tahun ke-2 hijriah, tepatnya ketika kedua belah pihak (muslim dan Quraisy) sudah saling berhadapan dan sedang mengambil ancang-ancang untuk saling menyerbu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam berdoa kepada Allah seraya berkata: “Ya Allah, itulah kaum Quraisy yang telah datang dengan sombong dan congkaknya. Mereka memusuhi-Mu, menyalahi perintah-perintahMu, dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, aku hanya meminta pertolongan yang telah Engkau janjikan kepada hamba. Ya Allah, binasakanlah mereka pagi ini!”
Setiap kali akan berangkat bertempur, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam selalu terlebih dahulu merapatkan barisan pasukan kaum muslimin. Dia melakukan inspeksi barisan seraya menggenggam sebuah anak panah. Saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam sedang melakukan pemeriksaan barisan, tiba-tiba beliau menekankan anak panah beliau ke perut Sawad ibn Ghaziyyah. Pasalnya, waktu itu ia agak sedikit keluar dari barisan. Beliau berkata kepadanya, “Sawad, luruskan barisanmu!” Sawad pun menjawab, “Rasulullah, engkau telah menyakitiku, maka bolehkah aku membalasmu?” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam membuka bagian perut beliau seraya berkata, “Lakukanlah!” Akan tetapi, Sawad ternyata tidak jadi membalas, tetapi justru memeluk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan mencium bagian perut beliau. Dengan heran, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya, “Apa yang membuatmu seperti ini, Sawad?” Sawad menjawab, ”Wahai Rasulullah, seperti itulah yang aku inginkan. Sesungguhnya aku telah berharap agar mati setelah bisa menyentuhkan kulitku dengan kulitmu.” Lantas, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam pun mendoakan Sawad dengan hal yang baik-baik. Setelah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam memberikan berbagai arahan dan pengarahan kepada pasukan muslim tentang berbagai hal yang berkaitan strategi dan siasat mereka hari itu. Beliau berkata, “Apabila mereka mendekati kalian, maka serang mereka dengan anak panah kalian dan jangan sampai didahului oleh mereka! Ingat, jangan sampai kalian melupakan pedang kalian hingga kalian lengah dan dapat dirobohkan.” Setelah berpesan demikian, beliau lantas mengobarkan semangat pasukan muslimin dengan berkata, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, setiap orang yang berperang melawan mereka (pasukan Quraisy) pada hari ini, kemudian mati dalam keadaan tabah, mengharapkan keridhaan Allah, maju terus pantang mundur, pasti akan dimasukkan ke dalam surga. “
Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan bahwa ketika kaum musyrikin telah mendekat, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Bangkitlah kalian untuk menuju surga yang luasnya seperti luas langit dan bumi.” Mendengar ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam tersebut, Umair ibn Humam al-Anshari berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah benar surga memiliki luas seperti luas langit dan bumi?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Benar.” Dengan terkagum-kagum, Umair berucap, “Oh, betapa besarnya surga itu!” Lalu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya kepada Umair, “Mengapa engkau berkata demikian?” Umair menjawab, “Tidak, Rasulullah. Demi Allah, aku hanya berharap menjadi bagian dari penghuninya.” Beliau berkata, “Engkau akan menjadi salah satu penghuninya. “
Kemudian, ia mengeluarkan beberapa butir kurma dan memakannya. Setelah itu, ia berkata, “Seandainya aku masih hidup dan dapat memakan kurma-kurma ini, maka itu adalah kehidupan yang sangat panjang.” Lalu ia melemparkan kurma yang ada di genggamannya dan kemudian menjadi beringas bertempur sampai akhirnya terbunuh.
Auf ibn Harits (putra Afra) berkata, ”Wahai Rasulullah, apa yang membuat Allah tersenyum saat melihat hamba-Nya?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Ketika tangan seorang hamba itu menceburkannya ke tengah-tengah musuh tanpa mempergunakan pelindung.” Maka, seketika itu juga Auf membuka pakaian besi yang melindunginya, dan kemudian melemparkannya. Setelah itu, ia menghunus pedangnya dan bertempur di medan perang sampai terbunuh.”
Sebelum dimulainya peperangan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam meminta kepada para sahabatnya untuk tidak membunuh orang-orang dari Bani Hasyim dan beberapa orang lainnya. Pasalnya, mereka ikut meninggalkan kota Mekah dan berperang karena dipaksa. Dan di antara mereka yang disebutkan namanya oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam adalah Abu Bukhtari ibn Hisyam (salah satu orang yang pergi ke Ka’bah untuk merobek surat pemboikotan bangsa Quraisy terhadap kaum muslimin dan ia sama sekali tidak menyakiti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam) dan Abbas ibn Abdul Muthalib.
Ketika Abu Hudzaifah mendengar perintah itu, ia berkata, “Apakah kami harus membunuh bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, dan keluarga kami, sementara kami harus membiarkan Abbas hidup? Demi Allah, bila aku bertemu dengannya, niscaya aku akan menebasnya dengan pedang.” Akhirnya, ucapan tersebut sampai ke telinga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam Maka, beliau pun berkata kepada Umar, “Wahai Abu Hafshah, benarkah ia akan memukul wajah paman Rasulullah dengan pedang?” Umar berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk memenggal lehernya dengan pedang. Demi Allah, ia telah berbuat kemunafikan.” Sementara itu, beberapa waktu kemudian, Abu Hudzaifah berkata, “Aku merasa tidak tentram dengan kata-kataku saat itu. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa takut, kecuali bila aku sudah menebusnya dengan kesyahidan.” Maka, akhirnya Abu Hudzaifah pun mati syahid pada perang Yamamah.
Dikisahkan bahwa sebelum peperangan dimulai, Asad ibn Abdul Asad al-¬Makhzumi keluar dari pasukan Quraisy seraya berkata, “Demi tuhan, aku sungguh-sungguh akan meminum air kolam mereka, akan merusaknya (kolam air), atau mati di hadapannya.” Maka, ketika ia sudah mendekat, Hamzah pun merintanginya dan menyerangnya. Hamzah berhasil memukulnya hingga kakinya retak. Akan tetapi, Asad masih terus merangkak menuju ke kolam guna memenuhi sumpahnya dan Hamzah terus mengikutinya, memukul, dan akhirnya membunuhnya di depan kolam tersebut.
Pengajaran dari peperangan ini menunjukkan bahwa kaum Quraisy tidak bersatu padu. Ini terbukti apabila ada beberapa pasukan yang menarik diri sebelum perang terjadi. Dengan ini sebagai orang Islam kita harus bersatu demi untuk mencapai kemenangan. Kaum Quraisy terlalu yakin yang mereka akan berjaya memusnahkan Islam yang memang sedikit dari jumlah tetapi tidak dari semangat. Mereka tidak dapat mengalah tentera Islam karena semangat tentera Islam begitu kukuh kerana Rasulullah telah berjaya menjalin silaturrahim yang kuat sesama Islam. Nabi Muhammad S.A.W pintar mengendalikan taktik peperangan. Orang Islam mempunyai pegangan yaitu berjaya didunia atau mati syahid.

Read More..

Arsip Kategori: Perang Rasulullah (PERANG UHUD)

PERANG UHUD
Perang Uhud terjadi karena golongan kafir Quraisy mencoba membalas kekalahan mereka dalam Perang Badr, lalu memancing amarah penduduk Madinah dengan menduduki ladang gandum di Jabal Uhud. Jabal Uhud (Gunung Uhud) merupakansebuah gunung yang berjarak lebih kurang tiga mil dari kota Madinah. Tempat ini terkenal sebagai medan peperangan antara umat Islam dan golongan kafir Quraisy pada tanggal 15 Syawwal 3 H (Maret 625 M) yang kemudian disebut Perang Uhud. Gunung ini merupakan bagian dari dataran tinggi yang membentang dari utara ke selatan dan menyebar ke timur dan kemudian membentuk bukit-bukit sendiri. Bukit-bukit itu hampir tidak memiliki karena merupakan dataran tinggi berbentuk persegi panjang. Daerah di sekitar dataran ini gersang dan tandus, ditutupi bebatuan dan pasir. Hanya di bagian selatan terdapat ladang-ladang gandum dan tanah perkebunan yang dialiri selokan kecil. Akan tetapi, daerah itu terkadang dilanda banjir dari curahan hujan lebat.
Perang Uhud adalah antara peristiwa penting pada Syawal. Peristiwa yang berlaku pada 7 Syawal tahun ketiga hijrah itu dinamakan Uhud karena lokasi peperangan di kawasan Bukit Uhud. Syawal juga menyaksikan perang parit atau Perang Khandak yang berlaku pada tahun kelima hijrah apabila Yahudi menghasut kafir Quraisy supaya bermusuh dengan umat Islam di Madinah.

Di balik peperangan ini, umat Islam yang baru selesai menjalani tarbiah Ramadan dan marayakan Idul fitri tidak sedikit pun terkecuali untuk sama-sama mempertahankan kemenangan dan diri daripada ancaman musuh. Detik awal ghazwah Uhud bermula ketika penduduk Makkah Quraisy malu besar di atas kekalahan mereka dalam Perang Badar. Tidak ada pedagang Quraisy yang berani berdagang ke Syria karena bimbang jika ditangkap orang Islam. Jika keadaan itu berlanjut, kota Makkah akan diancam bahaya kelaparan dan krisis ekonomi. Oleh karena itu, semua pembesar Quraisy berunding untuk mendapatkan keputusan mengenai perkara itu. Mereka memutuskan semua keuntungan perdagangan pada tahun itu akan dipergunakan untuk membentuk satu angkatan perang yang kuat.
Karena Abu Jahal meninggal dunia, maka Abu Sufian diangkat menjadi panglima perang untuk memimpin angkatan 3,000 tentera. Selain itu, ketua pasukan mereka yang ternama ialah Safwan (anak Umaiyah Khalaf yang menyeksa Bilal) dan Ikrimah (anak Abu Jahal).
Turut memimpin tentera ialah seorang yang gagah berani iaitu Khalid Ibnul-Walid. Kaum perempuan diketuai Hindun (isteri Abu Sufian). Mereka dikerahkan untuk menghibur dan menguatkan semangat perang anggota tentera. Mereka turut ke medan perang memukul genderang.
Karena musuh terlalu banyak, Nabi Muhammad saw berniat akan bertahan dan menanti musuh dalam kota Madinah. Tetapi suara terbanyak menyatakan bahwa berdasarkan siasat perang menghendaki agar musuh diserang di medan perang. Nabi tunduk kepada keputusan tersebut, sekalipun dalam hatinya berasa kurang tepat. Dalam hal yang tidak ada wahyu yang turun, Nabi selalu berbincang dengan orang ramai dan keputusan mereka pasti dijalankan dengan tawakal dengan berserah kepada Allah. Lalu Nabi masuk ke rumah memakai pakaian besinya dan mengambil pedangnya. Apabila Nabi keluar, banyak para sahabat yang mengusulkan untuk menyerang tadi, menarik usul mereka kembali kerana ternyata kepada mereka pendirian Nabi adalah benar. Tetapi, keputusan itu rupanya tidak dapat diubah lagi, kerana Nabi berkata: “Tidak, kalau seorang Nabi telah memakai baju perangnya, dia tidak akan membukanya kembali sebelum perang selesai.”
Tentera Islam hanya 1,000 orang. Semuanya berjalan kaki, hanya dua orang berkuda. Ramai pula antara mereka itu orang tua dan anak di bawah umur.
Sebelum matahari terbenam, mereka bertolak menuju ke Bukit Uhud. Setiba di pinggir kota Madinah, tiba-tiba 600 orang Yahudi, kawan Abdullah Ubay, menyatakan hendak turut bertempur bersama-sama Nabi. Tetapi Nabi sudah tahu maksud mereka yang tidak jujur, maka ditolaknya tawaran itu dengan berkata: “Cukup banyak pertolongan daripada Tuhan.”
Bersamaan penolakan ini, Abdullah Ubay malu dan marah, lalu berusaha menakutkan kaum Muslimin, agar mereka jangan turut berperang. Tiga ratus kaum Muslimin dapat dihasut hingga kembali pulang ke Madinah. Mereka ini yang dinamakan kaum munafik. Maka tinggallah Rasulullah dengan 700 orang tentera saja menghadapi musuh yang jumlahnya empat kali ganda itu. Tanpa diketahui musuh, sampailah kaum Muslimin di Bukit Uhud pada waktu dinihari. Nabi segera mengatur strategi perang. Bukit itu digunakan sebagai pelindung dari belakang, sedang dari sebelah kiri, dilindungi oleh Bukit Ainain. Lima puluh orang diarahkan Rasulullah supaya menjaga celah bukit dari belakang dengan diketuai Ibnuz-Zubair. Mereka diperintahkan tidak boleh meninggalkan tempat itu apapun yang akan terjadi. Tiba-tiba kedengaran sorak gemuruh musuh dari bawah lembah. Mereka sudah melihat tentera Islam. Mereka bergerak maju, menyerang dengan formasi berbentuk bulan sabit, dipimpin oleh Khalid Ibnul-Walid sayap kanannya dan Ikrimah Abu Jahal sayap kirinya.
Seorang musuh meronta maju sampai tiga kali menentang tentera Islam. Pada kali ketiga, maka melompatlah Zubair bagaikan harimau ke punggung unta itu. Musuh tadi dibantingkannya ke tanah, lalu dibedah dadanya oleh Zubair dengan pisau. Abu Dujanah selepas meminjam pedang Nabi sendiri, lalu menyerbu ke tengah-tengah musuh yang ramai itu. Pertempuran hebat berlaku dengan dahsyatnya. Arta pemegang panji musuh gugur di tangan Hamzah. Sibak yang menggantikan Arta segera berhadapan dengan Zubair. Selepas Sibak tewas menyusul Jubair Mut’im menghadapi Hamzah, untuk membalas dendam kerana Hamzah dapat menewaskan pamannya di medan Perang Badar. Jubair takut berhadapan dengan Hamzah. Hanya diperintahkan hambanya Wahsyi, bangsa Habsyi, dengan perjanjian apabila dapat menewaskan Hamzah dia akan dimerdekakan.
Dengan menyeludup di sebalik belukar dari belakang Hamzah dengan menggunakan tombak dia dapat menikam Hamzah. Hamzah adalah pemegang panji Islam pada waktu syahidnya. Panji itu segera diambil oleh Mus’ab ‘Umair. Beliau juga tewas di hadapan Nabi sendiri. Ali tampil menggantikannya. Bagaikan kilat Ali dapat menebas leher musuhnya yang memegang panji itu.
Setelah peperangan usai, Abu Sufyan mendaki sebuah bukit dan berteriak: “Apakah Muhammad ada di antara kalian?!” Namun kaum muslimin tidak menjawabnya. Kemudian dia berteriak lagi: “Apakah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakr) ada di antara kalian?!” Tidak juga dijawab. Akhirnya dia berteriak lagi: “Apakah ‘Umar bin Al-Khaththab ada di antara kalian?!” Juga tidak dijawab. Dan dia tidak menanyakan siapapun kecuali tiga orang ini, karena dia dan kaumnya mengerti bahwa mereka bertiga adalah pilar-pilar Islam. Lalu dia berkata: “Adapun mereka bertiga, kalian sudah mencukupkan mereka.” Umar tak dapat menahan emosinya untuk tidak menyahut: “Wahai musuh Allah, sesungguhnya orang-orang yang kau sebut masih hidup! Dan semoga Allah menyisakan untukmu sesuatu yang menyusahkanmu.” Abu Sufyan berkata: “Di kalangan yang mati ada perusakan mayat, saya tidak memerintahkan dan tidak pula menyusahkan saya.” Kemudian dia berkata: “Agungkan Hubal!” Lalu Nabi berkata: “Mengapa tidak kalian jawab?” Kata para shahabat: “Apa yang harus kami katakan?” Kata beliau: “Allah Lebih Tinggi dan Lebih Mulia.” Abu Sufyan berkata lagi: “Kami punya ‘Uzza, sedangkan kalian tidak.” Kata Rasulullah : “Mengapa tidak kalian balas?”
Kata para shahabat: “Apa yang harus kami katakan?” Katakanlah: “Allah adalah Maula (Pelindung, Pemimpin) kami, sedangkan kalian tidak mempunyai maula satupun.”
Perintah Rasulullah agar mereka membalas ketika Abu Sufyan merasa bangga dengan sesembahan-sesembahan dan kesyirikannya, dalam rangka pengagungan terhadap tauhid sekaligus menunjukkan Keperkasaan dan Kemuliaan Dzat yang diibadahi oleh kaum muslimin.
Kemarahan ‘Umar mendengar kata-kata Abu Sufyan menunjukkan penghinaan, keberanian, terang-terangan kepada musuh tentang kekuatan dan keperkasaan mereka bahwa mereka bukanlah orang yang hina dan lemah.
Dalam perang itu, pasukan Islam sesuai dengan strategi Nabi Muhammad SAW, mengambil posisi di atas Jabal Uhud. Tetapi ketika mereka hampir menang, pasukan pemanah terpancing oleh ghonimah (harta rampasan perang). Mereka pun turun dari bukit dengan melawan instruksi Nabi SAW. Maka pasukan Quraisy segera merebut posisi di atas bukit dan dari situ menyerang pasukan Islam sampai menewaskan 70 syuhada.
Hikmah di dalam Peperangan Uhud
1. Memahamkan kepada kaum muslimin betapa buruknya akibat kemaksiatan dan mengerjakan apa yang telah dilarang, yaitu ketika barisan pemanah meninggal pos-pos mereka yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah n agar mereka berjaga di sana.
2. Sudah menjadi kebiasaan bahwa para rasul itu juga menerima ujian dan cobaan, yang pada akhirnya mendapatkan kemenangan. Sebagaimana dijelaskan dalam kisah dialog Abu Sufyan dan Hiraqla (Heraklius). Di antara hikmahnya, apabila mereka senantiasa mendapatkan kemenangan, tentu orang-orang yang tidak pantas akan masuk ke dalam barisan kaum mukminin sehingga tidak bisa dibedakan mana yang jujur dan benar, mana yang dusta. Sebaliknya, kalau mereka terus-menerus kalah, tentulah tidak tercapai tujuan diutusnya mereka. Sehingga sesuai dengan hikmah-Nya terjadilah dua keadaan ini.
3. Ditundanya kemenangan pada sebagian pertempuran, adalah sebagai jalan meruntuhkan kesombongan diri. Maka ketika kaum mukminin diuji lalu mereka sabar, tersentaklah orang-orang munafikin dalam keadaan ketakutan.
4. Allah mempersiapkan bagi hamba-Nya yang beriman tempat tinggal di negeri kemuliaan-Nya yang tidak bisa dicapai oleh amalan mereka. Maka Dia tetapkan beberapa sebab sebagai ujian dan cobaan agar mereka sampai ke negeri tersebut.
5. Bahwasanya syahadah (mati syahid) termasuk kedudukan tertinggi para wali Allah
6. Allah menghendaki kehancuran musuh-musuh-Nya maka Dia tetapkan sebab yang mendukung hal itu, seperti kekufuran, kejahatan dan sikap mereka melampaui batas dalam menyakiti para wali-Nya. Maka dengan cara itulah Allah k menghapus dosa kaum mukminin.
7. Perang Uhud ini seakan-akan persiapan menghadapi wafatnya Rasulullah . Allah meneguhkan mereka, mencela mereka yang berbalik ke belakang, baik karena Rasulullah terbunuh atau meninggal dunia.
8. Hikmah lain adalah adanya pembersihan terhadap apa yang ada di dalam hati kaum mukminin.

Read More..

Thursday, April 30, 2015

Umat Islam, Bersiaplah Songsong Era Baru !

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien (Jalan hidup) yang benar untuk dimenangkanNya atas segala Dien, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”
(Q.S At Taubah : 33)


Islam hadir berawal dari pinggiran kota Mekkah yang gersang, diturunkan kepada seorang penggembala yang tidak dapat membaca dan menulis. Ditengah suatu bangsa yang gemar menghabiskan energinya untuk berseteru antar sesamanya sendiri. Di apit oleh 2 kekuatan raksasa dunia yaitu peradaban Romawi Timur dan Persia. Namun dengan izinNya, petunjuk hidup yang dibawa penggembala tersebut akhirnya mampu menyatukan bangsa Arab yang tadinya terpecah belah, menaklukkan 2 kekuatan raksasa dan memimpin dunia.

Salah satu keistimewaan Islam adalah kemampuannya bertahan menghadapi situasi sesulit apapun, dihajar oleh makar musuh-musuhnya namun mampu bertahan dan tetap bersemi. Adalah Allah yang telah menjamin penjagaan Islam hingga menjelang akhir zaman. Jika kita mengacu hanya kepada nalar semata, maka jika bukanlah petunjuk dari Penguasa alam sudah tentu melihat perjalanannya Islam sudah luluh lantak dihajar bertubi-tubi. Namun Allah menunjukkan kuasaNya, Islam akan tetap ada dan bangkit sebagai cahaya yang menerangi perikehidupan manusia hingga menjelang akhir zaman.

Islam pernah berada dalam ambang kepunahan ketika perang Ahzab, pasukan sekutu berniat meluluh-lantakkan basis kaum muslimin di madinah ditambah kaum yahudi Bani Quraizhah yang mengkhianati perjanjian dan siap menikam dari belakang. Selama sebulan kaum muslimin terkepung oleh pasukan sekutu, digambarkan oleh AlQur’an saking gentingnya situasi hingga rasa sesak mencapai kerongkongan. Namun, berkat keteguhan iman generasi awal Islam, Allah memenuhi janjiNya dan memberikan pertolongan sehingga umat Islam terselamatkan dan justru semakin bersemi. Tak cukup sampai disitu, bahaya kembali datang, kali ini pasukan terkuat didunia yaitu Romawi dengan kaki tangannya dari kalangan kabilah Arab berhasil menghimpun pasukan super raksasa berjumlah 200.000 bersenjata lengkap akan memusnahkan kaum muslimin. Pasukan kaum muslimin hanya berkekuatan 3000 prajurit dengan peralatan seadanya. Bayangkan saja, 200.000 vs 3000. Namun, sekali lagi, Allah menunjukkan kuasaNya dengan menyelamatkan cahaya Islam dari kehancuran lewat kecemerlangan sosok Khalid bin Walid. Bahkan kelak, serangan balik kaum muslimin mampu meruntuhkan kekaisaran Romawi timur.

Setelah Rasululllah wafat, sebagai suatu sunatullah yang telah ditetapkan. Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya melakukan makar untuk memadamkan cahayaNya. Di abad pertengahan, kerajaan kristen eropa bersekutu untuk melancarkan perang Salib kepada kaum muslimin memenuhi panggilan Paus Urbanus II, tahun 1099 pasukan salib berhasil merebut Yerusalem dan melakukan pembantaian massal terhadap penduduknya. Yerusalem dikuasai selama 88 tahun oleh pasukan salib. Namun, Allah tak akan membiarkan cahaya Islam padam, muncullah sosok Shalahuddin Al Ayyubi sebagai ksatria Islam dan membebaskan Yerusalem dari cengkraman tentara salib. Dan Islam-pun kembali berjaya.

Umat Islam benar-benar nyaris menjadi kenangan sejarah ketika terjadi musibah yang amat memilukan. Pada tahun 1258, Tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan memporak-porandakan lentera peradaban dunia. Ibukota Kekhilafahan Abbasiyah yaitu Baghdad. Terjadinya salah satu pembantaian tersadis dimana rakyat Baghdad disembelih di jalanan-jalanan kota, bahkan dokumentasi sejarah menyatakan sungai Tigris berwarna hitam airnya akibat banyaknya buku, literature dan manuskrip pengetahuan yang dibakar dari perpustakaan al Hikmah. Tentara Mongol bukan hanya memusnahkan penduduk tetapi memusnahkan peradaban. Umat Islam benar-benar luluh lantak. Meskipun pada akhirnya tentara Mongol berhasil mundur, namun umat muslim sudah terlanjur hancur lebur akibat ekspansi brutal pasukan Mongol.

Namun sekali lagi, Allah akan terus menjaga cahayaNya lewat para manusia pilihan. Tahun 1453, muncul-lah sebaik-baik panglima muda bernama Muhammad Al Fatih yang melakukan penaklukkan spektakuler terhadap kota Konstantinopel (Sekarang Istambul-Turki). Umat Islam pun kembali bangkit dan berjaya. Namun setelah itu, umat Islam terus menerus mengalami kemunduran hingga puncaknya adalah runtuhnya pengawal ajaran Islam Kekhilafahan Utsmani pada tahun 1924. Saat itu umat Islam benar-benar seperti anak-anak ayam kehilangan induk. Musuh Islam mengepung dari segenap penjuru sebagaimana yg telah nabi sabdakan bahwa akan tiba suatu masa bangsa-bangsa kafir mengerumuni kaum muslimin sebagaimana orang-orang mengerumuni makanan. Dewasa ini adalah era keterpurukan kaum muslimin di segala bidang.

Musuh-musuh Islam tahu benar, umat muslim begitu tangguh ketika diserbu secara fisik. Mereka paham, bahwa untuk mengalahkan umat Islam maka perlu menghilangkan sumber energi umat Islam yg paling utama yaitu AlQur’an. Perlu diketahui, sesungguhnya hal yang paling ditakuti musuh Islam bukanlah karena kaum muslimin melaksanakan sholat, dzakat, puasa dll. Tetapi penerapan AlQur’an secara menyeluruh dalam setiap sendi perikehidupan sebagaimana yang dikatakan Snouck Hugronje. Bagi Islam, kekuasaan bukanlah milik siapapun kecuali Allah S.W.T. Manusia hanya sebagai makhluk yang dititipkan “Konsep Hidup” agar dilaksanakan di muka bumi. Oleh karena itu, dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari sumber energi utamanya, mereka merumuskan berbagai racun pemikiran kepada umat Islam. Demokrasi, nasionalisme, komunisme, darwinisme, liberalisme dan berbagai racun merusak lainnya sehingga banyak kaum muslimin termakan dan mengikuti jalan hidup mereka. Dan akhirnya, umat Islam berada dalam ketertindasan dibawah cengkraman kaki tangan kaum kafir.

Namun, Allah akan tetap menjaga cahayaNya. Sehebat apapun musuh-musuh Islam melakukan makar dan tipu daya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rencana Allah S.W.T. Rasulullah bersabda di akhir zaman nanti akan tiba masa tegaknya kembali kepemimpinan Islam yang mengikuti jalan kenabian (Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah) setelah sebelumnya umat Islam dirundung nestapa pada fase kekuasaan diktator kaki tangan penjajah. Akhir-akhir ini, tanda-tanda itu kian tampak terasa. Kepemimpinan Islam akan datang yang akan merontokkan sistem dajjal yg mencengkram dunia saat ini. Sabda Rasulullah tersebut seolah dibenarkan oleh National Intellegence Council (NIC) yaitu sebuah lembaga riset yg dibiayai Amerika Serikat untuk meneliti kemungkinan peta kekuatan politik dan ekonomi di masa mendatang. Menurut NIC, ada 4 kemungkinan yang terjadi di tahun 2020 yaitu :

1. Davod World : India dan China akan menjadi pemegang tampuk kepemimpinan dunia.

2. Pax Americana : Amerika akan tetap memimpin dunia dengan pedoman hidup demokrasi dan kapitalismenya

3. The New Islamic Caliphate : Akan tegaknya sebuah kepemimpinan Islam mendunia yang meruntuhkan nilai-nilai dan dominasi barat

4. Cycle of Fear : Dunia berada didalam kekacauan dan ketakutan.

Jadi sebagai muslim, Kemenangan Islam di akhir zaman adalah suatu keniscayaan yang telah dijanjikan dan tak perlu diragukan, yg akan diminta laporan pertanggungjawaban adalah sejauh mana kontribusi kita sbg orang yang mengaku muslim utk memperjuangkannya, atau malah ikut menghambat dan memusuhinya ? So, are you the real Muslim ? Tak akan ada yang sia-sia dalam membela Islam, hanya ada dua kemungkinan, jika gugur ditengah jalan maka sejatinya kita akan tetap hidup di syurga dengan segala kenikmatannya atau kita berhasil memperoleh kemenangan dan mulia hidup di dunia dengan Islam.

Untuk itu saya berpesan untuk diri saya pribadi dan kaum muslimin lainnya, Berbanggalah wahai kaum muslimin dengan Islam yang ada di dada kita, jagalah aset mahal tersebut ditengah deru fitnah akhir zaman. Kenapa kita patut berbangga dengan jalan hidup Islam ? Karena Islam tidak seperti pedoman hidup lain (Demokrasi, nasionalime, komunisme, darwinisme dll) yang berasal dari buah pikiran manusia yang terbatas dan penuh kekurangan. Melainkan petunjuk hidup yang digariskan sang Pencipta manusia yang Maha Tahu. Layaknya pabrik elektronik yang menerbitkan buku pedoman pemakaian bagi produknya karena sudah barang tentu sang produsen lebih tahu keadaan produk ciptaannya. Genggamlah kuat-kuat meskipun dengan itu kita harus menjadi generasi terasing, karena kata Rasulullah Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana keadaan awalnya, maka beruntunglah orang terasing itu. Kita lahir dengan fitrah sebagai Islam, hidup dengan Islam, dan menghadapNya tetap dalam keadaan Islam. Itulah satu-satunya jalan keselamatan. Semoga kita selamat sampai tujuan dan Allah berkenan memberi kita kekuatan. Jika orang-orang berpaling dan memilih jalan hidup lain, maka katakanlah kepada mereka. ‘Isyhaduu bi anna Muslimuun” (Saksikanlah bahwa saya seorang yang berserah diri sebagai muslim).

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS.Ali ‘Imran:139)/Oleh : M Yusron Mufid

Wallahua’lam


Read More..

Tiada yang Aneh, Para Mujahid itu Berawal Dari Remaja…

Abdurrahman bin Auf didatangi dua orang remaja dari kaum anshar, yaitu Muaz bin Amr Al-jamuh, 14 tahun dan Muawwiz bin Afra berumur 13 tahun. Kedua duanya bersenjatakan pedang. Tentara Quraisy seolah olah tidak menghiraukan kehadiran dua remaja itu karena menganggap kedua duanya tidak berbahaya. Mereka lebih memilih Abdurrahman bin Auf agar ditawan hidup hidup untuk dijadikan tebusan karena dia terkenal sebagai saudagar yang kaya.


Dalam kondisi kerusuhan pertempuran, Abdurrahman bin Auf berteriak ,” Wahai anak, kamu masih terlalu muda untuk terlibat di peperangan ini, sebaiknya engkau menjauhlah dari tempat ini.”

“Kami mendapat izin daripada ibu dan ayah kami bagi menyertai pasukan Muhammad,” teriak Muaz.

“Saya datang kesini hanya untuk membunuh Abu Jahal. Tunjukkan dimana dia?” Kata Muawwiz dengan penuh semangat.

Pada mulanya Abdurrahman bin Auf tidak menghiraukan kata kata dua remaja itu, tetapi Muaz dan Muawwiz terus mendesaknya supaya menunjukkan dimana Abu Jahal maka akhirnya Abdurrahman terpaksa menyetujuinya.

“ Paman akan tunjukkan kepada kamu dimana Abu Jahal, boleh tahu apa yang akan kamu lakukan apabila berjumpa dengannya? Tanya Abdurrahman bin Auf pula.

“Ibu saya berpesan jangan pulang ke rumah selagi kepala Abu Jahal tidak diceraikan dari badannya,” jawab Muaz bersungguh sungguh.

“Abu Jahal menghina serta menyakiti Rasulullah, saya ingin membunuhnya,” kata Muawwiz pula.

Abdurrahman bin Auf tersenyum mendengar kata kata dari dua orang remaja yang berani itu. Dia berjanji akan menunjukkan Abu Jahal apabila berjumpa. Tiba tiba seorang tentara quraisy menyerang Abdurrahman bin auf dari belakang. Muaz dan Muawwiz yang melihat kejadian itu segera bertindak melindunginya. Muaz dengan cepat menebas kaki tentara Quraisy menyebabkan dia tersungkur dan Muawwaiz pula menikamnya hingga mati. Melihat itu Abdurrahman bin Auf berasa kagum dengan kehidupan dua remaja itu.

“Tunjukkan kepada kami di mana Abu Jahal,” kata Muaz seolah-olah tidak sabar lagi hendak bertemu dengan ketua pasukan Quraisy itu.

Tiba tiba Abdurrahman bin Auf melihat Abu Jahal sedang berada dibawah sepohon kayu yang rindang. Dia menunggang kuda sambil berteriak memberi kata kata semangat kepada pasukannya agar terus berjuang.

Itulah lelaki yang kamu cari. Tetapi kamu haruslah berhati hati karena dia juga seorang perwira Quraisy” kata Abdurrahman bin Auf

“terima kasih paman. Saya akan dapatkan dia sekarang,” ujar Muaz sambil berlari ke arah Abu Jahal.

“Saya akan membantunya membunuh lelaki yang memusuhi Allah dan RasulNya itu,” kata Muawwiz juga.

“Berhati hati karena dia dilindungi oleh pasukan Quraisy,” pesan Abdurrahman bin Auf. Dia sendiri tidak dapat membantu karena sedang berhadapan dengan tentara Quraisy yang menyerangnya.

Muaz dan Muawwiz terus berlari ke arah Abu Jahal yang masih berada di atas kudanya , mereka berlari tanpa menghiraukan keselamatan mereka. Ketika itu Abu Jahal tidak menyadari kedatangan dua remaja tersebut. Muaz tiba lebih dahulu , dia tidak mencapai menebas kaki abu Jahal, maka yang ia tebas adalah kaki kanan kuda yang dinaiki Abu Jahal, seketika kuda tersebut jatuh tersungkur, Abu Jahal pun tersungkur. Dia marah sekali sambil menahan sakitnya akibat jatuh dari kuda, Abu Jahal mencoba bangun tetapi dengan cepat Muaz menebas kaki kanan Abu Jahal hingga putus. Muawwiz yang menyusul memukul pula kepala Abu Jahal hingga dia teramat sakit.

Ikramah anak Abu Jahal yang turut berada di situ segera menolong dan melindungi bapaknya, dia menyerang balik Muaz dan menebas tangan kiri remaja itu hingga hampir putus, Muaz terjerembab. Muaz berusaha lari dan dibiarkan oleh ikrimah karena dia melihat Muawwiz hendak membunuh bapaknya. Maka terjadi pertarungan seorang dewasa matang dalam pertempuran yaitu Ikramah dengan Muawwiz yang masih berumur 13 tahun, karena tidak seimbang akhirnya Muawwiz gugur sebagai syahid.

Muaz selepas berhasil menjauhi Ikramah yang mengejarnya, ia terus berlari menuju Rasulullah, tapi pelariannya terganggu karena tangan kirinya yang terkulai karena hampir putus. Muaz akhirnya berhenti lalu mengambil keputusan untuk memutuskan tangannya yang terkulai itu lalu berkata, “ wahai tangan, kamu mengganggu perjalananku untuk bertemu Rasulullah.

Tanpa menghiraukan kesakitannya Muaz terus berlari hingga bertemu Rasulullah, kemudian Muaz memeluk Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, saya dan Muawwiz berhasil membuat Abu Jahal cedera, tetapi dia masih hidup karena kami di serang oleh anaknya bernama Ikramah dan beberapa pasukan Quraisy.” Beritahu Muaz lalu menunjukkan posisi mana Abu Jahal sedang berada.

Nabi Muhammad memanggil Abdullah Ibnu Mas’ud yang berada di situ karena gilirannya mengawal Rasulullah , Beliau lalu menyuruh Ibnu Masud mencari Abu Jahal berada.

“ Wahai Ibnu Masud, anak ini mengatakan dia telah membuat Abu Jahal terluka, pergilah dan lihatlah dia disana,” kata Rasulullah.

Abdullah ibnu Mas’ud segera pergi mencari Abu Jahal, didapatinya pimpinan Quraisy itu terluka parah tetapi masih hidup. Tanpa rasa belas kasihan Abdullah bin Mas’ud menekan leher Abu Jahal sambil berkata,” Wahai musuh Allah dan musuh RasulNya, pada hari ini Allah menghinakanmu.”

“Dengan apa Allah menghina aku? Apakah karena aku mati ditangan engkau? Tanya Abu Jahal yang masih menunjukkan kesombongannya.

Abdullah ibnu Mas’ud mengangkat pedang hendak memenggal kepala Abu Jahal, tetapi Abu Jahal berujar,” sebelum engkau membunuh aku, beritahu dahulu pihak mana yang memenangi pertempuran ini, milik siapakah kemenangan hari ini?”

“Pasukan Quraisy kalah, kemenangan itu milik Allah dan RasulNya,” Jawab Abdullah bin Mas’ud.

“Anda bohong wahai pengembala kambing !” kata Abu Jahal, dia masih menunjukkan angkuhnya walau situasi sedang kritis.

Tanpa ada sela waktu, pedang Abdullah bin Mas’ud menebas kepala Abu Jahal

Berita terbunuhnya Abu Jahal dengan cepat disampaikan kepada pasukan Islam, mereka menjadi semakin membara dan semangat, tetapi dipihak lain berita kematian itu meluluhkan semangat pasukan Quraisy….

Rasul mendengar berita kematian Abu Jahal dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan ,” Wallahi, Laa ilaha illaLLah , Laa ilaha illaLLah, Laa ilaha illaLLah, Allahu Akbar, AlhamduliLLah , Dia yang memenuhi janjiNya dengan menolong hambaNya dan mengalahkan musuhNya.”

Begitulah kematian musuh Allah, secara fisik dan kemegahan saat itu Abu Jahal termasuk manusia yang dihormati kaumnya, punya posis tinggi, tapi Allah menghinakannya, dimulai dengan serangan dua orang remaja dibawah umur, segala kekuatannya tumbang atas izin Allah, sebuah bukti hanyalah dengan kekuatan iman dan jihad lah yang dapat mengalahkan kekuatan kekuatan musrik dan musuh Islam dari dulu hingga sekarang…

Ya Allah kuatkanlah Islam dengan generasi yang Engkau ridhoi, dan munculkanlah kekuatan Islam dari munculnya pemuda pemuda muslim belia seperti Muaz bin Amr Al-jamuh, dan Muawwiz bin Afra…

Read More..

Surat Sakti Gus Dur

Saya pernah enam kali minta tanda tangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tanda tangan itu menjelma “surat sakti” untuk pengajuan beasiswa “lepas” di berbagai lembaga atau organisasi internasional.


Saya merasakannya ketika mengajukan beasiswa The Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) yang bermarkas di Rabat, Maroko, The Muslim World League (MWL) yang bermarkas di Makkah, Saudi Arabia, World Assembly of Muslim Youth (WAMY) yang bermarkas di Riyadh, Saudi Arabia, dan lembaga-lembaga lainnya.

Alhamdulillah, melalui “surat sakti”nya, saya bisa kuliah strata satu diUniversitas Al-Qurawiyin Maroko (2003). Sekarang, tahun terakhir penyelesaian program doktor di universitas yang sama.

***

Saya yang anak kampung dengan mudahnya mendapatkan tanda tangan Gus Dur. Padahal dia mantan presiden. Dari mana saya mendapatkan tanda tangan Gus Dur?

Ayah saya kenal Gus Dur saat belajar ngaji di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Keakraban keduanya terus terbina hingga sama-sama dewasa, meskipun ayah saya hanya putra “kiai kampung”, sedangkan Gus Dur putra Menteri agama, cucu pendiri NU. Namun hal itu bagi Gus Dur bukanlah masalah.

Saya berkesimpulan Gus Dur bukanlah orang yang pilah-pilih dalam berteman. Ketika didaulat menjadi Ketua PBNU, sikap Gus Dur tidak berubah cara bersahabatnya dengan ayah saya. Setiap ayah berkunjung ke Jakarta, tidak ada gejala ia dibedakan dengan temannya yang lain.

Begitu juga ketika Gus Dur menjadi presiden. Gus Dur tetaplah Gus Dur. Ia masih sering menelpon ayah, dan beberapa kali mengundang ayah ke istana presiden. Keduanya hanya sekadar untuk ngobrol ala pesantren. Dan ayah saya pun memenuhi undangannya, cukup mengenakan sarung dan sandal, identiknya orang pesantren.

Dan yang terpenting adalah, bahwa Gus Dur tidak pernah membeda-bedakan siapapun tamu yang datang. Ketika saya bertamu kepadanya dan megajukan beasiswa, Gus Dur tidak pernah bertanya, mau dibawa ke lembaga mana tanda tangan saya? Tetapi beliau hanya bertanya, untuk keperluan apa tanda tangan saya? Ketika dijawab untuk mencari beasiswa, beliau langsung bilang, “Iya”.

Dan saya pun mendadak menulis surat yang dibutuhkan dalam bahasa Arab dengan mengggunakan kop pribadi Gus Dur, (Nama Abdurrahman Wahid tinta kuning dan alamat Kantor PBNU tinta hitam). Maka wajar pula dalam surat yang saya tulis terdapat beberapa kesalahan secara nahwu dan sorof, karena ditulis secara mendadak dan terburu-buru. Apalagi waktu itu ia mau keluar
ruangan. Dan saya salutnya, ia ikhlas menunggu surat selesai ditulis dan ditandatanganinya.

Gus Dur, kini, engkau sudah empat tahun pergi menghadap Allah. Insya Allah saya selalu mendoakan kebaikan untukmu, untuk kenikmatanmu di sisi yang Maha kuasa. Meskipun doaku hanyalah “secuil” dari lautan doa bangsa Indonesia, dengan ragam suku-etnis dan agamanya. Bagi saya, belum ada orang mampu menggantikan rendah hatimu dengan semua manusia.

Terima kasih Gus Dur, dengan didukung “surat sakti”, kini saya, anak desa hampir menyelesaikan pendidikan program doktor di universitas tertua di dunia yang berdiri pada tahun 859 M ini, dengan biaya murni beasiswa, dengan tidak merepotkan keluarga di kampung.

Saya yakin, hal ini termasuk amal jariah, yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang masa untukmu, apalagi nanti jika ilmu yang saya dapatkan, diajarkan kepada masyarakat luas. []

(Nasrulloh Afandi)

*Nasrulloh Afandi, Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Krangkeng
Indramayu, Jawa Barat
Kandidat Doktor Maqoshid Syariah, Universitas Al-Qurawiyin, Maroko.


Read More..

Wednesday, March 25, 2015

Curhat Pada Suami Orang

” Iya bener loh saya sudah pisah ranjang sama suami saya ” begitu terdengar suara Ibu lin berkomentar, lalu Ibu-ibu yang lain menanggapinya dengan serius, ” Ah….masa sih…” ” Bener…sudah dua minggu loh ” Astagfirllah tiba-tiba saya langsung beristigfar dan menghampiri kumpulan para Ibu-ibu itu serta menawarkan untuk memulai acara. Saya jadi gak percaya, hampir saja semua ribut gara-gara bu lin yang bercerita tentang masalah rumah tangga nya itu.


Memang sempat beberapa hari lalu, bu lin itu menelpon saya, dengan suara bergetar dia bilang ” bu tolong saya dong bu, suami saya selingkuh ” saya yang mendengarkan pembicaraannya dari saluran telefun langsung seperti tersambar guntur di siang bolong, bagai mana tidak orang yang selama ini saya kagumi dan saya sayangi dan bahkan sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri, berselingkuh.

Yah….suaminya bu lin ini saya sudah anggap kakak saya, karena saya juga sering berkonsultasi dengannya, Dan kini dia yang saya kagumi dan sebagai figur suami sholeh, eh…malah selingkuh. Dengan rasa tak percaya saya bertanya pada bu lin, jangan-jangan bu lin cuma lagi emosi kali atau cemburu saja. Eh…rupanya benar, sebenarnya kejadiannya itu begini :

Wanita yang ingin di nikahi oleh suaminya bu lin itu adalah mantan pacarnya, dulu waktu masih sama-sama kuliah mereka pernah menjadi pasangan yang serasi, namun ketika berganti tahun tiba-tiba tanpa kabar dan berita si wanita itu hilang begitu saja meninggalkan suaminya bu lin dan akhirnya suaminya bu lin melanjutkan kuliah di luar negeri, entah itu karena frustasi atau apa, dia mendengar pacarnya yang memang saat berpisah belum ada kata putus, itu sudah menikah dan bahkan sudah mempunyai anak 2. sedih juga saya mengetahui cerita awalnya, lalu masuk lah bu lin sebagai pengganti, itupun di jodohkan oleh orang tuanya.

Dan kini setelah mereka sudah sama-sama berumah tangga, tiba-tiba datang musibah menimpa keluarga si wanita, dari cerita bu lin, suaminya si wanita itu kasar dan tidak menyayanginya, bahkan sempat beselingkuh, yang di akhiri dengan perceraian, namun selama proses perceraian berlangsung, entah dari mana mulainya tiba-tiba si wanita itu teringat akan mantan kekasihnya itu, dan secara tidak sengaja wanita itu curhat pada suaminya bu lin alias mantan pacarnya itu. Begitu tersentuhnya suaminya bu lin ketika mendengar cerita-cerita dari wanita itu, dan dari cerita yang saya dengar, bu lin bilang kalau mantan pacar suaminya itu sempat minta di nikahi oleh suaminya bu lin, karena terhanyut dan terbawa perasaan, dan suaminya bu lin pun lupa akan apa yang pernah di lakukan si wanita itu terhadapnya, yang dia tahu hanya kasihan dan perasaan cinta yang sudah lama hilang kini bersemi lagi, maka akhirnya terjadilah peperangan di rumah bu lin, ketika suaminya meminta izin untuk menikahi wanita itu.

Bu lin yang geram bertanya… ” apa motifasi dari keinginan suaminya itu untuk menikahi wanita itu ” jawaban yang di berikan oleh suaminya sangat menyakitkan hati bu lin, seperti tidak sadar sauminya bu lin berkata pada siapa saat itu : ” yang pertama karena syariat islam tidak melarang para lelaki mempunyai istri lebih dari satu, asal adil. Dan yang ke dua adalah karena kasihan melihat penderitaannya selama ini yang selama menikah tidak pernah merasakan kabahagiaan ” Bu lin yang mendengarkan jawaban suaminya merasa terpukul sekali, bu lin merasa tidak di hargai sama sekali, lantas dia bertanya lagi pada suaminya ” lalu bagaimanakah dengan saya, karena selama inipun saya merasa belum bahagia ” spontan suaminya menjawab ” bila posisi kamu jadi dia bagaimana ? “

Wah…ceritanya memang seru, tapi memang dunia sudah terbalik, karena sekarang perempuan-perempuan sudah semakin berani, bahkan gak tanggung-tanggung yang di cari bukan perjaka lagi, melainkan suami orang. Apa yang bisa dia dapat sebenarnya dari curhat pada suami orang, apakah dia tidak berfikir, ketika rumah tangganya saja berantakan dia sedih sekali dan kini rumah tangga orang pun dia berantakin, walaupun mungkin tidak ada maksud di hatinya untuk menghancurkan rumah tangga orang, tapi sejak awal sebelum curhat maka haruslah di fikirkan matang-matang, pada siapa kita curhat, pantaskah kita curhat pada orang itu, dan nanti jadinya bagaimana ? Pertanyaan itu harus di simpan dulu di kepala, agar ketika hendak curhat tidak dengan sembarang orang. Yang hasilnya nanti merugikan orang lain dan bisa jadi merugikan dirinya sendiri, coba saja bayangkan, kalau benar rumah tangga bu lin berantakan dan akhirnya bu lin berpisah dari suaminya, lantas suaminya bu lin itu jadi manikahinya, bukankah dia akan di cap penghancur rumah tangga orang dan merebut suami orang. Ih….mengerikan bukan. Naudzubillahiminzalik.

Bukankah termasuk zina hati ketika seorang wanita dan laki-laki yang bukan muhrim saling bertelefunan, tanpa adanya keperluan yang sesuai dalam syariat islam, apa lagi untuk saling curhat. Entah itu lewat email atau telfun yang akhirnya akan mengakibatkan saling tertarik dan jatuh cinta. Karena di antara curhatan mereka pasti ada sesuatu yang terselip dalam hatinya, apa lagi ini dengan mantan pacar. Cinta adalah mawaddah wa rahmah, sedang nafsu seks sebagai naluri adalah nafsu syahwat. Keduanya hanya bisa bersatu dalam pernikahan, karena berseminya cinta yang terjadi sesudah pernikahan adalah cinta yang dijamin oleh Allah Ta’ala, sebagaimana tercantum dalam surat Ar-Rum ayat 21, artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Bila satu rumah tangga di landasi dengan cinta pada Allah Ta´ala, maka rumah tangga itu akan barokah dan penuh dengan keridhoan Allah SWT, namun rumah tangga yang di bina karena nafsu dan ambisi, lantaran melihat orang yang pernah bersamanya dulu menderita, maka akan mendatangkan suatu kemudhorotan, karena orang itu akan rela mengorbankan rumah tangganya yang sudah di bina selama belasan tahun, hanya untuk membahagiakan orang lain yang jelas-jelas bukan lagi miliknya. Memang yang saya dengar dari ceritanya bu lin, ketika bu lin menyempatkan diri untuk menelfun wanita itu, ketika wanita itu curhat dengan suaminya bu lin, wanita itu memang tidak sengaja curhat pada suaminya bu lin, karena saat itu dia sedang depresi berat dan dia memang mengakui pada bu lin, bahwa dia meminta suaminya bu lin untuk menikahinya, setelah dia bercerai dari suaminya, karena dia ingin sekali menjadi wanita sholehah dan perlu orang yang dapat melindunginya serta membimbingnya.

Tapi dari penilaian saya, apa benar dengan meminta suami orang untuk menikahinya, dia akan jadi wanita sholehah, padahal dengan melakukan hal itu berarti dia sudah menghancurkan rumah tangga orang dan menjadi wanita yang tidak akan di hargai nanti, Jadi siapakah yang salah di antara keduanya. Yah…nasi sudah menjadi bubur, suami bu lin sudah di butakan oleh nafsu dan ambisinya untuk menikahi wanita itu, alasannya hanya kasihan, itu saja. Tapi apakah setiap orang yang mempunyai masalah dalam rumah tangganya lantas curhat pada suaminya bu lin, lalu harus di nikahi ketika si pecurhat itu akhirnya bercerai dengan suaminya, tidak bukan ?!!, lantas bagaimana dong dengan para ustadz dan ustadzah yang membuka rubrik tanya jawab tentang permasalahan dalam rumah tangga. Ini mungkin karena yang curhat adalah wanita yang pernah jadi pujaan hatinya dulu dan cinta yang terputus di tengah jalan, hendak dia rajut kembali dalam satu pernikahan, Maaf saya bukan berprasangka buruk, karena saya melihat dari ke gigihan suaminya bu lin untuk tetap menikahi wanita itu, sampai-sampai suaminya bu lin itu berani mengorbankan rumah tangganya.

Dan yang paling menyedihkan hati saya, ketika mendengar bu lin curhat pada saya, di hari berikutnya yaitu ketika suaminya ingin berkata jujur padanya, suaminya bu lin bilang ” Sampai kapan pun saya akan tetap menikahi wanita itu, tanpa sepengetahuan kamu “. Antara percaya dan tidak, saya benar-benar terperanjat mendengar cerita itu, dan kata-kata yang di lontarkan oleh suaminya bu lin, tanpa memikirkan perasaan dan hati bu lin yang sudah mendampinginya selama belasan tahun.

Dan tidak kah suaminya bu lin itu berfikir bagaimana dengan anak-anaknya nanti, apakah dengan begini dia akan mendapatkan kabaikan dunia akhirat, menolong orang yang belum tentu bisa membawanya ke syurga dan meninggalkan keluarganya yang sebenarnya di sanalah ladang syurga terbentang luas, dengan anak-anak yang sholeh dan sholehah serta istri yang menemani saat duka melanda bersamanya mereka arungi, kini apa yang suaminya bu lin cari dari semua itu. Wallahu´alam saya tidak pernah mengerti dengan semua ini. Namun kesedihan senantiasa menamani hati saya melihat bu lin dari hari ke hari, semakin tidak bergairah dalam menapaki hidup. Bahkan dia sempat berkata pada saya, ” ingin istirahat dulu dan tidak datang ke pengajian “. Begitu katanya, Sedih saya mendengarnya.

Rasululloh SAW bersabda : “Telah ditulis atas anak Adam bagiannya dari hal zina yang akan ditemui dalam hidupnya, tidak bisa tidak. Zinanya mata adalah melihat, zinanya telinga adalah mendengar, zinanya kaki adalah berjalan, dan zinanya hati adalah keinginan dan berangan-angan, dan semua itu dibenarkan atau didustakan oleh kelaminnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Allah SWT berfirman : “Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’ : 32).

Zina itu banyak artinya, zina mata ketika saling memandang, zina kaki adalah berjalan menuju tempat yang sebenarnya tidak di benarkan dalam agama, dan zina hati adalah saling curhat dan saling mengasihani dengan masalah masing-masing maka akan saling jatuh cinta serta berangan-angan.

Yah seperti tadi yang saya katakan, bagaimana dengan ustadz -ustdazah yang membuka rubrik tanya-jawab tentang seputar permasalahan rumah tangga, di sana banyak sekali wanita dan laki-laki yang curhat dengan ustadz-ustadzah tersebut, bisa jadi wanita yang pernah menjadi kekasihnya semasa jahiliyah ikutan curhat di sana, dalam rangka bertanya tentang rumah tangganya yang berantakan, lantas apakah wanita-wanita itu yang curhat pada beliau akan di nikahinya, bila akhirnya mereka bercerai pada suaminya. Saya yakin beliau sangatlah bijaksana dalam memehami semua masalah, dan beliau menjawab tidak berdasarkan hati nurani saja, melainkan berlandaskan Alqur´an dan sunnah dan beliau juga tidak akan mencampur adukkan antara diri pribadi dan masalah orang lain. Mungkin ini pertanyaan saya yang tidak masuk akal, Wallahu ´alam bisshawab.

Semoga ini semua bisa jadi pelajaran bagi kita para wanita yang sudah berumah tangga ataupun yang belum, untuk senantiasa berhati-hati bila hendak bercurhat, karena akan berdampak negatif dan bukan saja merusak rumah tangga orang serta merugikan diri sendiri, melainkan merusak semua fihak yang berhunbungan dengan keluarga tersebut, misalkan anak-anak dari keluarga tersebut, orang tua dari pihak perempuan serta saudara-saudaranya. Semoga Allah menjaga kita para wanita agar tidak semakin banyak menjadi penghuni Neraka, karena dalam hadist Rosulullah SAW bersabda :

Beliau bersabda.“Artinya : Sesungguhnya aku melihat Surga, maka aku berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Seandainya aku berhasil meraihnya, niscaya kalian akan dapat memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku juga melihat Neraka, aku sama sekali tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menyeramkan dari pemandangan hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita”. {Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani] [Bukhari/Muslim]

Naudzubillahiminzalik.


Read More..

KALBU MENGERAS KARENA JAUH DARI ALLAH

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya kalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) diciptakan untuk melunakkan kalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah kalbu yang keras. Jika kalbu sudah keras, mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.
Sebagaimana halnya jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula kalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan dengan nasihat.


Barang siapa hendak menyucikan kalbunya, ia harus mengutamakan Allah subhanahu wa ta’aladibanding dengan keinginan dan nafsu jiwanya. Sebab, kalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sesuai kadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.
Banyak orang menyibukkan kalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat, tentu kalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang tampak ini. Ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah.

Jika kalbu disuapi dengan berzikir dan disirami dengan berpikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan kalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh kalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, tidak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya kalbu adalah karena lalai dan merasa aman. Adapun makmurnya kalbu adalah karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan zikir. Maka dari itu, jika sebuah kalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya, jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa kalbu. Membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapa pun yang menempatkan kalbunya di sisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tenteram. Siapa pun yang melepaskan kalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah akan masuk ke dalam kalbu yang mencintai dunia, melainkan seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya. Allah subhanahu wa ta’alajuga akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lisannya senantiasa basah dengan berzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Kalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat.

Kalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berzikir.

Kalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah takwa.

Kalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakal, bertaubat, dan berkhidmat untuk-Nya.

[Diterjemahkan dan diringkas dari kitab al-Fawa’id karya Ibnul Qayyim t hlm. 111—112]
Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc


Read More..

Kalimat Terakhir Di Penghujung Nafas Ustman bin Affan

Khalifah ketiga Ustman Bin Affan r.a termasuk sepuluh sahabat Rasul SAW yang dijamin masuk surga. Meskipun demikian, ia selalu terjaga sepanjang malam untuk beribadah kepada Allah SWT karena rasa takut yang menyerangnya dan kedahsyatan hari kiamat sekaligus mengharap rahmat dan ridha Allah SWT.


Saat para penghasut menggerakan rakyatnya untuk membunuh dirinya, istrinya berteriak ke arah mereka, “ Jika kalian ingin membunuh atau membiarkan dirinya tetap hidup, sungguh dirinya senantiasa menghiasi malamnya dengan shalat yang satu rakaatnya mampu mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an.”

Ibnu Umar mengisahkan bahwa Ustman menceritakan kepada orang-orang, “Aku berjumpa dengan Rasul SAW semalam dalam mimpi. Beliau bersabda, ‘Berbukalah besok bersama kami!’” Keesokan paginya, ia berpuasa dan di hari itu pula ia terbunuh.

Diriwiyatkan dari Harun bin Yahya bahwa Ustman r.a pernah berkata, saat ia diserang dari belakang dan darah telah membahasi janggutnya, beliau sempat berucap “Laa Ilaha Illallah , Subhanallah . Aku sungguh termasuk golongan orang-orang yang zalim. Ya Allah, aku berharap hidayah dan pertolongan-Mu atas seluruh urusanku dan aku memohon kesabaran atas musibah yang menimpaku.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam bahwa Ustman r.a berkata, “Ya Allah, persatukanlah umat Muhammad!” Abdullah berkata, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, jika ia berdoa kepada Allah SWT dalam kondisi sedemikian agar umat tidak bersatu selamanya, niscaya mereka tidak akan bersatu selamanya. (Lr)


Read More..

Monday, February 23, 2015

Jangan Tersesat Dengan Emansipasi, Bunda…

Bunda,
Sebentar lagi, 21 April yang biasa diperingati sebagai hari Kartini. RA Kartini, tokoh emansipasi di Indonesia, akupun menghormatinya. Bahkan waktu SD dulu, aku sering sekali diajak bapak atau ibu guru untuk berziarah ke makam RA Kartini, yang kebetulan tokoh sejarah itu dimakamkan di Bulu-Mantingan, yang kebetulan hanya sekitar 14 km dari Blora ke arah Rembang. Bahkan beberapa kali aku dan teman-teman naik sepeda untuk menuju ke sana. Suasana ziarah akan ramai sekali pada bulan April. Jujur, waktu itu aku hanya tahu yang aku ziarahi bersama teman-teman adalah seorang tokoh perempuan yang sangat terkenal di negeri ini.


Bunda,
Usia emansipasi di negeri ini jauh lebih tua dari usia negerinya sendiri. Emansipasi itu sudah dimulai dari zaman penjajahan Belanda. Dan tokoh-tokohnya adalah muslim-muslimah yang taat, Insya Allah. Karena memang seharusnya seperti itulah adanya. Agama kita tidak pernah membeda-bedakan pahala antara laki-laki dan perempuan dalam hal ketaatan kepada Allah. Begitu juga sebaliknya, kalau perempuan. Ataupun laki-laki berbuat maksiat kepada Allah, balasannya tetap sama. Tidak sedikitpun Allah membedakan balasannya, walaupun secara fisik wanita diciptakan dengan sisi kelembutannya.

Kalaupun ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah dalam hal kodratnya. Karena memang dari penciptaannya pun berbeda. Kalau laki-laki diberi Allah kekuatan dari segi fisik, tetapi di sisi lain sebagai penyeimbang Allah menciptakan perempuan dengan jiwa yang lembut. Tapi justru di situlah letak keperkasaan seorang wanita, dalam kelembutannya. Jadi sangat wajar apabila dalam hal-hal tertentu harus ada pengecualian, karena memang beda. Akan sangat lucu kalau seandainya untuk mencapai kesetaraan seorang laki-laki berhak untuk memakai gaun perempuan dan menunjukkan kefeminimannya sementara sebaliknya sang perempuan harus tampil gagah dan garang seperti layaknya seorang laki-laki. Justru di situlah letak keadilan Allah, karena adil memang tidak mesti harus sama.

Bunda,
Jujur aku katakan, saat ini banyak emansipasi yang menyesatkan dan semakin jauh dari tuntunan Islam, walaupun tentunya tidak semuanya seperti itu. Masih segar dalam ingatan kita ketika pada hari Jum’at tanggal 11 Juni 2010 kemarin di Oxford, Inggris barat dilakukan sholat Jum’at dengan khotib dan dan imam seorang perempuan asal Kanada yang bernama Raheel Raza. Walaupun itu jauh terjadi di sana, efeknya seperti bola salju, menggelinding ke seluruh negara-negara muslim, tanpa bisa di filter informasi tersebut karena memang zamannya memang zaman keterbukaan informasi. Tentu tidak akan menjadi masalah seandainya dia menjadi imam sholat bagi sesama perempuan. Bukan berati menghalangi hak perempuan untuk menjadi pemimpin, tetapi memang area yang harus dipimpinnya sudah diatur jelas oleh Allah melalui Rasul-Nya yang tidak mungkin salah. Percayalah Bunda, pada saat seorang perempuan menjadi imam sholat bagi laki-laki di belakangnya, sangatlah mengganggu kekusyukan dan konsentrasi jamaah pria dibelakangnya, apalagi shaf pertama.

Masih lagi hak waris yang saat ini sedang ramai-ramainya digugat oleh mereka yang mengaku ‘aktifis perempuan untuk kesetaraan gender’. Kadang aku tersenyum sendiri kalau mendengar mereka selalu mendengung-dengungkan bahwa Islam memasung kebebasan dan kesetaraan bagi kaum wanita. Kalau dilihat dari sistem pembaginya yang 2 bagian bagi laki-laki dan 1 bagian bagi perempuan memang kelihatan tidak adil bagi otak kita yang memang diciptakan terbatas daya jangkaunya ini. Mereka menuntut pembagian yang adil adalah 1:1. Sayang mereka hanya menonjolkan satu sisi, tetapi tidak mau belajar di sisi yang lain. Dan mereka lupa, tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu bahwa walaupun bagiannya hanya satu , tetapi oleh Allah bagian tersebut di atur hanya untuk wanita itu sendiri, tidak wajib baginya berbagi dengan yang lain. Beda sekali dengan 2 bagian bagi laki-laki yang harus dan wajib dipergunakan bersama istri dan anak-anaknya. Masihkah Allah salah mengaturnya?

Bunda,
Pernah dalam satu penerbangan Balikpapan-Surabaya yang kebetulan pesawat tersebut terbang malam hari, aku duduk dalam deretan bangku tengah yang kebetulan dua orang disebelahku adalah ibu-ibu paruh baya. Sesaat setelah duduk merekapun berkenalan dan menanyakan tujuan masing-masing. Rupanya keduanya mantan TKW yang baru berkunjung di tempat saudaranya di Balikpapan. Yang satu pernah bekerja di Arab Saudi selama 3 tahun dan yang satunya lagi bekerja di Malaysia selama 2 tahun, kemudian ke Brunei selama 1.5 tahun.

Yang menarik adalah, begitu pulang ke tanah air ternyata suaminya kawin lagi. Masya Allah. Saking kesalnya maka sisa uang yang didapat selama bekerja diluar negeri digunakan untuk jalan-jalan ke Balikpapan. Siapa yang salah? Suaminya jelas salah karena menelantarkan istri, tidak mau bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan satu lagi mengkhianati istrinya. Tapi juga alangkah indahnya kalau seandainya sang istri juga tidak berani bepergian selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun meninggalkan keluarga tanpa mahrom yang sebenarnya dilarang oleh Islam. Bagaimana bisa mendatangkan rahmat Allah kalau yang kita lakukan menyelisihi aturan-Nya? Terbalik rasanya kalau sang istri harus mencari nafkah sampai harus ke luar negeri menjadi TKW yang mungkin (maaf) dengan keterbatasan skill sementara sang suami enak-enak di rumah, merawat anak, sambil menikmati gaji kiriman dari sang istri? Adalah hak Bunda untuk menyampaikan hal tersebut ke suami, hak Bunda juga untuk mendapatkan nafkah dari suami, baik lahir maupun bathin.

Memang negeri ini jumlah pengangguran sangat tinggi sementara sepertinya para penguasa negeri ini masih bisa tersenyum di sela-sela rintihan rakyatnya yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun masih sebatas kebutuhan primer. Setidaknya itulah yang aku dan banyak orang rasakan saat ini. Satu-satunya jalan pintas yang dianggap mudah adalah memberi fasilitas/kemudahan warganya untuk menjadi TKI di luar negeri walaupun dengan jaminan keamanan dan kenyamanan bekerja yang tidak jelas. Akan sangat indah kalau seandainya yang dikirim adalah tenaga ahli, sehingga bangsa kita tidak menjadi bangsa yang bisa dianggap rendah oleh bangsa lain. Kadang aku miris setiap hari diberitakan tentang TKW yang pulang dengan kondisi kejiwaan yang terganggu atau bahkan menjadi korban perkosaan di tempatnya bekerja dan yang sebagian lagi harus menunggu hukuman mati karena sebenarnya mereka membela diri.

Bunda,
Sering kali di ekspose di media tentang ‘wanita-wanita perkasa yang kalau kita tidak jeli bisa membuat pemahaman kita tentang emansipasi menjadi keliru. Di sana ada wanita yang berprofesi sebagai petinju, pemain sepak bola, sopir bis, kondektur bahkan (maaf) tukang becak. Tidak ada maksud sedikitpun dari ananda untuk melecehkan profesi tersebut. Beberapa waktu kemarin aku naik bis Surabaya-Blora yang kebetulan kondekturnya perempuan . Bis itu jadwal berangkatnya jam 22:30. Tak lama setelah bis jalan, distop oleh 2 orang lelaki yang sepertinya baru selesai menenggak minuman keras. Dari bau mulut saat dia ngomong sudah sangat jelas mereka dalam keadaan mabuk. Pada saat di tarik karcis mereka malah marah dan hanya mau membayar 1 tiket. Semakin ditegur oleh ibu kondektur untuk membayar, mereka semakin marah. Akhirnya si ibu kondektur itupun mengalah.

Kalau hal seperti ini dianggap lumrah, tentu akan berbeda hasilnya ketika kondekturnya laki-laki, karena memang profesi itu sebenarnya cocok untuk laki-laki. Belum lagi kalau sopir bis nya juga perempuan. Masya Allah … Memang benar ada ungkapan bahwa sebenarnya apapun yang bisa dilakukan laki-laki sebenarnya bisa dilakukan oleh perempuan kecuali mengandung, karena laki-laki memang tidak mempunyai rahim. Dan itulah yang selalu didengung-dengungkan mereka yang mengaku membela perempuan. Dan itu dimanfaatkan oleh pemilik modal untuk mempekerjakan perempuan sebanyak mungkin. Mereka beranggapan bahwa dengan membayar murah dan tidak banyak tingkah seperti laki-laki, merupakan modal untuk mendapatkan keuntungan besar bagi perusahaan. Akan sangat cocok kalau perusahaan tersebut bergerak dibidang garmen, farmasi atau perusahaan bidang lain yang memerlukan ketelitian tinggi.

Mohon maaf kalau ini hanya idealisme ananda. Seandainya kaum hawa sedikit ‘merelakan’ beberapa pekerjaan yang memang seharusnya di lakukan oleh laki-laki mungkin pengangguran tidak separah ini. Contoh sederhana saja, saat ini banyak perusahaan kayu lapis yang sebagian besar pekerjanya adalah perempuan. Padahal di sana banyak memerlukan kegiatan/pekerjaan yang bersifat fisik. Belum lagi para pekerja di pompa bensin yang saaat ini sebagian besar dilakukan oleh perempuan. Pekerja-pekerja di toko material bangunan juga sebagian besar perempuan. Akan indah kalau sesuatu itu sesuai porsinya.

Mungkin sebagian besar akan sinis dengan hal di atas. Atau bahkan akan semakin menganggap bahwa dunia wanita adalah: sumur, dapur dan kasur. Bukan seperti itu maksudku. Wanita adalah mitra sejajar laki-laki. Bahkan Rasulullah SAW mengajari kita bagaminana mengukur kekuatan suatu bangsa. Ukuran kekuatannya terletak pada kaum wanita. Kalau kaum wanitanya baik Insya Allah baik dan kuatlah negara itu. Sebaliknya kalau kaum wanitanya rusak maka rusaklah seluruh negara itu. Di sini dituntut selain sholihah wanita juga harus pintar. Karena generasi sebuah bangsa berada dalam genggamannya. Islam tidak pernah membatasi kaum perempuan untuk sekolah dan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bahkan walaupun tidak diwajibkan untuk sholat Jum’at, seorang wanita boleh menuntut suaminya untuk menyampaikan ilmu yang didapat dari khotbah Jum’at sang suami.

Bunda,
Kadang hatiku gundah dan geram melihat eksploitasi wanita di semua lini. Coba kita lihat di televisi, iklan apapun akan menggunakan wanita sebagai ikonnya. Bahkan produk yang tidak ada hubungannya dengan wanitapun tetap menggunakan wanita sebagai daya tariknya. Belum lagi saat ini banyak ibu-ibu yang tidak merasa resah pada saat anak gadisnya belum pulang sementara sudah diatas jam 22:00. Justru mereka resah pada saat anak gadisnya yang berusia SMP belum mempunyai pacar. Astaghfirullah. Dan fenomena ini terjadi di depan mata kita, Bunda. Sebuah fenomena yang mungkin tidak terjadi pada saat Bunda masih muda dulu. Padahal mereka adalah generasi penerus kita kelak.

Kekuatan bangsa dimulai dari keluarga yang didalamnya peran Bunda sangatlah dominan. Jepang dikenal sebagai bangsa yang kuat karena kaum ibunya yang kembali ke rumah dengan modal pendidikan yang cukup. Pendidikan itu digunakan untuk mendidik anak-anaknya yang kemudian menjadi generasi yang unggul. Meraka tidak malu berkarir di rumah, sementara di negri kita akan disebut wanita yang sukses adalah yang berkarir tinggi di suatu perusahaan dengan ratusan karyawan pria di bawahnya, atau menjadi selebritis yang dielu-elukan di berbagai tempat. Padahal aku, yang dilahirkan dari salah satu Bunda sangat menantikan dan merindukan datangnya kaum ibu yang menghasilkan generasi yang berkualitas, generasi yang kuat ketakwaannya kepada Allah, sehingga tidak lagi aku harus menyaksikan profesi dokter ahli kebidanan dan kandungan yang saat ini justru masih didominasi oleh kaum pria. Aku tunggu baktimu dengan kerinduanku yang teramat dalam.

Read More..

Adakah Tauhid Dalam Agama Kristen saat ini ? (2)

- Menyelamatkan kehormatan lahir dan batin

Islam mengajarkan ummatnya agar mereka melaksanakan perkara-perkara yang dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dan orang lain, yang di antaranya adalah dengan memerintahkan mereka untuk menutup aurat. Setiap orang dari ummat Islam diharuskan menutup auratnya dengan sempurna ketika mendatangi tempat-tempat umum, demi mencegah potensi negatif yang mungkin muncul dalam diri orang lain disebabkan oleh keberadaannya. Selain hal tersebut akan lebih aman bagi dirinya sendiri, orang lain pun juga akan menjadi aman dari pemandangan negatif yang dapat mengganggu batin mereka hingga memicu tindakan merugikan yang tak diharapkan. Karena pada kenyataannya, perilaku merugikan dan merusak yang banyak terjadi adalah disebabkan oleh potensi-potensi manusiawi yang tidak diamankan secara seharusnya. Maka dalam hal ini, apakah agama Kristen telah memberikan aturan menutup aurat dengan tegas dan jelas? Seperti apakah batasan-batasan dalam agama Kristen antara yang dilarang dan yang diperbolehkan untuk tampak dalam perkara aurat?

- Kesenjangan jumlah jiwa antara laki-laki dan perempuan

Menghadapi fenomena kesenjangan jumlah jiwa antara laki-laki dan perempuan, yang mana jumlah perempuan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki, Islam memperbolehkan kaum laki-lakinya yang mampu secara materi dan sanggup bersikap adil untuk menikahi satu sampai empat orang istri, yang di antara hikmahnya adalah untuk menolong wanita-wanita janda yang merawat sendiri anak-anak mereka; menekan jumlah penyimpangan pergaulan yang bisa saja dilakukan oleh selisih jumlah wanita karena tidak memperoleh ‘jatah pasangan’; menyelamatkan nilai-nilai terhormat tentang nasab atau keturunan, di mana istri kedua harus diperkenalkan dengan istri pertama, dan seterusnya, agar antara keturunan masing-masing tidak sampai terjadi nikah sesama saudara atau hubungan sedarah, dan juga agar tidak terjadi fitnah yang lebih besar karena pernikahan yang tidak saling diberitahukan; dan hikmah-hikmah lain yang semacam itu. Maka dalam permasalahan ini, solusi apakah yang telah benar-benar dipersiapkan oleh agama Kristen? Apakah selisih jumlah wanita yang tidak memperoleh ‘jatah pasangan’ lantas boleh berbuat bebas dalam pergaulan mereka dengan alasan tersebut? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain tentang hal tersebut untuk agama Kristen.

- Bahaya minuman keras

Semua manusia tentu mengerti dampak buruk dari minuman keras. Dan Islam dalam sejarahnya telah berhasil menyadarkan suatu bangsa yang mana telah begitu terlilit oleh pengaruh minuman yang merusak tersebut. Dan kalau tidak salah, dalam ajaran agama Kristen tidak ada pelarangan minuman keras secara tegas, melainkan hanya dianjurkan agar tidak sampai berlebihan dalam meminumnya sehingga tidak sampai mabuk-mabukan. Mungkin mereka beralasan bahwa pada masa Yesus atau Isa AS memang tiada pelarangan yang tegas dalam hal tersebut. Namun demikian, kalaulah misalnya benar bahwa pada masa Yesus atau Isa AS minuman keras tidak secara tegas dilarang, maka itu bukan berarti bahwa untuk seterusnya minuman keras akan berstatus demikian, karena memang ketentuan hukum Tuhan itu akan bisa berbeda setiap zamannya. Dahulu, generasi awal nabi Adam AS masih diperbolehkan untuk menikah dengan sesama saudara, namun tentu tidak demikian untuk saat ini, baik karena alasan ilmiah dan kesehatan ataupun karena alasan kepantasan dan kehormatan. Di samping itu, pada kenyataanya, kerusakan di tengah-tengah manusia yang sering terjadi, seperti pergaulan bebas, kecelakaan lalu lintas, dan kerusakan yang lebih berat dari itu, adalah disebabkan oleh pengaruh minuman keras. Maka betapa sulitnya untuk menerima kebenaran agama Kristen jika ajarannya tidak mengharamkan minuman keras yang telah terbukti merugikan tersebut.

Dan tentu masih banyak lagi selain perkara-perkara tersebut yang menjadi kelebihan agama Islam yang tidak dimiliki oleh agama Kristen. Agama Kristen memang memiliki kebaikan-kebaikan yang serupa dengan Islam, seperti dalam hal budi pekerti, kasih sayang, kemanusiaan, hikmah dan keteladanan dari para nabi dan rasul serta orang-orang terpilih lainnya, dan juga kebaikan-kebaikan umum lainnya, karena memang keduanya sama-sama bersumber dari Satu Dzat Pencipta yang sama, yaitu Allah SWT, namun tentu kekurangan-kekurangan dan penyimpangan di dalam agama Kristen itulah yang sebenarnya telah menyebabkan agama Kristen menjadi tidak sempurna dan rapuh. Dan jikapun agama Kristen dilengkapi kekurangannya, sedikit demi sedikit hingga iapun menjadi sempurna, maka ketika kita menyaksikan agama Kristen telah disempurnakan, niscaya ketika itulah kita akan menyaksikan agama Islam, karena memang Islam diturunkan salah satunya adalah untuk meluruskan apa-apa yang menyimpang dari ajaran Yesus atau Isa AS akibat campur tangan manusia, sekaligus sebagai agama penyempurna bagi semua agama manusia di akhir zaman.

Di samping itu, seandainya kita bersedia untuk memperhatikan fenomena perpindahan keyakinan, baik dari agama Kristen ke agama Islam, atau sebaliknya, maka ketika kita memperhatikan orang-orang yang berpindah keyakinan dari agama Kristen ke agama Islam, kita akan mendapati bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mencari kebenaran dengan kesungguhan, tanpa kecenderungan terhadap materi atau motif apapun yang selain itu. Namun sebaliknya dengan orang-orang yang berpindah keyakinan dari agama Islam ke agama Kristen, di mana hampir kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang terpaksa mengganti agama mereka karena kecenderungan materi atau motif lain yang semacamnya, dan bukan berdasarkan usaha mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh.

Lebih dari itu, kalaupun seandainya seluruh ummat manusia bersedia untuk bersama-sama mencoba membandingkan antara agama Islam dan agama Kristen, dengan cara misalnya dalam masa lima tahun seluruh ummat manusia memeluk agama Kristen, kemudian untuk selanjutnya, hingga akhir usia mereka, semuanya memeluk agama Islam dengan taat; atau dengan pola sebaliknya, yaitu lima tahun memeluk agama Islam, kemudian untuk seterusnya memeluk agama Kristen semuanya; maka dari sini, apakah kira-kira perbedaan pengaruh antara dua pola tersebut bagi kehidupan manusia, atau perubahan apakah yang akan terjadi dalam kehidupan manusia akibat perpindahan keyakinan tersebut? Mungkin, dari pengandaian ini saja pun kita akan bisa membayangkan betapa akan semakin rusaknya pergaulan ummat manusia jika ummat Islam yang sudah secara baik-baik menjaga aurat dan kehormatan mereka, menjaga dan menafkahi empat orang istri dengan adil, menjauhi minuman keras, dan seterusnya, justru harus bersama-sama memeluk agama Kristen secara bersamaan, yang di dalamnya tiada perintah menutup aurat secara jelas, tiada aturan tentang poligami yang menyelamatkan nasib para janda dan anak mereka, tiada larangan tegas terhadap minuman keras, dan seterusnya. Dan tampaknya, kita akan bisa membayangkan betapa teraturnya kehidupan manusia jika semuanya memeluk agama Islam dengan taat, di mana dunia ini akan tentu menjadi lebih baik dan lebih damai. Namun bagaimanapun juga, ternyata Allah SWT memang telah menentukan dengan hikmah-Nya bahwa di dunia ini pasti akan ada yang memperoleh hidayah-Nya dan akan ada yang tidak, karena jika semuanya memperoleh hidayah-Nya untuk kemudian memperoleh keselamatan, tentunya Allah SWT tidak akan perlu mempersiapkan tempat tinggal yang menyakitkan di akhirat. Maka di sinilah kita mengerti betapa besarnya keberuntungan ummat manusia yang dianugerahi hidayah iman dan Islam.

Di samping itu, dalam keyakinan Tritunggal agama Kristen, jikapun memang Tuhan harus mengambil seorang anak, maka seharusnya yang lebih berhak untuk menjadi anak-Nya adalah Adam AS, dan bukan Yesus atau Isa AS, karena Yesus atau Isa AS tercipta dan terlahir melalui rahim seorang makhluq, sedangkan Adam AS tercipta justru tanpa melalui rahim makhluq apapun. Kemudian selain itu, jika memang Tuhan harus menebus dosa ummat manusia, tentu Tuhan tidak perlu merubah sepertiga dari diri-Nya sendiri untuk menjadi makhluq, melainkan cukup dengan mengampuni makhluq-mahkulq-Nya begitu saja tanpa syarat apapun, yang mana itu akan lebih pantas bagi Dzat Pencipta daripada Pencipta tersebut harus menjadi ciptaan-Nya sendiri. Maha Suci Tuhan dari keyakinan Tritunggal dan keyakinan-keyakinan lain yang semacam itu.

Dan seandainya setelah semua kenyataan tersebut ummat Kristen masih tetap meyakini bahwa Yesus atau Isa AS adalah anak Tuhan, maka setidaknya mereka akan perlu untuk mempertimbangkan ayat-ayat Injil yang berikut ini:

“Maka Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku, dan Aku telah menyirami dia dengan minyak-Ku yang suci; Maka tangan-Ku akan menyokong dia selalu, dan lengan-Ku akan menguatkan Dia; … Ia pun akan memanggil akan Daku: ‘Engkau juga Bapaku, Allahku dan gunung batu selamatku!’; Maka Akupun akan menjadikan dia anak sulung, yang maha tinggi di atas segala raja-raja di bumi.” (Mazmur 89: 21-22, 27-28)

“Kemudian, kamu (Musa) harus berkata kepada Fir’aun, ‘Tuhan mengatakan ini: “Israel (Ya’qub) adalah anak-Ku yang sulung.” (Keluaran 4:22)

“Aku akan memimpin mereka pada jalan itu sebab Aku adalah Bapa Israel. Dan Efraim adalah anak laki-laki-Ku yang sulung.” (Yeremia 31:9)

Dari ayat-ayat Injil tersebut, jika memang ummat Kristen menuhankan Yesus atau Isa AS karena dia merupakan anak Tuhan, maka mengapa mereka tidak juga menuhankan ‘anak-anak’ Tuhan yang lainnya tersebut? Maha Suci Allah dari memiliki anak yang menjadi sembahan selain-Nya. Lebih lanjut tentang ayat-ayat tersebut, di mana di situ kita mendapati istilah ‘Bapa’ dan ‘anak’, yang mungkin, jika ayat-ayat tersebut memang benar-benar masih murni, bisa jadi istilah ‘Bapa’ dan ‘anak’ tersebut adalah semestinya bermakna ‘Tuhan’ dan ‘hamba pilihan’, sebagaimana para rasul yang memang telah dipilih oleh Allah di antara ummat manusia. Namun, tampaknya karena sikap pengagungan yang berlebihan dari ummat Kristen terhadap Yesus atau Isa AS itulah yang menyebabkan mereka mengartikan istilah ‘Bapa’ dan ‘anak’ melebihi maksud yang semestinya, di mana istilah ‘anak’ justru diartikan sebagai ‘sembahan’ di samping ‘Bapa’ yang harus mereka sembah itu sendiri. Namun bagaimanapun juga, di dalam al-Qur’an telah dinyatakan bahwa Allah SWT sendiri tidak pernah mengambil seorang anak, sehingga ayat-ayat yang menyebutkan tentang ‘anak-anak sulung’ tersebut bisa jadi telah dipengaruhi oleh campur tangan manusia. Dan kalaupun memang ayat-ayat tersebut benar-benar masih suci dan belum tersentuh oleh campur tangan manusia, maka mungkin penyimpangan dalam agama Kristen yang dibenci oleh Allah SWT adalah penyimpangan dalam mengartikan istilah ‘anak’ tersebut, sebagaimana yang telah diuraikan. Dan hanya Allah SWT sajalah yang lebih tahu hakikatnya.

Dan di dalam al-Qur’an sendiri juga telah disebutkan peringatan yang keras agar pengikut Yesus atau Isa AS tidak berlebihan dalam menghormati dirinya, dan juga ibunya, karena penghormatan yang berlebihan akan bisa berubah menjadi pengagungan yang akhirnya dapat menjadi penuhanan atau penyembahan. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa (Yesus) Putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib.’” (Al-Maaidah: 116)

Oleh karena itu, kiranya dengan segenap alasan dan kenyataan tersebut ummat Kristen dapat mempertimbangkan tawaran kebenaran dari agama Islam ini, yang juga sama-sama bersumber dari Allah, hanya saja Allah yang diyakini oleh ummat Islam adalah Dzat yang Suci dari penyekutuan, di samping juga firman-Nya dalam agama langit yang satu ini telah dijamin bersih dari penambahan dan pengurangan akibat campur tangan manusia. Allah yang telah menciptakan dan mengutus Yesus AS berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tiada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (Aali ‘Imraan: 64)

“Dan (ingatlah) ketika Isa (Yesus) Putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’ Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata’.” (Ash-Shaff: 6)

“Sesungguhnya al-Masih, Isa (Yesus) putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’; berhentilah (dari ucapan itu, maka Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisaa’: 171)

“dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya Kami telah membunuh al-Masih, Isa (Yesus) putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa (Yesus) bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa (Yesus) benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (Yesus); Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa (Yesus) kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 157-158)

Demikianlah seruan Islam kepada ummat Kristen agar menerima Islam sebagai agama penyempurna bagi agama mereka. Namun demikian, Islam adalah agama perdamaian, di mana tiada pemaksaan dan kekerasan untuk mengimani kebenaran agama ini, karena keselamatan iman dan tauhid telah begitu jelas dan kerugian kufur dan syirik juga sudah begitu nyata. Dan segala bentuk kekerasan yang nyatanya pernah terjadi atas nama Islam sebenarnya hanyalah disebabkan oleh kesalahan ummat Islam, dan bukan disebabkan oleh ajaran Islam itu sendiri. Islam adalah agama Allah SWT di akhir zaman yang telah disempurnakan dan tiada kesalahan di dalamnya; dia diturunkan untuk mengakhiri segala penyimpangan dalam agama-agama langit yang telah diturunkan sebelumnya, serta untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan agama-agama yang telah mereka ciptakan sendiri.

Maka semoga Allah SWT semakin menguatkan iman ummat Islam dengan menyadari kebenaran Islam di atas agama-agama lainnya. Dan semoga ummat agama-agama lain, terutama ummat agama Kristen, dapat lebih dekat mengenal Islam yang sebenarnya merupakan kabar gembira bagi mereka, yang akan menjadi sebab keselamatan bagi mereka di dunia ini dan akhirat kelak. Bagaimanapun juga, hakikat hidayah iman dan Islam hanyalah menjadi wewenang dan wilayah Allah SWT semata. Ummat Islam hanya diharuskan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada pemeluk agama lainnya sesuai kesanggupan masing-masing.

Sesungguhnya, setiap manusia akan pasti memiliki caranya masing-masing dalam menjalani hidup. Dan di dalam Islam, tiada pemaksaan dalam memilih jalan hidup selama itu bukan jalan yang melanggar aturan Allah SWT dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menilai hamba-Nya melalui status sosial mereka, materi mereka, ataupun yang lainnya. Sebagai petani atau sebagai Menteri Pertanian sekalipun akan bisa sama saja di mata Allah SWT, selama kedua profesi tersebut sama-sama dilaksanakan dengan baik demi meraih ridha-Nya. Justru akan bisa jadi profesi Menteri Pertanian akan lebih merugikan daripada profesi petani di hadapan Allah SWT jika tidak dilaksanakan dengan baik. Maka alangkah baiknya jika kita bekerja dan berbahagia dengan cara kita masing-masing dengan tetap berusaha mentaati aturan Allah SWT dan Rasul-Nya semampu kita, tanpa perlu merasa bahwa profesi kita adalah profesi yang paling penting di antara profesi-profesi lainnya, hingga kita pun tampak ingin memaksa orang lain untuk menjadi seperti diri kita. Karena bagaimanapun juga, satu tubuh manusia itu terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing akan pasti memiliki kelemahan dan kekurangan, yang mana karena itulah saling melengkapi satu sama lain di antara mereka akan sangat diperlukan. Maka cukuplah kita saling mendukung untuk menjadi diri masing-masing yang lebih baik, selama yang menjadi kecenderungan kita bukanlah kecenderungan yang diharamkan oleh agama Islam, niscaya dengan demikian kita pun akan bisa hidup bahagia dan bersyukur bersama-sama tanpa ada permusuhan. Demikianlah, dan hanya dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, kekuatan, hidayah dan taufiq.

Read More..